Emitenhub.com - Ledakan kebutuhan data center yang dibawa perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah peta bisnis kawasan industri Tanah Air.
Permintaan lahan meningkat, dengan persaingan kian bergeser ke kemampuan emiten pengelola menyediakan listrik, air, jaringan, serta sumber pendapatan berulang untuk menopang tenant dalam jangka panjang.
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) memperkirakan penjualan sekitar 10 hektare lahan untuk data center di Karawang hingga akhir 2026, sementara PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) masih memiliki pipeline sekitar 85 hektare yang mayoritas berasal dari sektor data center.
Di sisi lain, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) mencatat mayoritas pipeline penjualan lahannya pada semester I/2026 berasal dari sektor data center. PT Jababeka Tbk (KIJA) juga melihat AI sebagai game changer yang berpotensi mendorong investasi lebih luas, mulai dari data center hingga ekosistem teknologi dan pengembangan sumber daya manusia.
VP of Investor Relations dan Sustainability SSIA Erlin Budiman menyampaikan perseroan masih mempertahankan target pendapatan Rp7,2 triliun dan laba bersih Rp400 miliar pada 2026.
Target pendapatan tersebut telah disesuaikan dari target awal sekitar Rp7,5 triliun akibat tertundanya sejumlah penjualan lahan industri dan raihan kontrak konstruksi anak usaha PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA).
Meski target pendapatan diturunkan, perseroan masih membidik pertumbuhan pendapatan sekitar 63% secara tahunan. Laba bersih ditargetkan melonjak sekitar 570% dibandingkan tahun sebelumnya.
"Perseroan masih membidik pertumbuhan pendapatan sekitar 63% secara tahunan senilai Rp7,2 triliun. Sementara itu, laba bersih ditargetkan mencapai Rp400 miliar, atau melonjak sekitar 570% dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Erlin dalam paparan publik, Senin (7/9/2026).
Pada semester I/2026, SSIA telah membukukan pendapatan konsolidasi Rp3,35 triliun, naik signifikan dari Rp2,12 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Perseroan juga mencatatkan laba bersih Rp263 miliar.
Direktur SSIA Wilson Effendy menargetkan penjualan lahan data center sekitar 10 hektare hingga akhir tahun ini untuk kawasan industri di Karawang.
"Sampai tahun ini kami memperkirakan mencapai sekitar 10 ha untuk data center," ujarnya.
Namun, perebutan investor data center membawa standar baru bagi pengelola kawasan. Wilson menyampaikan kesiapan listrik, air, dan network menjadi tantangan utama karena ketiganya merupakan persyaratan krusial bagi calon tenant.
Untuk kawasan Karawang, kebutuhan listrik akan dipasok melalui PT PLN (Persero), sedangkan kebutuhan air sudah dipenuhi oleh pengelola kawasan.
Kondisi berbeda, paparnya, terjadi di Subang Smartpolitan. Pengembangan data center di kawasan tersebut masih dalam tahap peninjauan calon tenant. SSIA sebelumnya telah menyelesaikan tahap pertama proyek infrastruktur kelistrikan dan kini melanjutkan tahap kedua.
"Permintaan sudah ada untuk data center di Subang tapi mereka sedang mereview. Data center itu cukup rigid, review bisa dari sisi infrastrukturnya, network, kemudian sisi air," jelas Wilson.
SSIA berharap proses peninjauan tersebut dapat berujung pada realisasi proyek pada 2027.
Perseroan juga melihat tren AI akan menjadi katalis kuat bagi permintaan data center dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
Peluang tersebut turut membuka sumber pendapatan dari sisi konstruksi. Presiden Direktur SSIA Johannes Suriadjaja menyampaikan anak usaha perseroan tengah mengikuti tender untuk menjadi kontraktor salah satu proyek data center berskala besar.
"Memang saat ini NRCA juga ikut tender konstruksi pusat data cukup besar, tetapi kami belum mengetahui hasil dari tender tersebut," ujar Johannes.
DMAS Bersiap Kerek Target
Dorongan data center juga terlihat di DMAS. Perseroan membuka peluang merevisi naik target kinerja 2026 setelah membukukan marketing sales Rp1,15 triliun pada semester I/2026 atau sekitar 55% dari target tahunan Rp2,08 triliun.
Direktur DMAS Tondy Suwanto menyampaikan perseroan masih melihat ruang pertumbuhan dari pipeline penjualan sekitar 85 hektare. Mayoritas permintaan atau sebesar 75% di antaranya berasal dari sektor data center.
