Emitenhub.com - Setiap investor ingin membeli saham yang bagus pada harga yang murah. Masalahnya, murah dibanding apa? Jawabannya adalah nilai wajar, yaitu perkiraan harga yang pantas untuk sebuah saham berdasarkan kondisi bisnisnya, bukan berdasarkan suasana hati pasar. Menghitungnya adalah keterampilan yang memisahkan investor dari penebak arah harga, dan kabar baiknya, keterampilan ini bisa dipelajari siapa saja.
Banyak pemula mengira menghitung nilai wajar butuh model arus kas terdiskonto yang rumit dengan puluhan asumsi. Artikel ini menawarkan tiga metode sederhana yang realistis untuk investor ritel, yaitu multiple PER, multiple PBV, dan dividend discount model sederhana. Ketiganya bisa Anda hitung dengan data yang tersedia di laporan keuangan, dan di akhir tersedia kalkulator untuk mencoba angka emiten Anda sendiri.
Apa Itu Nilai Wajar dan Kenapa Beda dengan Harga Pasar
Nilai wajar adalah taksiran harga yang mencerminkan nilai sebenarnya sebuah perusahaan, dihitung dari kemampuannya menghasilkan laba, aset yang dimilikinya, atau dividen yang dibagikannya. Harga pasar adalah angka yang tertera di bursa saat ini, hasil tarik-menarik antara pembeli dan penjual pada momen tersebut.
Keduanya sering berbeda, dan justru di situlah peluang muncul. Harga pasar digerakkan oleh sentimen, berita jangka pendek, likuiditas, dan emosi. Ketika pasar euforia, harga bisa melambung jauh di atas nilai wajar. Ketika pasar panik, harga bisa jatuh jauh di bawahnya. Tugas Anda adalah membeli ketika harga berada di bawah nilai wajar, lalu bersabar hingga selisih itu menutup.
Satu hal perlu Anda terima sejak awal: nilai wajar adalah perkiraan, bukan angka pasti. Dua analis bisa menghasilkan angka berbeda karena memakai asumsi berbeda. Karena itu, memperlakukan nilai wajar sebagai rentang lebih bijak daripada sebagai satu titik tunggal, dan memakai lebih dari satu metode membantu Anda menguji apakah kesimpulannya konsisten.
Nilai wajar memandu tiga keputusan sekaligus. Ketika harga jauh di bawah nilai wajar, itu sinyal untuk mempertimbangkan membeli. Ketika harga sejajar dengan nilai wajar, menahan posisi lebih masuk akal daripada menambah. Ketika harga melambung jauh di atas nilai wajar, Anda punya alasan objektif untuk mengurangi atau menjual, bukan sekadar mengikuti euforia.
Metode 1: Multiple PER Dibandingkan Sektor
Metode pertama memakai rasio harga terhadap laba, atau PER. Idenya sederhana: kalikan laba per saham perusahaan dengan PER yang wajar untuk sektornya. Rumusnya, nilai wajar sama dengan laba per saham dikali PER wajar.
PER wajar bisa Anda ambil dari median PER emiten sejenis di sektor yang sama, atau dari rata-rata PER historis perusahaan itu sendiri. Misalkan sebuah emiten memiliki laba per saham Rp200 dan emiten sejenis di sektornya wajar diperdagangkan pada PER 12 kali, maka nilai wajarnya adalah Rp200 dikali 12 sama dengan Rp2.400 per saham.
Metode ini cocok untuk perusahaan yang labanya stabil dan positif. Keterbatasannya, ia tidak bisa dipakai saat perusahaan merugi, karena PER kehilangan makna. Hasilnya juga sangat bergantung pada PER wajar yang Anda pilih, sehingga pemilihan pembanding sektor harus dilakukan dengan hati-hati. Untuk memahami PER lebih dalam, baca pilar kami tentang rasio keuangan.
Dalam memilih PER wajar, gunakan median sektor daripada rata-rata, karena median lebih tahan terhadap satu atau dua emiten yang nilainya ekstrem. Bandingkan pula dengan PER historis perusahaan itu sendiri dalam kondisi normal. Berhati-hatilah pada emiten siklikal, karena laba puncak siklus membuat PER terlihat rendah secara menipu, sehingga nilai wajar berbasis PER bisa melambung palsu.
