Nasional

Stok Pertalite Tinggal 16–18 Hari, Ekonom Peringatkan Risiko Krisis BBM 2027

Ringkasan Cepat

Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memperingatkan risiko gangguan pasokan BBM Indonesia yang berpotensi mencapai fase kritis pada 2027. Cadangan operasional Pertalite disebut hanya berada pada kisaran 16 hingga 18 hari, sementara ketergantungan impor masih tinggi. Harga minyak dunia diproyeksikan mencapai US$85 per barel pada 2027. CERI mendorong pembentukan cadangan energi strategis, sedangkan Morgan Stanley memperkirakan pasokan bahan bakar global tetap ketat

• 4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi antrean kendaraan di SPBU Pertamina terkait risiko krisis BBM Indonesia pada 2027 dan cadangan operasional Pertalite yang disebut tersisa 16 hingga 18 hari.

Ilustrasi antrean kendaraan di SPBU Pertamina terkait risiko krisis BBM Indonesia pada 2027 dan cadangan operasional Pertalite yang disebut tersisa 16 hingga 18 hari.

Emitenhub.com - Risiko gangguan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia diperkirakan berlanjut hingga 2027. Menipisnya cadangan operasional, ketergantungan impor, serta tekanan pasar energi global dinilai dapat memperburuk ketahanan pasokan nasional apabila tidak segera diantisipasi.

Ekonom Senior sekaligus Guru Besar Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memperingatkan bahwa 2027 berpotensi menjadi periode kritis bagi ketersediaan BBM Indonesia. Penilaian tersebut muncul setelah gangguan distribusi memicu kelangkaan dan antrean kendaraan di sejumlah wilayah, termasuk Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Perkiraan saya, situasi ini akan berlanjut hingga 2027. Bahkan, 2027 adalah saat yang sangat kritikal bagi kita,” ujar Wijayanto, Sabtu (24/10/2026).

Menurutnya, salah satu persoalan utama terletak pada terbatasnya cadangan operasional BBM. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dikemukakannya, stok Pertalite (RON 90) berada dalam kisaran 16 hingga 18 hari, lebih rendah dibandingkan tingkat aman ideal di atas 20 hari.

Kondisi tersebut membuat pasokan domestik semakin rentan ketika terjadi keterlambatan impor maupun hambatan distribusi. Terlebih, kapasitas kilang dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan BBM nasional.

Wijayanto menilai penyesuaian belanja kilang dan efisiensi fiskal yang membatasi ruang impor berpotensi mempersempit cadangan penyangga. Akibatnya, gangguan pasokan dari luar negeri dapat lebih cepat memengaruhi ketersediaan BBM di dalam negeri.

Harga Minyak Dunia Diprediksi Tekan Anggaran 2027

Selain persoalan stok, Wijayanto menyoroti potensi kenaikan biaya pengadaan minyak mentah pada tahun depan.

Ia memperkirakan harga minyak dunia pada 2027 dapat bertahan di sekitar US$85 per barel, melampaui asumsi harga minyak dalam APBN 2027 yang disebutnya berada di kisaran US$75 per barel.

Selisih tersebut dinilai berpotensi menambah tekanan fiskal pemerintah sekaligus membebani keuangan badan usaha milik negara yang mengelola pasokan BBM.

Dari sisi ketersediaan, persaingan memperoleh pasokan minyak di pasar internasional juga diperkirakan semakin ketat. Wijayanto menilai negara dengan kemampuan finansial lebih besar cenderung memprioritaskan pengamanan kebutuhan energinya sendiri di tengah ketidakpastian geopolitik.

Sementara itu, hambatan distribusi di dalam negeri turut memperbesar risiko kelangkaan. Kondisi cuaca ekstrem dan gangguan pengapalan antarpulau dapat menghambat pengiriman BBM menuju terminal penyimpanan hingga stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Menurut Wijayanto, keterlambatan armada tanker maupun gangguan jalur pelayaran dapat langsung memengaruhi pasokan ke sejumlah daerah karena sistem logistik BBM masih sensitif terhadap perubahan cuaca.

Ia menilai penguatan cadangan energi dan perbaikan tata kelola distribusi diperlukan untuk mengurangi kerentanan tersebut.

Indonesia Didorong Bangun Cadangan BBM Strategis

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman turut menyoroti besarnya ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.

Menurut Yusri, konsumsi BBM nasional telah mencapai sekitar 1,4 juta hingga 1,5 juta barel per hari. Sementara itu, kapasitas produksi kilang domestik hanya mampu memenuhi sekitar 700.000 hingga 800.000 barel per hari.

Dengan selisih tersebut, hampir separuh kebutuhan BBM nasional masih bergantung pada pasokan impor.

Yusri memperingatkan bahwa gangguan pengapalan atau keterlambatan kedatangan tanker dapat menimbulkan masalah distribusi yang meluas hingga tingkat SPBU.

Karena itu, ia meminta pemerintah dan PT Pertamina (Persero) tidak hanya mengandalkan penyesuaian distribusi jangka pendek untuk mengatasi gangguan pasokan.

Salah satu langkah yang didorong adalah percepatan pembentukan Strategic Petroleum Reserve (SPR) atau Cadangan Penyangga Energi (CPE) nasional yang dikelola terpisah dari stok operasional perusahaan.

Yusri menilai Indonesia perlu memiliki cadangan strategis untuk menghadapi gangguan pasokan dalam skala lebih besar. Ia merujuk pada praktik penyediaan cadangan energi di sejumlah negara yang mampu menopang kebutuhan selama 30 hingga 90 hari.

Tanpa cadangan strategis yang memadai, menurutnya, risiko kelangkaan BBM dapat kembali muncul setiap kali terjadi gangguan impor maupun distribusi.

Tekanan terhadap pasokan BBM juga diperkirakan terjadi di tingkat global.

Dalam riset yang diterbitkan Selasa (20/10/2026), Morgan Stanley memperkirakan pasar bahan bakar masih menghadapi kondisi ketat hingga pertengahan 2027, bahkan apabila gangguan akibat konflik geopolitik mulai mereda.

Analis Morgan Stanley, termasuk Martijn Rats dan Charlotte Firkins, menyoroti meningkatnya jadwal pemeliharaan kilang minyak dunia hingga kuartal II/2027.

Menurut riset tersebut, penghentian operasional kilang yang telah direncanakan diperkirakan meningkat sebesar 3,4 juta barel per hari, atau sekitar 2,5 kali tingkat normal.

Besaran tersebut bahkan melampaui gangguan operasional kilang yang terjadi di Timur Tengah dan Rusia.

Pengetatan pasokan bahan bakar global berlangsung di tengah konflik berkepanjangan di Timur Tengah serta serangan terhadap infrastruktur energi antara Rusia dan Ukraina.

Dampaknya turut terlihat pada pasar diesel, yang mengalami tekanan harga lebih besar dibandingkan minyak mentah akibat berkurangnya pasokan ekspor.

Morgan Stanley mencatat sejumlah operator kilang sebelumnya menunda pemeliharaan untuk memanfaatkan tingginya margin pengolahan. Namun, pekerjaan tersebut tidak dapat terus ditangguhkan.

Akibatnya, kuartal II/2027 diperkirakan menjadi periode dengan aktivitas pemeliharaan kilang yang tinggi, sehingga pemulihan kapasitas pengolahan minyak global berpotensi tetap terbatas.

Iklan