Emitenhub.com - Pasar surat utang negara (SUN) membuka pekan ini dengan pergerakan yield yang beragam. Tidak semua tenor tertekan jual, tapi kenaikan yield di sejumlah tenor kunci menandakan investor masih berhati-hati di tengah ketidakpastian global.
Mengacu data Bloomberg, tenor pendek 1 tahun turun 1 basis poin (bps) ke 6,71 persen, sementara tenor 2 tahun justru naik 3,1 bps ke 6,82 persen. Yield tenor 3 tahun turun tipis 0,2 bps ke 6,92 persen, dan tenor 4 tahun melandai 0,2 bps ke 7,02 persen.
Tekanan justru mengumpul di tenor menengah, mendekati acuan. Yield 5 tahun naik 2,1 bps ke 7,07 persen. Tenor 8 dan 9 tahun masing-masing naik 1,2 bps ke 7,17 persen dan 7,18 persen. Tenor acuan 10 tahun ikut terkerek 1,6 bps ke 7,18 persen, sedangkan tenor 11 tahun mencatat lonjakan paling tajam, 8,9 bps, ke 7,18 persen.
Sebaliknya, sebagian tenor panjang masih mencatat penurunan yield. Tenor 13 tahun turun 3,1 bps ke 7,21 persen, tenor 20 tahun turun 2,8 bps ke 7,17 persen, dan tenor 30 tahun melandai 0,7 bps ke 7,27 persen.
Pergerakan ini dipicu kondisi pasar obligasi global, khususnya kenaikan yield US Treasury. Yield UST tenor 10 tahun kembali naik 0,9 bps ke [ANGKA PERLU DIKONFIRMASI, input tertulis 5,25 persen yang kemungkinan besar typo].
Namun kenaikan yield UST perlu dibaca sebagai sumber tekanan eksternal, bukan satu-satunya penggerak yield domestik. Persoalannya, fundamental domestik saat ini belum cukup kuat menahan tekanan itu. Hal tersebut tergambar dari surplus perdagangan yang pekan lalu menjadi sorotan pelaku pasar, karena bertopang pada turunnya impor, bukan naiknya ekspor.
Surplus memang tercatat US$7,25 miliar secara kumulatif sepanjang Januari sampai Agustus. Tapi posisi itu menyusut tajam dari periode sama tahun lalu yang mencapai US$29,35 miliar, menandakan kinerja neraca dagang secara keseluruhan sedang menurun.
Dari sisi eksternal, ada sedikit penawar. Data ketenagakerjaan AS yang melemah, dengan tingkat pengangguran naik ke 4,2 persen dari 4,1 persen, meredam sebagian sentimen hawkish The Fed, meski belum sepenuhnya. Pelaku pasar akan mencermati nada The Fed lewat risalah FOMC yang rilis pekan ini.
Mengacu CME FedWatch, suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) diperkirakan bertahan di kisaran 3,75 sampai 4 persen pada pertemuan FOMC berikutnya, dengan probabilitas 82,3 persen. Sisanya, 17,7 persen, memperkirakan The Fed [ARAH PERLU DIKONFIRMASI: input tertulis "mengerek", tapi konteks mengarah ke "memangkas"] FFR pada pertemuan Oktober.