Metode 2: Multiple PBV
Metode kedua memakai rasio harga terhadap nilai buku, atau PBV. Alih-alih laba, metode ini bertumpu pada nilai buku per saham, yaitu ekuitas dibagi jumlah saham. Rumusnya, nilai wajar sama dengan nilai buku per saham dikali PBV wajar.
PBV wajar diambil dari rata-rata sektor, dan idealnya disesuaikan dengan kualitas perusahaan. Semakin tinggi ROE sebuah perusahaan, semakin tinggi pula PBV wajar yang pantas untuknya, karena ekuitasnya lebih produktif. Misalkan nilai buku per saham sebuah emiten Rp938 dan PBV wajar untuk sektornya 2,5 kali, maka nilai wajarnya adalah Rp938 dikali 2,5 sama dengan sekitar Rp2.345 per saham.
Metode PBV paling cocok untuk perusahaan yang padat aset dan nilai bukunya bermakna, seperti bank dan perusahaan properti. Sebaliknya, metode ini kurang relevan untuk perusahaan ringan aset seperti teknologi, yang nilai bukunya kecil sementara nilai sebenarnya ada pada aset tak berwujud.
Untuk menetapkan PBV wajar secara lebih berdasar, kaitkan dengan ROE. Perusahaan dengan ROE 20 persen pantas dihargai PBV lebih tinggi daripada yang ROE-nya 8 persen, karena setiap rupiah ekuitasnya menghasilkan laba lebih besar. Jangan memberi PBV wajar yang tinggi pada perusahaan ber-ROE rendah hanya karena sektornya diperdagangkan mahal, sebab premium itu tidak ditopang oleh kualitas.
Metode 3: Dividend Discount Model Sederhana
Metode ketiga menghitung nilai wajar dari dividen yang dibagikan perusahaan. Versi sederhananya dikenal sebagai Gordon Growth Model, yang mengasumsikan dividen tumbuh pada laju tetap setiap tahun. Cocok untuk perusahaan mapan yang rutin membagi dividen, seperti bank besar, emiten barang konsumsi, atau perusahaan utilitas.
Rumusnya adalah dividen tahun depan dibagi selisih antara imbal hasil yang Anda minta dan laju pertumbuhan dividen. Dividen tahun depan diperoleh dari dividen terakhir dikali satu ditambah laju pertumbuhan. Ada tiga masukan yang perlu Anda tetapkan, yaitu dividen per saham terakhir, laju pertumbuhan dividen yang wajar dan konservatif, serta imbal hasil yang Anda inginkan sebagai kompensasi risiko.
Misalkan dividen per saham terakhir Rp120, laju pertumbuhannya 6 persen, dan imbal hasil yang Anda minta 12 persen. Dividen tahun depan menjadi Rp120 dikali 1,06 sama dengan Rp127,2. Nilai wajarnya adalah Rp127,2 dibagi selisih 12 persen dan 6 persen, yaitu Rp127,2 dibagi 0,06 sama dengan sekitar Rp2.120 per saham. Syarat utamanya, imbal hasil yang diminta harus lebih besar dari laju pertumbuhan, jika tidak rumus ini tidak berlaku. Kelemahannya, hasilnya sangat sensitif terhadap asumsi, sehingga perubahan kecil pada pertumbuhan atau imbal hasil bisa mengubah nilai wajar secara signifikan.
Imbal hasil yang Anda minta mencerminkan seberapa besar kompensasi yang Anda tuntut atas risiko. Semakin berisiko sebuah saham, semakin tinggi angka yang pantas Anda pakai, sehingga nilai wajarnya menjadi lebih konservatif. Pilih metode sesuai karakter perusahaan: PER untuk emiten berlaba stabil, PBV untuk bank dan emiten padat aset, dan dividend discount model untuk emiten mapan yang rutin berdividen. Untuk perusahaan yang belum berdividen, cukup andalkan dua metode pertama.
Margin of Safety
Karena nilai wajar hanya perkiraan, membeli tepat pada nilai wajar tidak menyisakan ruang bila asumsi Anda meleset. Di sinilah konsep margin of safety berperan. Prinsip ini menuntut Anda membeli saham dengan diskon terhadap nilai wajarnya, sehingga ada bantalan bila perhitungan Anda kurang tepat atau terjadi hal tak terduga.
