Emitenhub.com - Kenaikan harga minyak dunia ke level di atas US$100 per barel dalam sepekan terakhir menekan industri petrokimia nasional. Kondisi ini diproyeksikan mendorong harga bahan baku utama, yakni nafta, bertahan di level tinggi hingga awal tahun depan, sehingga membebani ongkos produksi.
Hingga Jumat (18/9/2026), harga minyak mentah Brent mencapai US$103 per barel, bahkan sempat menembus US$107,2 per barel pada awal pekan lalu. Lonjakan ini tidak lepas dari kondisi geopolitik di Timur Tengah.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menyampaikan kenaikan harga minyak kali ini terjadi ketika secara musiman harga minyak seharusnya mulai menurun. Namun, kondisi geopolitik dan peningkatan permintaan transportasi justru membuat harga bertahan tinggi.
"Kalau minyak di atas US$100, naftanya sendiri sekarang sudah di level US$1.000-an. Ini membuat tren kenaikan yang seharusnya terjadi pada pertengahan Oktober menjadi maju," kata Fajar kepada Bisnis, Minggu (20/9/2026).
Transmisi ke Harga Resin dan Produk Plastik
Menurut Fajar, kenaikan harga nafta akan segera diteruskan ke harga resin atau bahan baku plastik. Bila harga nafta bertahan di atas US$1.000 per ton, harga resin diperkirakan berada di atas US$1.400 per ton.
Dengan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.000-Rp18.000 per dolar AS, harga resin tersebut setara sekitar Rp22.000 per kilogram. Artinya, kenaikan harga minyak berpotensi kembali memperbesar biaya produksi industri plastik dan sektor hilir yang menggunakan bahan baku petrokimia.
Fajar memperkirakan tekanan tersebut belum akan berakhir dalam waktu dekat. Permintaan yang meningkat menjelang November dan Desember serta faktor musim dingin di sejumlah negara berpotensi memperpanjang tekanan terhadap komoditas energi hingga awal 2027.
"Kelihatannya tren harga tinggi ini akan panjang sampai Januari juga karena krisis geopolitik," tuturnya.
Tekanan industri petrokimia kian berat karena kenaikan harga bahan baku terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah. Sebagian besar bahan baku petrokimia masih diperdagangkan menggunakan dolar AS, sehingga pelemahan nilai tukar secara langsung meningkatkan biaya impor.
Fajar menyampaikan kombinasi kenaikan harga resin dalam dolar AS dan pelemahan rupiah membuat harga bahan baku yang harus ditanggung industri kian tinggi, yang pada akhirnya berpotensi diteruskan ke harga produk di tingkat konsumen. Namun, kemampuan industri menaikkan harga akan bergantung pada daya beli masyarakat.
"Kami berharap kepada pemerintah bagaimana support pada daya beli. Kalau daya belinya bisa dipertahankan, masih bisa memenuhi permintaan dengan harga yang tinggi," katanya.
Ia juga mengingatkan kenaikan harga energi dan bahan baku yang berlangsung panjang dapat memperberat kebutuhan dukungan pemerintah terhadap daya beli masyarakat, termasuk melalui bantuan sosial serta subsidi energi dan transportasi.
Tekanan dari Sisi Impor Cina dan Logistik
Di tengah tekanan harga bahan baku, industri juga menghadapi persoalan dari sisi logistik dan perdagangan global. Fajar menyampaikan distribusi sejumlah produk dari Cina saat ini mengalami hambatan.
Barang yang tertahan membuat biaya logistik meningkat, meski harga produk Cina masih relatif murah. Kondisi tersebut berpotensi membuat harga produk jadi plastik ikut naik, dengan sejumlah produk jadi dapat berada di kisaran Rp30.000-Rp35.000 per kilogram. Karena itu, menurut Fajar, pelaku industri perlu mengantisipasi kondisi tersebut.
"Sehingga ini kita harus cermat pintar-pintar untuk kapan kita beli dan kapan kita proses dan jual barang jadinya," tuturnya.
Meski utilisasi industri petrokimia nasional kini berada di atas 70%, produk impor dari Cina masih deras sehingga persediaan di dalam negeri relatif tinggi. Tingginya arus impor ini membuat sebagian pelaku industri harus menambah kapasitas pergudangan untuk menampung stok.
Dengan kondisi tersebut, Fajar menilai persoalan industri saat ini bukan semata kekurangan barang, melainkan bagaimana memastikan distribusi berjalan lancar ketika terjadi perubahan permintaan. "Secara suplai semuanya barangnya ada. Cuma tinggal nanti waktu distribusinya jangan sampai mengalami lonjakan permintaan yang tiba-tiba sehingga memicu kenaikan lebih tinggi lagi," katanya.
Ia pun meminta pelaku industri tidak melakukan pembelian berlebihan akibat kekhawatiran harga terus naik, karena kepanikan justru berpotensi memperbesar tekanan harga di sepanjang rantai pasok. "Jangan panik-panik dulu. Kalau masyarakat panik, itu akan mempercepat kenaikan dan menambah tinggi harga di pasar," pungkasnya.
Pandangan Ekonom
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpendapat industri petrokimia memang menjadi salah satu sektor yang paling terdampak ketika harga minyak dunia melambung. Tekanan terutama muncul dari kenaikan bahan baku yang kemudian merambat ke industri hilir, sementara kenaikan biaya produksi tidak serta-merta dapat diteruskan kepada konsumen karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
"Akibatnya, yang tertekan lebih dulu adalah margin, utilisasi pabrik, dan keputusan investasi. Kalau rupiah ikut melemah, tekanannya tentu semakin besar karena sebagian input dibayar dalam dolar," tegasnya.
Kenaikan harga minyak juga membawa persoalan dari sisi eksternal. Indonesia masih menjadi pengimpor bersih minyak dan LPG, sehingga kenaikan harga minyak dunia berpotensi memperbesar nilai tagihan impor energi. "Ekspor komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel memang bisa menjadi penyangga, tetapi belum tentu menutup kenaikan tagihan impor," ujarnya kepada Bisnis.
Dengan kondisi ini, Yusuf menilai pemerintah perlu merespons secara selektif untuk menjaga keberlangsungan industri tanpa menambah beban fiskal secara berlebihan. Dukungan energi untuk industri strategis, kemudahan akses bahan baku, pembiayaan modal kerja, serta subsidi BBM yang tepat sasaran dinilai lebih diperlukan dibandingkan subsidi yang diberikan secara menyeluruh.

