Emitenhub.com - Penerapan kembali short selling di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 1 Oktober 2026 belum menggoyang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dampak awalnya justru paling mungkin terasa sebagai lonjakan volatilitas di segelintir saham, bukan sebagai penggerak indeks.
IHSG memang terkoreksi 1,02 persen pada perdagangan perdana sejak kebijakan berlaku. Namun indeks berbalik menguat 0,46 persen ke 6.036,89 pada penutupan Jumat (2/10), sinyal bahwa tekanan pasar belum bisa dikaitkan langsung dengan short selling.
Cakupan fasilitas ini memang masih sempit. Di tahap awal, baru lima saham yang masuk: PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Layanannya pun baru tersedia lewat dua Anggota Bursa (AB).
Transaksi perdana didominasi BUMI
Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menyebut dampak awal ke pasar masih terbatas. Pada hari pertama, hanya BRPT, BUMI, dan INDF yang mencatat transaksi short selling. BUMI mendominasi dengan volume sekitar 10,03 juta saham senilai Rp1,71 miliar dalam 210 transaksi. Sisanya jauh di bawah itu: BRPT hanya sekitar 200 saham senilai Rp281.500 dan INDF sekitar 100 saham senilai Rp677.500.
Nilai sekecil itu, menurut Harry, belum cukup memberi dampak material ke likuiditas pasar, apalagi di tengah tekanan arus keluar dana asing dan sentimen eksternal.
"Dalam jangka pendek, dampak short selling lebih mungkin terlihat pada peningkatan volatilitas saham tertentu ketimbang peningkatan likuiditas IHSG secara signifikan," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (4/10/2026).
Secara teori, ia menilai kebijakan ini bisa memperbaiki price discovery, mengerek turnover, dan menciptakan mekanisme perdagangan dua arah. Namun dengan jumlah saham, investor, dan sekuritas yang masih terbatas, tambahan likuiditasnya belum terasa. Pada saham yang pergerakannya dikendalikan momentum, tekanan jual tambahan justru bisa memperbesar volatilitas saat sentimen memburuk.
Dari lima saham itu, Samuel Sekuritas menilai BUMI dan BRPT paling berpotensi jadi sasaran. Keduanya berkarakter agresif dan sensitif terhadap momentum serta sentimen pasar, tercermin dari aktivitas hari pertama.
"Kalau berbicara mengenai saham yang paling rawan mendapatkan tekanan jual tambahan, BUMI kemungkinan menjadi perhatian utama, disusul BRPT," kata Harry.
Kondisi itu, lanjutnya, tidak otomatis mencerminkan fundamental kedua emiten memburuk. Justru aktivitas perdagangan dan volatilitas tinggi membuat posisi short lebih mudah terbentuk ketika momentum harga melemah. Sebaliknya, BBCA dan ASII punya kedalaman likuiditas jauh lebih besar sehingga tekanan short lebih mudah diserap, sedangkan INDF berkarakter lebih defensif. Secara umum, Harry menilai saham dengan kenaikan harga terlalu cepat, valuasi tinggi, atau katalis positif yang mulai tercermin di harga paling rentan diincar short seller.
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengingatkan saham yang masuk daftar short selling tidak otomatis layak dilepas. Saham berlikuiditas tinggi seperti BBCA dan ASII, menurutnya, justru bisa dipakai sebagai instrumen lindung nilai untuk memangkas eksposur ke pasar atau sektor tertentu, sehingga posisi short di saham itu tak selalu mencerminkan pandangan negatif atas fundamentalnya.
"Dalam lima saham tersebut, BRPT dan BUMI perlu dipantau untuk potensi perubahan momentum. Tetapi status masuk daftar short selling sendiri bukan alasan untuk menjual saham. Saham di luar daftar juga tidak otomatis dapat menjadi sasaran short selling melalui fasilitas ini," terangnya.
