Market

Harga Batu Bara 2027 Diprediksi US$140, IMEF Usul Kuota Produksi 700 Juta Ton

Ringkasan Cepat

Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) mengusulkan kuota produksi batu bara nasional dalam RKAB 2027 sebesar 700 juta metrik ton. Dengan volume tersebut, harga batu bara acuan diproyeksikan mencapai US$135 hingga US$140 per ton. Usulan ini muncul ketika ekspor batu bara Indonesia ke China pada September 2026 turun 32,97 persen secara tahunan, sementara total ekspor melalui jalur laut sepanjang Januari hingga September 2026 melemah 6,16 persen. IMEF juga berharap penerbitan RKAB 2027 dapat dis

• 4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi aktivitas pertambangan batu bara Indonesia terkait usulan IMEF untuk membatasi produksi 2027 menjadi 700 juta ton dan proyeksi HBA US$135 hingga US$140 per ton.

Ilustrasi aktivitas pertambangan batu bara Indonesia terkait usulan IMEF untuk membatasi produksi 2027 menjadi 700 juta ton dan proyeksi HBA US$135 hingga US$140 per ton. (Foto:AADI)

Emitenhub.com - Usulan pembatasan produksi batu bara nasional pada 2027 dinilai dapat menjaga keseimbangan pasokan domestik dan harga jual di pasar internasional. Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) menyarankan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2027 ditetapkan sekitar 700 juta metrik ton.

Ketua Umum IMEF Singgih Widagdo memperkirakan produksi pada level tersebut dapat mendorong harga batu bara acuan (HBA) berada dalam kisaran US$135 hingga US$140 per ton pada 2027. Sementara itu, harga batu bara kalori rendah yang mengacu pada Indonesian Coal Index (ICI) 4 diproyeksikan mencapai sekitar US$75 per ton.

Menurut Singgih, kisaran harga tersebut dinilai cukup menguntungkan bagi produsen tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap negara importir.

"Menjaga harga di level US$130—US$140/ton sudah cukup baik bagi Indonesia," ujar Singgih, Sabtu (24/10/2026).

Meski demikian, IMEF mengingatkan pemerintah agar tidak memangkas produksi secara berlebihan. Kenaikan harga batu bara yang terlalu tinggi justru berpotensi mendorong negara importir utama, seperti China dan India, mengurangi pembelian dari luar negeri serta meningkatkan produksi domestik.

Singgih juga memperkirakan volume perdagangan batu bara global akan menurun pada 2027. Sejumlah negara eksportir, termasuk Australia, Rusia, dan Kolombia, diperkirakan mengurangi pengiriman ke pasar Eropa.

RKAB 2027 Diharapkan Rampung Sebelum Akhir Tahun

Selain besaran kuota, IMEF menyoroti pentingnya ketepatan waktu penerbitan RKAB agar kegiatan produksi perusahaan pertambangan tidak terkendala proses administrasi.

Singgih berharap evaluasi dan persetujuan RKAB 2027 dapat diselesaikan pada akhir November atau awal Desember 2026.

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya melaporkan bahwa sekitar 95 persen pengajuan RKAB batu bara 2026 telah disetujui.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno menyampaikan perkembangan tersebut pada Selasa (29/9/2026), tetapi tidak merinci total volume produksi yang telah memperoleh persetujuan.

Untuk keseluruhan 2026, Tri memperkirakan produksi batu bara nasional mencapai sekitar 720 juta metrik ton, setara rata-rata 60 juta metrik ton per bulan.

Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan kuota produksi dalam RKAB 2026 yang sempat disebut Kementerian ESDM pada awal tahun, yakni sekitar 600 juta metrik ton.

Dengan demikian, usulan IMEF sebesar 700 juta metrik ton untuk 2027 berada di bawah proyeksi produksi nasional tahun ini.

Ekspor Batu Bara ke China Turun 32,97 Persen

Usulan pengaturan produksi muncul ketika permintaan batu bara Indonesia dari sejumlah negara tujuan ekspor mengalami pelemahan.

Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler yang dihimpun SX Coal, ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut pada September 2026 mencapai 36,45 juta metrik ton.

Volume tersebut meningkat tipis 0,52 persen dibandingkan Agustus 2026, tetapi turun 18,11 persen secara tahunan.

China masih menjadi pasar ekspor terbesar dengan volume pengiriman sebanyak 12,42 juta metrik ton pada September 2026. Meski demikian, pengiriman ke negara tersebut turun 15,48 persen secara bulanan dan 32,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan permintaan dari China menjadi salah satu faktor yang membebani kinerja ekspor batu bara Indonesia.

Sebaliknya, pengiriman ke India dan Filipina menunjukkan pemulihan secara bulanan.

India menempati posisi kedua sebagai negara tujuan ekspor dengan volume 8,53 juta metrik ton pada September 2026. Angka tersebut naik 22,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi masih turun 3,63 persen secara tahunan.

Ekspor ke Filipina mencapai 3,37 juta metrik ton, meningkat 9,02 persen secara bulanan dan 6,97 persen secara tahunan.

Sementara itu, pengiriman ke Malaysia tercatat sebesar 1,87 juta metrik ton, turun 10,69 persen dibandingkan Agustus 2026 dan melemah 26,02 persen secara tahunan.

Vietnam menerima ekspor batu bara Indonesia sebanyak 1,86 juta metrik ton pada September 2026. Volume tersebut turun 8,37 persen secara bulanan, tetapi masih tumbuh 4,77 persen dibandingkan September 2025.

Secara kumulatif, ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 338 juta metrik ton, turun 6,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, ekspor ke China mencapai 129 juta metrik ton atau berkurang 6,38 persen secara tahunan.

Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan pengiriman ke sejumlah negara pada September belum mampu mengimbangi pelemahan ekspor secara keseluruhan.

Harga Batu Bara Acuan Oktober 2026

Di tengah penurunan ekspor, harga batu bara acuan Indonesia pada periode pertama Oktober 2026 menunjukkan pergerakan berbeda berdasarkan kualitas kalorinya.

Untuk batu bara dengan nilai kalor 6.322 kcal/kg, HBA ditetapkan sebesar US$122,52 per ton, turun 0,83 persen dibandingkan periode kedua September 2026.

HBA batu bara berkalori 5.300 kcal/kg juga melemah 3,56 persen menjadi US$90,60 per ton.

Sementara itu, harga acuan batu bara dengan nilai kalor 4.100 kcal/kg justru meningkat 0,44 persen menjadi US$63,45 per ton.

Adapun HBA untuk batu bara berkalori 3.400 kcal/kg turun 1,55 persen menjadi US$43,84 per ton.

Dengan kondisi pasar tersebut, IMEF menilai penetapan kuota RKAB 2027 perlu mempertimbangkan kebutuhan dalam negeri, prospek permintaan ekspor, dan tingkat harga yang tetap mendukung kegiatan usaha produsen batu bara.

Iklan