Emitenhub.com - Ledakan kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan atau AI mulai mendorong peningkatan permintaan terhadap pusat data sekaligus belanja teknologi korporasi.
Namun, pertumbuhan kapasitas dan investasi teknologi tersebut masih menghadapi tantangan untuk diterjemahkan menjadi kenaikan utilisasi dan laba bagi sejumlah emiten teknologi.
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya memproyeksikan kapasitas IT data center Indonesia meningkat dari sekitar 580 megawatt pada semester I/2026 menjadi 3,5 gigawatt pada 2030. Dengan demikian, industri tersebut diperkirakan tumbuh dengan compound annual growth rate atau CAGR sekitar 56,7% sepanjang 2026-2030.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan kebutuhan cloud, komputasi GPU untuk AI, serta limpahan permintaan dari Singapura dan kawasan Asia Tenggara.
PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), dan PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) menjadi sejumlah emiten yang mulai merasakan dampak perkembangan AI melalui bisnis masing-masing.
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan DCI Indonesia Indri Koesindrijastoeti menyampaikan pertumbuhan kebutuhan digital dan perkembangan AI menjadi salah satu penopang bisnis perseroan.
"Pertumbuhan kebutuhan serta perkembangan AI turut memperkuat kebutuhan terhadap infrastruktur pusat data di Indonesia," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (25/8/2026).
DCII mencatat pendapatan Rp1,77 triliun pada semester I/2026, tumbuh 10,9% secara tahunan. Laba bersih perseroan mencapai Rp732,5 miliar atau meningkat 9,7% secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang bisnis colocation data center seiring meningkatnya kebutuhan pelanggan terhadap infrastruktur digital yang andal dan berkualitas tinggi.
Memasuki semester II/2026, DCII akan tetap menjadikan bisnis pusat data dan colocation sebagai motor pertumbuhan. Perseroan akan memperbesar kapasitas secara bertahap dengan menyesuaikannya terhadap kebutuhan pelanggan dan perkembangan pasar.
"Fokus DCI pada semester II tetap pada menjaga pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan, operational excellence, serta memastikan ketersediaan kapasitas sesuai kebutuhan pelanggan," kata Indri.
Indri menilai perkembangan AI juga meningkatkan kebutuhan terhadap pusat data dengan power density, kapasitas, dan reliability yang lebih tinggi. Kondisi tersebut menjadi peluang jangka panjang bagi operator yang mampu menyediakan infrastruktur sesuai kebutuhan komputasi baru.
"Bagi DCI, perkembangan ini merupakan peluang jangka panjang," imbuhnya.
DCII saat ini mengoperasikan sekitar 128 MW kapasitas IT live di empat fasilitas. Perseroan juga memiliki opsi pengembangan H3 Sky DC Park di Bintan dengan potensi kapasitas lebih dari 1.000 MW.
Selain menambah kapasitas, DCII memperkuat DCI Platform yang menghubungkan cloud provider, network provider, dan enterprise dalam satu ekosistem pusat data.
"Kami akan terus memperkuat DCI Platform dan ekosistem yang telah terbentuk, sekaligus memastikan kesiapan infrastruktur untuk mendukung perkembangan AI, dan high density computing," jelas Indri.
Meski demikian, perseroan juga tetap mencermati dinamika biaya dan pergerakan nilai tukar. Pengelolaan biaya serta perencanaan investasi dilakukan secara disiplin, baik dalam pengadaan maupun pengembangan kapasitas.
AI Merambah Sektor Media dan Kesehatan
Perkembangan AI juga mulai masuk ke lini bisnis PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Perseroan mengembangkan pemanfaatan teknologi tersebut di sektor media hingga kesehatan dengan sasaran meningkatkan produktivitas, kualitas layanan, dan pengalaman pengguna.
Direktur EMTK Sutiana Ali menyampaikan pengembangan AI disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bisnis dalam ekosistem perseroan.
"Kami melihat AI sebagai teknologi yang dapat memberikan nilai tambah lintas sektor, baik dalam meningkatkan produktivitas, kualitas layanan, maupun pengalaman pengguna," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (25/8/2026).
Di bisnis media, EMTK memanfaatkan VidioGen, platform AI untuk produksi konten yang dikembangkan tim teknologi Vidio. Teknologi tersebut digunakan antara lain dalam pengembangan animasi New Keluarga Somat di Mentari TV.
Melalui VidioGen, proses pembuatan aset dan komposisi adegan dapat dilakukan lebih efisien. EMTK mencatat pemanfaatan teknologi tersebut mampu menekan waktu dan biaya pengembangan sekitar 30% dengan tetap mempertahankan kualitas animasi.
Pemanfaatan AI kemudian diperluas ke bisnis kesehatan melalui EMC Healthcare. Perseroan mengembangkan chatbot untuk membantu pendaftaran dan penjadwalan konsultasi, ambient AI untuk mendukung dokumentasi medis, serta AI Assistant untuk membantu dokter menelusuri riwayat klinis pasien.