"Melihat perkembangan yang ada kemudian juga melihat inquiry di pipeline, kami akan merevisi ke atas target tahun ini. Cuma angkanya masih harus kita bicarakan dan diskusikan secara internal termasuk dengan komisaris," ujarnya.
Department Head of Investor Relations & Corporate Sustainability DMAS Esther Meilia menyampaikan permintaan lahan industri mencapai sekitar 85 hektare, dengan 75% berasal dari sektor data center. Permintaan tersebut diperkirakan masih mendominasi penjualan lahan hingga kuartal III dan IV/2026.
Kuatnya permintaan datang bersamaan dengan tantangan yang kian nyata pada sisi ketersediaan lahan. Per 30 Juni 2026, land bank DMAS mencapai 581 hektare, yang terdiri dari 60 hektare lahan industri, 357 hektare komersial, dan 164 hektare residensial.
Tondy menyampaikan penjualan lahan dalam beberapa tahun terakhir lebih besar dibandingkan penambahan lahan baru. Kondisi tersebut mendorong perseroan memperkuat sumber pendapatan di luar penjualan lahan.
DMAS memiliki kapasitas listrik terinstalasi sekitar 1.000 MVA. Kapasitas tersebut dinilai masih mencukupi kebutuhan tenant yang telah beroperasi, termasuk data center.
Namun, perseroan memperkirakan kebutuhan listrik terus meningkat sehingga kapasitas 1.000 MVA berpotensi tidak lagi mencukupi hingga 2035. Untuk mengantisipasinya, DMAS terus berkomunikasi dengan PLN mengenai kebutuhan pasokan listrik jangka panjang.
Perseroan juga telah memiliki water treatment plant, wastewater treatment plant, hingga recycle water treatment plant untuk mendukung kebutuhan kawasan.
Berlomba Membangun Ekosistem Kawasan
Pergeseran model bisnis juga mulai dirasakan BEST. Sekretaris Perusahaan BEST Herdian menyampaikan perkembangan AI dan kebutuhan data center dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi kawasan industri Indonesia.
"Pertumbuhan kebutuhan komputasi dan penyimpanan data akan meningkatkan kebutuhan terhadap lahan, listrik, konektivitas, serta utilitas yang andal," ujarnya.
BEST mencatat penjualan lahan industri Rp265 miliar pada semester I/2026 dari target Rp600 miliar sepanjang tahun. Pada saat yang sama, mayoritas pipeline penjualan lahan perseroan berasal dari sektor data center.
Herdian menyampaikan kebutuhan lahan data center sangat bergantung pada skala proyek, kapasitas daya, desain fasilitas, serta rencana ekspansi operator. Dengan karakteristik tersebut, pembangunan data center dapat dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan calon investor.
Kondisi tersebut membuat harga lahan kian kurang menjadi satu-satunya faktor dalam memenangkan investasi. Kesiapan listrik, konektivitas, kualitas infrastruktur, pasokan air, keamanan, lokasi, hingga kecepatan pengembangan menjadi pertimbangan investor.
"Dengan demikian, kami tidak hanya menawarkan lahan, tetapi juga ekosistem kawasan yang siap mendukung operasional tenant dalam jangka panjang," ujar Herdian.
BEST pun memperkuat ekosistem MM2100 melalui nota kesepahaman dengan PT PLN untuk pengembangan infrastruktur listrik serta dengan XenithIG untuk memperkuat konektivitas.
Inisiatif tersebut menjadi bagian dari pengembangan BeFa Digital Town dengan mengusung tema Powering The AI Ready Industrial Ecosystem Power, Connection, Assured.
Meski peluangnya besar, perseroan tetap menahan ekspansi modal agar sejalan dengan permintaan. BEST menerapkan prinsip selektif dalam belanja modal dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar, pipeline investasi, serta potensi tingkat pengembalian investasi.
Sementara itu, KIJA melihat perubahan kebutuhan industri dari perspektif yang lebih luas. AI dinilai berpotensi menjadi game changer bagi kawasan industri karena dampaknya dapat menjalar dari data center ke manufaktur, logistik, teknologi, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Sekretaris Perusahaan KIJA Muljadi Suganda menyampaikan kawasan industri ke depan harus mampu menyediakan ekosistem yang mendukung transformasi teknologi.
"Kawasan industri ke depan tidak cukup hanya menyediakan tanah dan infrastruktur, tetapi harus berkembang menjadi sebuah ekosistem yang mendukung transformasi teknologi dan pengembangan SDM," kata Muljadi. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang menangkap arus investasi tersebut apabila mampu menyiapkan infrastruktur, regulasi, sumber daya manusia, serta kepastian investasi yang kompetitif.