Andrey menilai terlalu dini mengaitkan pelemahan IHSG dengan short selling tanpa menimbang nilai transaksi dan kontribusinya ke total perdagangan. Dalam jangka menengah, fasilitas ini berpotensi menambah likuiditas lewat aktivitas jual dan pembelian kembali untuk menutup posisi. Namun ia mengingatkan kenaikan volume tidak otomatis berarti kualitas likuiditas membaik, sehingga investor tetap perlu mencermati kedalaman antrean dan selisih harga beli-jual (bid-ask spread). Ia menambahkan manfaat lindung nilai ini berpotensi menaikkan daya tarik pasar bagi investor institusi, meski dampak langsung ke investor asing masih terbatas karena akses dibatasi bagi investor individu domestik hingga 31 Desember 2026.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto senada, menilai dampak awal masih sangat terbatas akibat sempitnya cakupan saham dan AB. Efek jangka pendeknya lebih terlihat pada likuiditas dan turnover saham individual ketimbang menggerakkan IHSG.
"Investor memperoleh instrumen tambahan untuk hedging dan mengekspresikan negative view, sementara price discovery dapat menjadi lebih efisien karena pembentukan harga tidak hanya berasal dari investor yang bullish," terang Rully.
Rully menilai short selling belum akan menjadi penentu utama arus dana asing. Investor asing masih akan lebih mencermati prospek laba emiten, valuasi, pergerakan rupiah, imbal hasil US Treasury, arah suku bunga, serta selera risiko global.
Risiko yang tak berbatas
Di balik peluangnya, short selling memikul risiko lebih besar ketimbang transaksi saham biasa. Ancaman terbesar muncul justru ketika harga saham naik, karena biaya membeli kembali saham ikut membengkak.
Andrey menjelaskan kerugian posisi short secara teoritis tak punya batas maksimum, dan bisa memicu margin call hingga forced buy. Khusus intraday short selling (IDSS), posisi wajib ditutup pada hari yang sama, sehingga investor tak bisa menahan posisi ke sesi berikutnya. Karena itu, ia menekankan investor perlu memahami kebutuhan jaminan, biaya transaksi, batas kerugian, dan mekanisme forced buy.
Harry mengingatkan investor ritel agar tidak ikut-ikutan tren short selling tanpa paham risikonya, mulai dari short squeeze, biaya peminjaman saham, margin call, hingga kewajiban membeli kembali saham saat harga bergerak berlawanan.
"Short selling lebih tepat digunakan sebagai instrumen trading atau hedging oleh investor yang telah memahami manajemen risiko," terang Harry.
Sebagai saringan, BEI mensyaratkan rekening khusus dan modal awal minimal Rp50 juta bagi pengguna fasilitas ini.
Uji coba sampai akhir tahun
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut setidaknya 50 investor sudah membuka rekening short selling sejak mekanisme berjalan lewat PT Semesta Indovest Sekuritas dan PT Ajaib Sekuritas Asia. Dua Anggota Bursa lain masih dalam proses menyusul. Uji coba ini berlangsung sampai akhir 2026 sebelum implementasi lebih luas dibidik mulai 2027.
"Karena masih dalam proses implementasi awal dan terbatas, awal tahun nanti baru akan dilakukan implementasi secara lebih luas," katanya.
Head of Research KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menilai kebijakan ini berpotensi menambah likuiditas sekaligus memperkaya pilihan instrumen. Namun dampak yang lebih jelas, menurutnya, baru terlihat dalam beberapa bulan hingga setahun ke depan seiring bertambahnya investor dan Anggota Bursa. Ia mendorong BEI memperluas akses sekaligus memperkuat edukasi, karena penambahan AB akan memberi lebih banyak pilihan tapi harus dibarengi pemahaman soal mekanisme, tujuan, dan risikonya.
Pada akhirnya, angka 50 investor di hari-hari pertama menegaskan short selling masih berada di fase rintisan. Tolok ukur sesungguhnya bukan koreksi IHSG hari ini, melainkan seberapa matang pemahaman risiko investor saat akses diperluas pada 2027.


