Emitenhub.com - Harga minyak mentah Indonesia mengalami kenaikan tajam pada September 2026 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah. Pemerintah menetapkan rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$112,81 per barel, naik US$23,38 dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat US$89,43 per barel.
Kenaikan tersebut menjadi perhatian pemerintah karena harga minyak mentah berpengaruh terhadap penerimaan negara dari sektor hulu migas dan asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Penetapan ICP September tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan September 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa lonjakan ICP dipengaruhi ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan minyak global.
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor utama. Eskalasi konflik militer serta kebuntuan diplomasi meningkatkan risiko keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis perdagangan minyak dunia.
Menurut Laode, volume ekspor minyak mentah melalui jalur tersebut sempat turun hingga 28% dibandingkan Juli 2026.
Gangguan pasokan juga dipengaruhi serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah. Salah satunya adalah penutupan sementara Pipa East-West Arab Saudi yang memiliki kapasitas 7 juta barel per hari.
Penutupan tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan setelah adanya serangan drone terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut.
Tekanan pasokan semakin besar akibat penundaan kuota produksi OPEC+ serta serangan terhadap fasilitas pengolahan dan terminal ekspor minyak di Rusia maupun kawasan Laut Merah.
Harga Brent, WTI, dan Minyak OPEC Ikut Melonjak
Kenaikan ICP berlangsung bersamaan dengan penguatan sejumlah harga minyak mentah acuan internasional sepanjang September 2026.
Harga minyak Brent di bursa ICE meningkat US$13,94 menjadi US$102,02 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) di Nymex naik US$13,24 menjadi US$95,69 per barel.
Penguatan lebih besar terjadi pada Dated Brent yang melonjak US$25,93 menjadi US$116,77 per barel.
Harga minyak dalam keranjang OPEC atau OPEC Basket juga meningkat US$24,29 menjadi US$110,73 per barel.
Kenaikan pada seluruh acuan tersebut menunjukkan tekanan pasokan tidak hanya terjadi pada satu jenis minyak mentah. Gangguan distribusi dan ketidakpastian keamanan energi turut memengaruhi pembentukan harga di pasar internasional.
ICP Oktober 2026 Diproyeksikan Turun ke US$98-US$103
Meski harga minyak mentah masih berada pada level tinggi, pemerintah memperkirakan ICP mulai mengalami penurunan pada Oktober 2026.
Proyeksi harga minyak mentah Indonesia untuk Oktober berada dalam kisaran US$98 hingga US$103 per barel. Rentang tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi rata-rata September sebesar US$112,81 per barel.
Namun, proyeksi tersebut tetap bergantung pada perkembangan pasokan dan kondisi geopolitik yang memengaruhi pasar minyak dunia.
Laode menyatakan pemerintah bersama pihak terkait terus memantau pergerakan harga minyak internasional sebagai dasar pengambilan kebijakan untuk menjaga ketahanan energi nasional.
"Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," ujar Laode.
ICP memiliki peran dalam penghitungan penerimaan negara dari kegiatan usaha hulu migas sekaligus menjadi salah satu acuan penyusunan asumsi makro APBN.
Dengan harga minyak yang masih dipengaruhi risiko gangguan pasokan, perkembangan konflik Timur Tengah dan kebijakan produksi OPEC+ tetap menjadi faktor penting dalam pergerakan ICP pada periode berikutnya.


