International

Harga Minyak Turun ke Level Terendah Sepekan, Harapan Diplomasi AS-Iran Jadi Pemicu

Ringkasan Cepat

Harga minyak turun ke level terendah dalam lebih dari sepekan pada Senin (21/9/2026), dengan Brent di USD101,71 dan WTI di USD98,15 per barel, didorong harapan jalur diplomasi AS-Iran menjelang Sidang Umum PBB. Tekanan turun juga datang dari pemulihan ekspor minyak Arab Saudi yang naik ke lebih dari 4 juta barel per hari pada September, setelah sebelumnya merosot ke level terendah sejak 2013 akibat serangan Houthi terhadap pipa Timur-Barat.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi penurunan harga minyak dunia ke level terendah sepekan di tengah harapan diplomasi AS-Iran dan pemulihan ekspor Arab Saudi

Ilustrasi penurunan harga minyak dunia ke level terendah sepekan di tengah harapan diplomasi AS-Iran dan pemulihan ekspor Arab Saudi

Emitenhub.com - Harga minyak turun ke level terendah dalam lebih dari sepekan pada Senin (21/9/2026), didorong harapan akan upaya diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta pemulihan sebagian pengiriman minyak mentah dari Arab Saudi.

Dilansir dari The Business Times, kontrak berjangka minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) menyentuh level terendah sejak 10 September pada Senin pagi.

Brent berada di USD101,71 per barel pada pukul 02.13 GMT, turun USD2,16 atau 2,08%, setelah sebelumnya melemah 0,91% pada Jumat. Sementara itu, minyak mentah WTI AS turun USD2,15 atau 2,14% menjadi USD98,15 per barel, setelah penurunan 1,58% pada sesi sebelumnya.

Penurunan ini sebagian bertumpu pada ekspektasi meredanya ketegangan geopolitik. "Ada harapan bahwa jalur diplomatik untuk meredakan perang AS-Iran mungkin akan terwujud minggu ini," kata Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer.

"Apakah harapan itu terbukti benar atau tidak adalah pertanyaan lain. Waktu akan menjawabnya," katanya.

Washington dan Teheran memang saling melontarkan ancaman baru akhir pekan lalu. Namun, Presiden AS Donald Trump membuka peluang untuk bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pekan ini.

Faktor kedua datang dari sisi pasokan. Serangan kelompok Houthi terhadap pipa minyak Timur-Barat milik Arab Saudi mendorong Negeri Petrodolar itu meningkatkan ekspor melalui Selat Hormuz bulan ini dan bulan depan.

Berdasarkan data sementara perusahaan riset Kpler, langkah tersebut memungkinkan ekspor minyak Arab Saudi pulih hingga lebih dari 4 juta barel per hari (bph) sejauh ini pada September, setelah merosot menjadi 2,4 juta bph pada Agustus, terendah sejak setidaknya 2013.

"Aliran minyak Timur Tengah tetap sangat kuat meskipun terjadi gangguan pada pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi," kata analis JPMorgan dalam sebuah catatan.

Angka tersebut mencapai 17,1 juta bph dalam 10 hari terakhir, hanya 6,1 juta bph di bawah rata-rata 2025.

Adapun data satelit menunjukkan minyak Arab Saudi yang melewati Selat Hormuz rata-rata mencapai 2,9 juta bph selama enam hari terakhir, naik dari hanya 700.000 bph pada Agustus.

Iklan