Emitenhub.com - Sejumlah emiten energi yang terafiliasi dengan Grup Pertamina mencatat pertumbuhan laba bersih sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M26). PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Elnusa Tbk (ELSA) membukukan kenaikan laba yang melampaui pertumbuhan pendapatan masing-masing perseroan.
Kinerja tersebut didukung peningkatan aktivitas operasional, efisiensi biaya, serta kontribusi pendapatan nonoperasional. Sejumlah analis juga mempertahankan pandangan positif terhadap prospek ketiga saham tersebut, meskipun terdapat risiko yang perlu diperhatikan investor.
Di sektor jasa energi, ELSA mencatat laba bersih sebesar Rp681,5 miliar sepanjang Januari hingga September 2026, meningkat 29,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan perseroan tumbuh 15,8 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp12,13 triliun. Sementara itu, EBITDA meningkat lebih tinggi, yakni 27,7 persen menjadi Rp1,36 triliun.
Pertumbuhan laba ELSA turut didukung pengelolaan biaya, optimalisasi aset, dan penurunan beban keuangan.
Sementara itu, PGAS atau PGN membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD292,95 juta atau setara sekitar Rp5,3 triliun pada 9M26. Perolehan tersebut meningkat 23,14 persen dari USD237,89 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan PGAS naik 3,29 persen menjadi USD3,01 miliar atau sekitar Rp54,73 triliun. Segmen niaga dan transmisi gas menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan USD2,76 miliar, meningkat dari USD2,72 miliar pada 9M25.
Pertumbuhan laba PGAS yang lebih tinggi daripada pendapatan turut didukung efisiensi biaya, termasuk penurunan beban administrasi dan umum.
Di bisnis energi panas bumi, PGEO mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD126,63 juta, meningkat 21,44 persen secara tahunan.
Pendapatan perseroan tumbuh 10,45 persen menjadi USD352,2 juta, sejalan dengan peningkatan aktivitas bisnis pembangkitan panas bumi.
EBITDA PGEO juga meningkat 15,6 persen menjadi USD288 juta, dengan margin EBITDA mencapai 81,7 persen. Khusus kuartal III-2026, margin EBITDA perseroan tercatat sebesar 88,5 persen.
Analis Pertahankan Rekomendasi Positif untuk ELSA dan PGAS
Research Analyst Phintraco Sekuritas, Indra Setyadi, menilai peningkatan profitabilitas ELSA tidak hanya berasal dari pertumbuhan pendapatan, tetapi juga efisiensi operasional dan penurunan biaya pendanaan.
Beban keuangan ELSA tercatat turun 37,8 persen secara tahunan menjadi Rp44 miliar setelah perseroan melunasi sukuk pada 2025. Kinerja laba juga memperoleh dukungan dari keuntungan selisih kurs.
Indra memperkirakan pendapatan ELSA sepanjang 2026 mencapai Rp15,57 triliun atau meningkat 7,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih diproyeksikan tumbuh 17,5 persen menjadi Rp844 miliar.
Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut, Phintraco Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ELSA dengan nilai wajar Rp980 per saham.
Namun, Indra mengingatkan bahwa kinerja ELSA masih menghadapi sejumlah risiko, terutama fluktuasi harga minyak mentah global, persaingan antarperusahaan jasa migas, serta perubahan regulasi pemerintah.
Di sisi lain, analis J.P. Morgan Sekuritas Indonesia, Arnanto Januri dan Benny Kurniawan, menyoroti ketahanan margin distribusi gas PGAS sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Margin distribusi gas PGN tercatat sebesar USD1,94 per MMBtu, meningkat 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Realisasi laba bersih PGAS hingga September 2026 telah mencapai 87 persen dari estimasi J.P. Morgan untuk setahun penuh dan 93 persen dari proyeksi konsensus pasar.
J.P. Morgan mempertahankan rekomendasi overweight untuk saham PGAS dengan target harga Rp2.150 hingga Desember 2027.
Meski demikian, lembaga tersebut masih mencermati ketidakpastian proyeksi laba serta potensi tambahan beban hukum terkait kontrak pengiriman LNG dengan Gunvor.
Dari sisi pengembangan usaha, PGAS terus memperluas portofolio pasokan gas jangka panjang melalui sejumlah kontrak LNG dan gas bumi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan menjaga kesinambungan pasokan dan mendukung kegiatan usaha.
Sementara itu, ELSA memperkuat layanan hulu migas dan distribusi energi melalui proyek survei seismik, optimalisasi aset, serta penerapan teknologi untuk meningkatkan produksi minyak.
PGEO Bidik Kapasitas Panas Bumi 1 GW pada 2028
Prospek PGEO juga mendapat perhatian analis seiring peningkatan profitabilitas dan rencana ekspansi kapasitas pembangkit.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Rizal Nur Rafly, mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PGEO dengan target harga Rp1.200 per saham.
Pandangan tersebut didukung pertumbuhan laba, peningkatan volume penjualan, ekspansi margin, serta keandalan operasional pembangkit panas bumi perseroan.
Dari sisi strategi bisnis, PGEO menargetkan kapasitas terpasang pembangkit panas bumi mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028.
Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy, Ahmad Yani, mengatakan perseroan terus mempercepat pengembangan proyek prioritas dan memperkuat kesiapan investasi untuk mendukung pertumbuhan kapasitas pembangkit.
"Target 1 GW pada 2028 menjadi tonggak penting dalam strategi pertumbuhan PGE. Kami optimistis dapat mencapainya melalui percepatan proyek-proyek prioritas, penguatan kesiapan investasi, serta optimalisasi aset yang sudah beroperasi," ujar Ahmad Yani dalam keterangan resmi yang dikutip Rabu (4/11/2026).
Menurut Rizal, sejumlah katalis yang berpotensi mendukung kinerja PGEO meliputi kemajuan proyek menuju target kapasitas 1 GW, perbaikan regulasi tarif panas bumi, serta akses terhadap pendanaan dengan biaya lebih rendah.
Namun, perseroan masih menghadapi risiko keterlambatan penyelesaian proyek, ketidakpastian penyesuaian tarif listrik panas bumi, dan proses finalisasi perjanjian jual beli listrik atau power purchase agreement (PPA).
Dengan demikian, keberlanjutan pertumbuhan laba PGAS, PGEO, dan ELSA pada periode mendatang akan dipengaruhi kemampuan masing-masing perseroan menjaga efisiensi biaya, mempertahankan aktivitas operasional, dan merealisasikan agenda pengembangan bisnisnya.

