Market

Harga Gas Eropa Naik 1,6% ke EUR89,52, Pasokan LNG Masih Tertekan

Ringkasan Cepat

Harga gas alam Eropa naik 1,6% menjadi EUR89,52 per MWh setelah tiga sesi melemah lebih dari 15%. Ketidakpastian pasokan LNG akibat konflik Iran dan gangguan pelayaran Selat Hormuz masih membayangi pasar. Cadangan gas Uni Eropa berada di 74%, di bawah rata-rata musiman 90%, sementara analis memperkirakan volatilitas harga berlanjut.

• 4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Harga gas alam Eropa naik 1,6 persen menjadi EUR89,52 per MWh di tengah gangguan pasokan LNG melalui Selat Hormuz dan rendahnya cadangan gas Uni Eropa.

Harga gas alam Eropa naik 1,6 persen menjadi EUR89,52 per MWh di tengah gangguan pasokan LNG melalui Selat Hormuz dan rendahnya cadangan gas Uni Eropa. (Foto:RATU)

Emitenhub.com - Harga gas alam Eropa kembali menguat pada perdagangan Kamis (5/11/2026) setelah sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari dua pekan. Kenaikan terjadi ketika pelaku pasar mencermati perkembangan politik Amerika Serikat (AS) dan peluang penyelesaian perang dengan Iran, sementara pasokan gas global masih menghadapi tekanan.

Kontrak berjangka gas Belanda atau Dutch Title Transfer Facility (TTF), yang menjadi acuan harga gas Eropa, naik 1,6 persen menjadi EUR89,52 per megawatt-hour (MWh) pada pukul 13.14 waktu Amsterdam.

Penguatan tersebut mengikuti pergerakan harga minyak setelah kontrak gas acuan sebelumnya melemah selama tiga sesi berturut-turut dengan akumulasi penurunan lebih dari 15 persen.

Perubahan sentimen pasar dipengaruhi hasil pemilu sela AS yang dimenangkan Partai Demokrat di kedua kamar Kongres. Hasil tersebut meningkatkan harapan sebagian pelaku pasar bahwa tekanan politik domestik dapat mendorong pemerintahan Presiden Donald Trump mencari penyelesaian konflik dengan Iran.

Meski demikian, belum terdapat kemajuan nyata menuju berakhirnya perang. Gangguan pengiriman energi melalui kawasan Teluk Persia, khususnya Selat Hormuz, masih menjadi perhatian utama pasar.

Analis ING Groep NV, Warren Patterson dan Ewa Manthey, menilai kemenangan Partai Demokrat telah memengaruhi ekspektasi pasar energi terhadap perkembangan konflik.

Menurut keduanya, perubahan dinamika politik AS memunculkan harapan percepatan penyelesaian perang. Namun, fundamental pasar gas Eropa tetap berada dalam kondisi ketat karena terganggunya pasokan LNG global.

Konflik di kawasan Iran telah menyebabkan hilangnya hampir seperlima ekspor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) global dari pasar. Gangguan tersebut meningkatkan tekanan terhadap negara-negara pengimpor, terutama menjelang musim dingin di Eropa.

Harga gas di pasar Eropa dan Asia sebelumnya bahkan sempat mencapai level tertinggi sejak 2022, dengan kenaikan lebih dari tiga kali lipat dibandingkan posisi awal tahun.

Cadangan Gas Eropa Turun, Risiko Pasokan Masih Tinggi

Di tengah ketidakpastian geopolitik, kondisi persediaan gas Eropa masih menjadi faktor yang membatasi potensi penurunan harga lebih lanjut.

Tingkat keterisian fasilitas penyimpanan gas di seluruh Uni Eropa tercatat sekitar 74 persen, jauh di bawah rata-rata musiman lima tahun sebesar 90 persen.

Situasi lebih ketat terjadi di Jerman, ekonomi terbesar Eropa, dengan tingkat cadangan gas berada di bawah 61 persen.

Penurunan suhu pada pekan ini telah mendorong pelaku pasar mulai menarik gas dari fasilitas penyimpanan. Pada saat yang sama, produksi listrik dari tenaga angin dan surya mengalami penurunan sehingga meningkatkan kebutuhan sumber energi alternatif.

Dari sisi pasokan, pengiriman gas melalui jaringan pipa Norwegia masih berada di bawah kapasitas akibat sejumlah gangguan operasional yang tidak terduga.

Persaingan memperoleh pasokan LNG juga berpotensi meningkat karena pembeli dari Asia Selatan dan Asia Tenggara diperkirakan kembali aktif melakukan pembelian di pasar spot setelah koreksi harga dalam beberapa waktu terakhir.

Sementara itu, risiko gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz belum mereda. Iran melaporkan sebuah kapal tanker terkena ranjau di kawasan perairan tersebut pada Kamis pagi.

Iran juga disebut tengah membahas kerja sama dengan Oman untuk memulihkan aktivitas pelayaran. Namun, waktu normalisasi arus pengiriman energi melalui jalur tersebut masih belum dapat dipastikan.

Analis Perkirakan Harga Gas Tetap Volatil

EnergyScan, unit analisis pasar energi milik Engie SA, menilai kondisi fundamental pasar gas spot belum menunjukkan pelemahan yang cukup untuk mendukung tren penurunan harga secara berkelanjutan.

Menurut EnergyScan, tekanan jual dalam beberapa sesi terakhir kemungkinan diperbesar oleh aktivitas dana investasi dan pelaku spekulatif.

Dana investasi sebelumnya tercatat mengurangi posisi beli bersih (net long) pada kontrak gas Eropa. Aksi pengurangan posisi tersebut diperkirakan berlanjut sepanjang pekan ini.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan harga tidak sepenuhnya mencerminkan perbaikan keseimbangan pasokan dan permintaan gas secara fisik.

Di sisi lain, ICIS memperkirakan volatilitas harga gas Eropa masih akan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang.

Dalam skenario dasarnya, ICIS memperkirakan penyelesaian gangguan dan pemulihan aliran gas melalui Selat Hormuz baru mulai terjadi pada akhir kuartal pertama 2027.

Dengan cadangan gas yang masih rendah dan ketidakpastian pasokan LNG dari Timur Tengah, pergerakan harga gas Eropa akan tetap dipengaruhi perkembangan konflik Iran, kondisi cuaca musim dingin, serta persaingan permintaan LNG antara Eropa dan Asia.

Iklan