Saham

MEDC Bersiap Panen Cuan, Harga Minyak Memanas dan Produksi Melesat 19%

Ringkasan Cepat

Peluang saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) untuk terus menguat kian terbuka seiring harga minyak dunia yang menyentuh level tertinggi enam pekan, dengan Brent di US$97,73 per barel akibat gangguan Selat Hormuz dan pasokan Rusia. Perseroan membukukan produksi migas 170,1 MBoepd pada semester I/2026 yang melesat 19% dan mencapai batas atas target, sehingga manajemen optimistis kinerja keuangan paruh pertama akan jauh lebih baik, ditopang bauran harga yang berfungsi sebagai natural hedg

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi prospek Medco Energi yang cerah seiring harga minyak dunia memanas dan produksi migas yang melesat

Ilustrasi prospek Medco Energi yang cerah seiring harga minyak dunia memanas dan produksi migas yang melesat (Freepik)

Emitenhub.com - Peluang saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) untuk terus menguat kian terbuka, sejalan dengan harga minyak yang terus memanas serta kinerja keuangan paruh pertama tahun ini yang diyakini jauh lebih baik dibandingkan periode sama tahun lalu.

Pada periode berjalan tahun (year to date/YtD) 2026, saham MEDC yang hingga pukul 11.59 WIB perdagangan hari ini, Rabu (9/9/2026), berada di level Rp1.535 per lembar, tercatat naik 5,86% meski dalam enam bulan terakhir masih terkoreksi 9,17%.

Di sisi lain, harga minyak dunia masih berada dalam tren penguatan seiring berlanjutnya gangguan jalur perdagangan di Selat Hormuz dan tersendatnya pasokan energi Rusia.

Pada penutupan perdagangan Senin (7/9/2026) waktu Amerika Serikat, harga minyak dunia bahkan naik ke level tertinggi dalam enam pekan. Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 1,5% menjadi US$97,73 per barel dan sempat menyentuh US$97,93 per barel, level tertinggi sejak 23 Juli 2026.

Tidak jauh berbeda, West Texas Intermediate (WTI) naik 1,8% menjadi US$93,10. Harga ini juga merupakan level tertinggi sejak akhir Juli 2026.

"Melihat produksi semester pertama yang lebih tinggi, harga minyak yang membaik di kuartal kedua, serta disiplin biaya yang tetap terjaga, kami cukup percaya diri bahwa hasil keuangan semester pertama akan jauh lebih baik," kata Direktur & Chief Financial Officer MEDC Benny Setiawan dalam Public Expose yang digelar Rabu (9/9/2026).

Sebagai gambaran, Medco Energi mencatat volume produksi minyak dan gas (migas) sebesar 170,1 thousand barrels of oil equivalent per day (MBoepd) pada semester I/2026, sesuai dengan panduan kinerja atau guidance yang dipatok untuk 2026.

Hingga akhir tahun ini, Benny mengungkapkan perseroan belum akan mengubah panduan kinerja operasional meski volume produksi semester I/2026 telah mencapai batas atas target perseroan untuk 2026.

Emiten migas afiliasi keluarga Panigoro itu mempertahankan panduan 2026 untuk produksi minyak dan gas sebesar 165-170 MBoepd dan belanja modal (capital expenditure/capex) migas sebesar US$415 juta. "Untuk produksi ini merupakan target rata-rata untuk setahun penuh, sehingga kami juga mempertimbangkan jadwal pemeliharaan atau profil alam produksi lapangan," ujar Benny.

Berdasarkan data Medco sepanjang Januari-Juni 2026, produksi migas MEDC mencapai 170,1 MBoepd, melesat 19% secara tahunan (year on year/YoY). Level produksi itu berada pada rentang target produksi perseroan 2026 sebesar 165-170 MBoepd.

Benny menjelaskan kegiatan ekstraksi seperti pengeboran migas pada dasarnya memiliki siklus decline atau penurunan produksi harian untuk setiap lapangan, sehingga MEDC tetap perlu melakukan maintenance, drilling, serta tindakan untuk mengantisipasi faktor di luar kontrol seperti cuaca.

"Dengan mempertimbangkan semua itu kami harus mempertahankan guidance kami. Tentunya kami akan memantau perkembangan produksi dan apabila terdapat perubahan yang material terhadap panduan tentu kami akan sampaikan kepada publik," ujarnya.

Sebagai catatan, hingga saat ini MEDC belum merilis laporan kinerja keuangan semester I/2026. Namun, pada kuartal I/2026, Medco Energi berhasil membukukan pendapatan sebesar US$668,3 juta, meningkat 19,2% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. EBITDA juga meningkat 5,7% menjadi US$351,1 juta, sementara laba bersih melonjak 282,3% menjadi US$67,4 juta.

Di bisnis ketenagalistrikan, Medco Power mencatat penjualan listrik sebesar 2.323 GWh pada semester pertama 2026, meningkat 16,5% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dan sejalan dengan panduan 2026 sebesar 4.550 GWh. Sementara itu, porsi kapasitas terpasang energi terbarukan mencapai 26%, tetap berada pada kisaran target jangka panjang perusahaan.

Hingga kini, Medco Energi mempertahankan momentum pertumbuhan melalui disiplin operasional atas eksekusi proyek-proyek utama yang mendukung produksi saat ini sekaligus memperkuat basis pertumbuhan masa depan.

Senoro Phase 2A telah beroperasi penuh pada Juni 2026, Bualuang Renewal Plan Phase I mulai berproduksi pada kuartal kedua 2026, sementara pengembangan Sakakemang terus berjalan menuju produksi gas pertama yang ditargetkan pada kuartal III/2027.

Terkait kondisi pasar migas global, Amri menjelaskan bauran harga produksi di MEDC cukup seimbang, dengan sekitar 55% mengikuti harga pasar, sementara 45% dijual di harga tetap melalui perjanjian kontrak, terutama kontrak penjualan di pasar domestik.

Komposisi tersebut, menurutnya, menjadi natural hedging sehingga MEDC bisa menghadapi gejolak harga pasar dengan baik dan seimbang. Selain itu, untuk production sharing contract (PSC) dengan skema cost recovery, khususnya di pasar domestik, menurutnya juga memberikan pemulihan atas biaya operasi sebelum bagi hasil.

Sederhananya, PSC merupakan kontrak antara pemerintah dan perusahaan migas untuk mengelola suatu blok migas. Dalam skema cost recovery, perusahaan diperbolehkan mengembalikan biaya yang telah dikeluarkan untuk operasi migas terlebih dahulu, sebelum keuntungan atau hasil produksinya dibagi antara perusahaan dan pemerintah.

Kombinasi harga minyak yang menyentuh level tertinggi enam pekan, produksi migas yang melesat 19% ke batas atas target, serta disiplin biaya menempatkan MEDC pada posisi yang menjanjikan menjelang rilis kinerja semester I/2026. Bauran harga yang berfungsi sebagai natural hedging memberi bantalan terhadap gejolak pasar, sementara proyek seperti Senoro Phase 2A dan Sakakemang menjaga prospek pertumbuhan jangka menengah. Ke depan, arah kinerja perseroan akan bergantung pada keberlanjutan penguatan harga minyak serta konsistensi eksekusi proyek di tengah dinamika geopolitik yang masih membayangi pasokan energi global.

Iklan