EMTK juga memanfaatkan AI untuk menganalisis citra radiologi, khususnya foto toraks, serta pencitraan retina guna membantu mengidentifikasi potensi risiko penyakit.
"AI akan terus kami evaluasi dan kembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing lini bisnis di dalam ekosistem Emtek," kata Sutiana.
Namun, peningkatan pemanfaatan AI belum secara otomatis sejalan dengan perbaikan laba perseroan. Pendapatan neto EMTK pada semester I/2026 mencapai Rp10,81 triliun, naik 22,74% dibandingkan Rp8,81 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Pada periode tersebut, EMTK justru mencatat rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp320,60 miliar. Angka itu berbalik dari laba Rp4,22 triliun pada semester I/2025.
Sementara itu, PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) melihat peluang dari meningkatnya realisasi belanja teknologi informasi korporasi.
Presiden Direktur MTDL Susanto Djaja menyampaikan korporasi yang sebelumnya menunda investasi teknologi mulai kembali merealisasikan kebutuhan belanja IT, terutama untuk data, AI, cybersecurity, dan infrastruktur teknologi informasi.
"Perusahaan yang tadinya banyaknya wait and see, sekarang mau tidak mau investasi IT harus direalisasikan juga. Mereka perlu investasi untuk data dan AI, untuk cybersecurity," ujarnya.
MTDL membukukan pertumbuhan pendapatan 16,7% secara tahunan pada semester I/2026. Kinerja tersebut terutama ditopang segmen distribusi yang tumbuh lebih dari 20%, sedangkan Business Solutions and Consulting hanya tumbuh sekitar 3%.
Memasuki semester II/2026, perseroan justru mengarahkan perhatian lebih besar pada Business Solutions and Consulting. MTDL membidik proyek yang berkaitan dengan AI, data, cybersecurity, dan solusi teknologi lainnya.
"Semester II/2026, kami berupaya untuk menyasar belanja korporasi untuk IT termasuk spending AI dan security dan lain-lainnya, supaya kami bisa close the deal," tutur Susanto.
Strategi tersebut diarahkan untuk memperbesar kontribusi bisnis solusi dan konsultasi sekaligus mengejar target pertumbuhan pendapatan dan laba bersih sekitar 10% pada 2026.
Kinerja distribusi yang tumbuh lebih dari 20% pada semester I/2026 diperkirakan lebih moderat pada semester II/2026. Sebaliknya, ruang pertumbuhan yang lebih besar diharapkan datang dari Business Solutions and Consulting.
Perubahan pola belanja tersebut memperlihatkan efek AI terhadap MTDL tak hanya berasal dari pembangunan pusat data. Kebutuhan komputasi juga mendorong korporasi meningkatkan investasi pada perangkat, solusi digital, keamanan siber, dan layanan teknologi.
Kapasitas Data Center Melonjak
Perkembangan permintaan tersebut sejalan dengan proyeksi BRI Danareksa Sekuritas yang melihat industri pusat data Indonesia baru memasuki fase awal pertumbuhan dengan pipeline ekspansi yang besar.
"Kapasitas IT data center terpasang di Indonesia saat ini mencapai 580 MW dan diperkirakan melonjak hingga 3,5 GW pada 2030," tulis analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta Azhari dan Erindra Krisnawan dalam riset yang diterbitkan pada 21 Agustus 2026.
Kafi dan Erindra menilai PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Indosat Tbk (ISAT) memiliki eksposur paling langsung terhadap pertumbuhan industri tersebut.
TLKM mendapat rekomendasi BUY dengan target harga Rp3.500 per saham. Melalui NeutraDC, Telkom memiliki kapasitas live sekitar 90,4 MW dan menargetkan ekspansi hingga lebih dari 300 MW pada 2030.
ISAT juga mendapat rekomendasi BUY dengan target harga Rp2.500 per saham. Eksposur perseroan terhadap bisnis data center berasal dari kepemilikan 25% di BDx Indonesia.
BDx mengoperasikan sekitar 30 MW kapasitas edge data center dan memiliki fasilitas hyperscale 72 MW di CGK4 Jatiluhur yang dirancang untuk diperluas hingga 500 MW.
BRI Danareksa Sekuritas juga menyoroti DSSA dan DCII yang memiliki pipeline besar. DSSA mengoperasikan 24 edge data center dengan kapasitas gabungan sekitar 10 MW dan mengembangkan SMX01 bersama LG dengan kapasitas awal 18 MW yang dapat ditingkatkan hingga 60 MW.
Di sisi lain, DCII memiliki kapasitas IT live sekitar 128 MW dan potensi pengembangan H3 Sky DC Park di Bintan lebih dari 1.000 MW.