Besarnya margin bergantung pada tingkat keyakinan Anda, tetapi kisaran 20 sampai 30 persen umum dipakai. Harga beli maksimal Anda adalah nilai wajar dikali satu dikurangi margin of safety. Bila nilai wajar sebuah saham Rp2.300 dan Anda menuntut margin 25 persen, maka harga beli maksimal Anda adalah Rp2.300 dikali 0,75 sama dengan Rp1.725. Selama harga pasar masih di atas angka itu, Anda menunggu.
Margin of safety membedakan investor yang disiplin dari yang tidak sabar. Saham yang berada tipis di bawah nilai wajar belum tentu layak dibeli, karena selisihnya bisa habis oleh satu kesalahan kecil dalam asumsi. Semakin besar ketidakpastian atas sebuah perusahaan, semakin lebar margin yang sebaiknya Anda tuntut.
Contoh Perhitungan Lengkap
Satukan ketiga metode dalam satu kasus. Ambil emiten ilustrasi PT Sumber Makmur Tbk dengan laba per saham Rp200, nilai buku per saham Rp938, dan dividen per saham terakhir Rp120. Harga pasarnya saat ini Rp2.000. Anggap PER wajar sektornya 12 kali, PBV wajar 2,5 kali, laju pertumbuhan dividen 6 persen, dan imbal hasil yang diminta 12 persen.
Metode | Perhitungan | Nilai wajar |
Multiple PER | Rp200 x 12 | Rp2.400 |
Multiple PBV | Rp938 x 2,5 | Rp2.345 |
DDM sederhana | Rp127,2 / 0,06 | Rp2.120 |
Rata-rata | gabungan tiga metode | Rp2.288 |
Ketiga metode menghasilkan angka yang berdekatan, dari Rp2.120 sampai Rp2.400, dengan rata-rata sekitar Rp2.288. Kedekatan ini memberi keyakinan bahwa taksiran nilai wajarnya masuk akal. Harga pasar Rp2.000 berada di bawah rentang itu, sehingga saham ini tampak diperdagangkan lebih murah dari nilai wajarnya.
Namun keputusan belum selesai. Terapkan margin of safety. Dengan nilai wajar rata-rata Rp2.288 dan margin 20 persen, harga beli maksimal Anda adalah Rp2.288 dikali 0,8 sama dengan sekitar Rp1.830. Harga pasar Rp2.000 memang di bawah nilai wajar, tetapi masih di atas harga beli konservatif Anda. Investor yang disiplin akan menunggu harga mendekati Rp1.830, sementara investor yang lebih agresif mungkin sudah tertarik pada harga sekarang. Di sinilah perhitungan bertemu penilaian pribadi.
Perhatikan pula ketika ketiga metode justru berjauhan hasilnya. Selisih yang lebar biasanya menandakan ada yang perlu ditelusuri, misalnya laba yang sedang tidak normal atau dividen yang tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya. Dalam kondisi seperti itu, condongkan penilaian ke metode yang paling sesuai dengan karakter perusahaan, lalu perlebar margin of safety Anda sebagai kompensasi atas ketidakpastian yang lebih besar. Angka membantu, tetapi penilaian tetap milik Anda.
Poin Kunci • Nilai wajar adalah perkiraan harga pantas dari fundamental, sering beda dari harga pasar. • Tiga metode praktis: multiple PER, multiple PBV, dan dividend discount model sederhana. • Pakai lebih dari satu metode dan perlakukan hasilnya sebagai rentang, bukan angka tunggal. • Beli dengan margin of safety, bukan tepat pada nilai wajar. |
Menghitung nilai wajar tidak menuntut model yang rumit. Tiga metode sederhana ini sudah cukup untuk menilai apakah sebuah saham murah atau mahal, selama Anda memakainya dengan asumsi yang jujur dan disertai margin of safety. Gunakan kalkulator di bawah untuk mencoba angka emiten Anda sendiri. Untuk mendalami rasio yang menjadi bahan perhitungan ini, baca Memahami Rasio Keuangan Saham: PER, PBV, ROE, DER, dan untuk melihat bagaimana nilai wajar cocok dalam proses menyeluruh, kembali ke Analisis Fundamental Saham: Panduan Lengkap. Dengan menguasai perhitungan ini, Anda tidak lagi bertanya-tanya apakah sebuah saham mahal, melainkan bisa menjawabnya sendiri dengan angka.


