Market

OPEC+ Tahan Kuota Produksi Minyak Desember 2026, Harga Brent Sentuh US$118

Ringkasan Cepat

OPEC+ mempertahankan target produksi minyak pada Desember 2026 di tengah konflik Timur Tengah yang membatasi pasokan sejumlah negara anggota. Harga minyak Brent sempat mencapai US$118 per barel seiring kekhawatiran eskalasi konflik. Meski pengiriman melalui Selat Hormuz mulai pulih, produksi aktual belum sepenuhnya mengikuti kuota. OPEC+ akan membahas kebijakan produksi 2027 dalam pertemuan tingkat menteri pada 29 November, dengan mempertimbangkan audit kapasitas produksi.

• 3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi produksi minyak OPEC+ yang mempertahankan kuota Desember 2026 di tengah konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak Brent hingga US$118 per barel.

Ilustrasi produksi minyak OPEC+ yang mempertahankan kuota Desember 2026 di tengah konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak Brent hingga US$118 per barel.

Emitenhub.com - Kelompok negara produsen minyak OPEC+ memutuskan mempertahankan target produksi minyak untuk Desember 2026 di tengah konflik Timur Tengah yang masih mengganggu pasokan energi global. Keputusan tersebut diambil ketika harga minyak Brent mendekati US$118 per barel akibat kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik.

Berdasarkan hasil pertemuan virtual pada Minggu (1/11/2026), tujuh negara utama OPEC+ sepakat mempertahankan target produksi Desember pada tingkat yang sama seperti September hingga November 2026.

Ketujuh negara tersebut terdiri atas Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman.

Keputusan ini melanjutkan kebijakan OPEC+ yang sebelumnya menahan penambahan target produksi pada Oktober dan November, setelah secara bertahap meningkatkan kuota sepanjang sebagian besar 2026.

Meski target produksi dipertahankan, realisasi produksi sejumlah negara anggota masih berada di bawah kuota akibat gangguan operasional dan distribusi minyak yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Sejumlah produsen kawasan Teluk telah meningkatkan ekspor setelah mengalami gangguan pengiriman selama beberapa bulan. Namun, pemulihan pasokan belum sepenuhnya mengembalikan produksi ke tingkat yang ditetapkan.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$118 per barel pada perdagangan Jumat (30/10/2026), sebelum ditutup di kisaran US$117,64 per barel.

Kenaikan harga tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan gangguan pasokan lebih lanjut, termasuk risiko eskalasi konflik Iran menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat.

OPEC+ Siapkan Keputusan Kuota Produksi Minyak 2027

Sebelum memutuskan mempertahankan target Desember, tujuh anggota utama OPEC+ telah menyelesaikan pengembalian bertahap pemangkasan produksi sukarela sebesar 1,65 juta barel per hari pada September 2026.

Pemangkasan tersebut sebelumnya diberlakukan pada 2023 dan secara bertahap dikurangi melalui penyesuaian target produksi sepanjang tahun ini.

Namun, OPEC+ masih mempertahankan lapisan pemangkasan produksi lainnya sebesar sekitar 2 juta barel per hari yang disepakati pada 2022. Kebijakan tersebut masih berlaku hingga akhir 2026.

Keputusan mengenai kemungkinan pengembalian produksi tersebut akan menjadi salah satu agenda penting dalam penyusunan kebijakan tahun depan.

OPEC+ dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat menteri pada 29 November 2026 untuk membahas kerangka produksi dan penetapan kuota pada 2027.

Sebelum keputusan tersebut diambil, kelompok produsen minyak itu perlu menyelesaikan evaluasi kapasitas produksi negara-negara anggotanya.

Evaluasi tersebut diperlukan untuk menentukan tingkat produksi acuan yang akan digunakan dalam pembagian kuota mendatang.

Namun, proses penilaian kapasitas menghadapi tantangan karena konflik Timur Tengah turut mengganggu sejumlah proyek pengembangan produksi minyak.

Di sisi lain, pemulihan pengiriman melalui Selat Hormuz juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam menentukan keseimbangan pasokan global pada 2027.

Apabila distribusi minyak dari kawasan Teluk kembali normal, tambahan pasokan berpotensi meningkatkan risiko kelebihan pasokan di pasar dunia.

Sebaliknya, gangguan yang berkepanjangan dapat mempertahankan tekanan terhadap pasokan dan harga minyak.

Dengan demikian, meskipun target produksi Desember tidak berubah, arah kebijakan OPEC+ pada 2027 masih bergantung pada perkembangan konflik, kapasitas produksi aktual, serta pemulihan jalur perdagangan minyak global.

Iklan