Kafi dan Erindra juga menyoroti emiten tahap awal seperti PT NexAI Digital Infrastructure Tbk (MGLV), PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), dan PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) yang mulai masuk ke sektor ini. MGLV berencana mengakuisisi dua aset data center dengan total kapasitas 96 MW, sedangkan INET melalui anak usahanya PT Sinergi Inti Data Indonesia (SIDI) menyiapkan green data center berkapasitas sekitar 180-200 MW di Jawa Barat.
BNBR melalui anak usahanya PT Multi Kontrol Nusantara menyiapkan lahan 1,67 hektare di Kalideres, Jakarta Barat, untuk pengembangan data center yang masih menunggu mitra strategis.
Besarnya pipeline tersebut membuat prospek industri data center tetap positif. Meski begitu, Samuel Sekuritas Indonesia mengingatkan peningkatan kapasitas perlu diiringi utilisasi dan pertumbuhan laba.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menyampaikan AI dan pembangunan data center merupakan katalis jangka panjang bagi saham teknologi karena meningkatkan kebutuhan infrastruktur digital, cloud, konektivitas, dan komputasi.
Namun, besarnya manfaat bagi masing-masing emiten bergantung pada tingkat eksposur langsungnya terhadap infrastruktur AI.
"AI dan pembangunan data center menjadi katalis jangka panjang karena meningkatkan kebutuhan infrastruktur digital, cloud, konektivitas, dan komputasi. Namun dampaknya berbeda-beda tergantung seberapa besar exposure langsung emiten terhadap infrastruktur AI," ujarnya.
Menurut Harry, sebagian ekspektasi pertumbuhan sudah tercermin dalam valuasi saham data center seperti DCII dan EDGE yang memperoleh premium valuasi karena ekspektasi pertumbuhan yang tinggi.
Kondisi tersebut membuat investor perlu mencermati realisasi utilisasi dan pertumbuhan laba, terutama ketika operator terus memperbesar kapasitas.
"Pertumbuhan kapasitas lebih cepat dibanding utilisasi menjadi salah satu risiko utama yang perlu diperhatikan. Tingkat okupansi, kontrak tenant, harga sewa, dan efisiensi capex menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan ekspansi menghasilkan laba," terangnya.
Harry menilai DCII memiliki posisi menarik sebagai pemain murni pusat data dengan eksposur langsung terhadap pertumbuhan kebutuhan AI. EDGE memiliki kombinasi bisnis data center, cloud, dan konektivitas, sedangkan TLKM memiliki aset fiber, data center, dan cloud berskala besar.
Untuk ketiga saham tersebut, Samuel Sekuritas memberikan rekomendasi BUY. Harry menyebut level harga DCII sebesar Rp204.000, EDGE Rp4.850, dan TLKM Rp3.450.
Meski demikian, Harry menekankan premium valuasi tetap bergantung pada kemampuan pertumbuhan laba mengikuti ekspektasi pasar.
"Saham dengan pertumbuhan laba yang mampu mengikuti ekspektasi pasar tetap menarik, sementara saham dengan valuasi terlalu premium memiliki risiko koreksi apabila ekspansi tidak sesuai harapan," katanya.
Harry juga menegaskan valuasi emiten teknologi di Indonesia saat ini belum setara dengan raksasa teknologi global seperti Nvidia, Microsoft, hingga Amazon, karena mayoritas emiten Indonesia berada di sisi infrastruktur AI, bukan pengembang chip, model AI, atau platform cloud global.
Di sisi lain, pertumbuhan data center dinilainya juga menciptakan peluang bagi sektor pendukung. Kebutuhan pusat data terhadap konektivitas, lahan, dan listrik membuka ruang pertumbuhan bagi perusahaan telekomunikasi, kawasan industri, dan energi.
"Selain data center, sektor yang berpotensi diuntungkan adalah telekomunikasi, fiber, kawasan industri, dan energi karena AI membutuhkan konektivitas, lahan, serta konsumsi listrik yang besar," ujar Harry.
Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada kemampuan industri mengubah permintaan menjadi kontrak dan utilisasi. Pembangunan kapasitas yang lebih cepat dari pertumbuhan tenant berpotensi membuat belanja modal meningkat sebelum pendapatan dan laba mengikuti.
Pada akhirnya, gelombang AI menempatkan emiten teknologi Indonesia pada persimpangan antara peluang besar dan ujian eksekusi. Proyeksi kapasitas data center yang melonjak hingga 3,5 GW pada 2030 membuka ruang pertumbuhan yang menjanjikan, tetapi realisasinya akan sangat bergantung pada seberapa cepat kapasitas baru itu terserap menjadi kontrak tenant, utilisasi, dan laba. Selama jarak antara ekspansi dan monetisasi belum menyempit, prospek cerah industri ini masih perlu dibuktikan lewat kinerja, bukan sekadar valuasi.


