Emitenhub.com - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN menargetkan besaran dividen atau dividend payout ratio sekitar 20% untuk tahun buku 2026. Target tersebut tercantum dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) perseroan, meski keputusan pembagian dividen nantinya tetap bergantung pada pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
"Kalau lihat RBB kami, memang target dividend payout kami sekitar 20 persen. Itu yang ada di RBB-nya BTN. Tapi ini sekali lagi bergantung pada pemegang saham, terutama nanti pada saat RUPS," kata Direktur Utama BTN (BBTN) Nixon L.P. Napitupulu dalam Pubex Live 2026, Kamis (10/9/2026).
"Berapa besaran dividen? Sampai hari ini kami belum merencanakan adanya dividend payout. Dan memang kalau kami lihat sampai lima tahun ke belakang, BTN belum pernah membayarkan dividen interim. Sampai hari ini kami belum merencanakan adanya dividen interim," lanjutnya.
Target payout tersebut berada di tengah kinerja laba BTN yang tumbuh signifikan pada semester I/2026. Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp2,4 triliun atau tumbuh 40,8% secara tahunan.
Pertumbuhan laba tersebut antara lain ditopang penurunan beban bunga. Interest expense BTN turun 15,7% secara tahunan, seiring langkah perseroan memonitor biaya dana secara rutin, terutama untuk produk dana pihak ketiga (DPK) berbiaya mahal.
Sementara itu, pendapatan non-bunga BTN mencapai Rp1,8 triliun, yang ditopang peningkatan fee based income dari transaksi berbasis kredit. Cost of credit juga tercatat 0,7% pada semester I/2026, seiring langkah perseroan yang lebih selektif dalam mengalokasikan biaya kredit serta perbaikan kualitas kredit.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross BTN turun menjadi 2,99% pada Juni 2026, dari 3,3% pada periode sama tahun sebelumnya.
Di sisi penyaluran kredit, BTN mencatat pertumbuhan 11,2% secara tahunan menjadi Rp418 triliun hingga Juni 2026. Pertumbuhan tersebut berada di atas guidance perseroan untuk 2026 yang berada di kisaran 8%-10%.
Meski realisasi sementara berada di atas target, manajemen memastikan tidak akan merevisi guidance pertumbuhan kredit tahun ini. Nixon menyampaikan pertumbuhan yang lebih tinggi terutama dipengaruhi akuisisi portofolio kredit dari SMBC Indonesia.
"Jadi kami tidak revisi. Ini masih sama dengan RBB awal. Tapi memang realisasinya melebihi dari rencana, terutama sekali adanya akuisisi portofolio SMBC," ujar Nixon.
Menurutnya, BTN akan mengembalikan pertumbuhan kredit sesuai rencana awal sebesar 8%-10%. Bahkan, apabila pertumbuhan kredit berada di atas kisaran tersebut, Nixon memperkirakan angkanya hanya sekitar 10,1%-10,2%.
"Sehingga memang kami sekarang menyalurkan kreditnya memang lebih selektif, terutama di beberapa segmen perkreditan," katanya.
BTN juga mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 6,6% secara tahunan menjadi Rp433 triliun pada Juni 2026. Perseroan terus berupaya memperbaiki struktur pendanaan dengan meningkatkan dana murah dan mengurangi dana berbiaya mahal.
Sepanjang semester I/2026, dana murah BTN meningkat Rp12 triliun atau tumbuh 9,1% secara tahunan. Di sisi lain, dana berbiaya mahal turun Rp3 triliun.
Adapun cost of deposit BTN pada Juni 2026 tercatat 3,01%, naik 3 basis poin dibandingkan Mei 2026. Perseroan menyebut kenaikan tersebut terjadi di tengah kenaikan BI Rate hingga 5,75%.
Untuk 2026, BTN mempertahankan guidance pertumbuhan kredit di kisaran 8%-10%, pertumbuhan DPK 7%-9%, cost of credit 1%-1,2%, serta NPL gross di bawah 3%.
Dengan kinerja laba yang tumbuh 40,8% pada semester I/2026, keputusan mengenai besaran dividen final tetap akan ditentukan melalui RUPS. Perseroan hingga kini juga belum memiliki rencana untuk membayarkan dividen interim.
BTN memasuki paruh kedua 2026 dengan laba yang tumbuh 40,8%, kualitas aset yang membaik, dan penyaluran kredit yang melampaui target berkat akuisisi portofolio SMBC. Meski begitu, manajemen memilih tetap konservatif dengan mempertahankan guidance dan target dividend payout ratio sekitar 20%, sembari menegaskan besaran dividen final berada di tangan pemegang saham lewat RUPS. Konsistensi perseroan menjaga biaya dana dan selektivitas penyaluran kredit akan menjadi penentu apakah momentum kinerja ini bertahan hingga akhir tahun.


