Prospek saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mendapat perhatian di tengah fluktuasi harga emas global. Mirae Asset Sekuritas memangkas target harga saham ANTM dari Rp5.000 menjadi Rp3.150 per saham dengan mempertimbangkan prospek harga emas, produksi nikel, dan potensi perlambatan pertumbuhan laba pada 2027.
Harga emas spot sebelumnya sempat turun ke bawah USD4.000 per troy ounce sebelum kembali menguat melampaui level tersebut. Hingga perdagangan Kamis (5/11/2026), harga emas berada di kisaran USD4.127 per troy ounce, meningkat 1,32 persen sepanjang sesi.
Sementara itu, saham ANTM diperdagangkan pada level Rp2.750 per saham hingga pukul 15.00 WIB. Secara tahun berjalan (year-to-date/YtD), harga saham emiten pertambangan tersebut telah terkoreksi 13,02 persen.
Meski harga saham mengalami tekanan, kinerja keuangan Antam masih menunjukkan pertumbuhan sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M26).
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, penjualan bersih ANTM meningkat 23 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp88,48 triliun dari Rp72,03 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pasar domestik tetap menjadi kontributor utama dengan nilai penjualan Rp83,86 triliun atau sekitar 95 persen dari total penjualan bersih perseroan.
Dari sisi profitabilitas, laba bruto Antam tumbuh 42 persen menjadi Rp15,56 triliun dibandingkan Rp10,98 triliun pada 9M25. Laba usaha juga meningkat 53 persen menjadi Rp12,05 triliun dari sebelumnya Rp7,89 triliun.
Sementara itu, EBITDA perseroan mencapai Rp13,48 triliun, tumbuh 45 persen dibandingkan Rp9,33 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih per saham dasar atau earnings per share (EPS) turut meningkat 48 persen menjadi Rp367,78 dari Rp248,62.
Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menyampaikan bahwa pencapaian tersebut mencerminkan kemampuan perseroan mempertahankan pertumbuhan di tengah perubahan kondisi industri pertambangan.
"Kami terus memperkuat fundamental bisnis melalui optimalisasi operasional, penguatan strategi komersial, serta pengembangan portofolio usaha untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan," ujar Untung dalam keterangan resmi.
Penjualan Emas ANTM Capai Rp68,41 Triliun
Segmen emas masih mendominasi pendapatan Antam dengan kontribusi sekitar 77 persen terhadap total penjualan sepanjang Januari hingga September 2026.
Nilai penjualan emas mencapai Rp68,41 triliun, meningkat 17 persen dibandingkan Rp58,67 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi volume, penjualan emas tercatat sebesar 25.217 kilogram atau sekitar 810.745 troy ounce. Sementara itu, produksi emas yang berasal dari tambang perseroan mencapai 634 kilogram.
Segmen nikel, yang mencakup feronikel dan bijih nikel, menjadi kontributor terbesar kedua dengan porsi sekitar 19 persen terhadap total penjualan.
Pendapatan segmen tersebut meningkat 52 persen menjadi Rp16,98 triliun dari Rp11,15 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Secara operasional, produksi bijih nikel Antam mencapai 12,16 juta wet metric ton (wmt), sedangkan volume penjualannya tercatat sebesar 10,73 juta wmt.
Produksi feronikel mencapai 11.638 ton nikel dalam feronikel (TNi). Adapun penjualan feronikel meningkat 71 persen menjadi 13.971 TNi dibandingkan 8.182 TNi pada periode sebelumnya.
Pertumbuhan juga terjadi pada segmen bauksit dan alumina. Penjualannya meningkat 35 persen menjadi Rp2,64 triliun dari Rp1,95 triliun pada 9M25.
Produksi bauksit perseroan mencapai 2 juta wmt, sementara volume penjualan meningkat 49 persen menjadi 1,64 juta wmt.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira, menjelaskan bahwa peningkatan kinerja perseroan didukung pengelolaan modal kerja, pengendalian biaya, dan penerapan manajemen risiko.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga profitabilitas dan memperkuat posisi keuangan Antam secara berkelanjutan.
Mirae Pangkas Target Harga ANTM Jadi Rp3.150
Di tengah pertumbuhan kinerja keuangan tersebut, Mirae Asset Sekuritas mengambil pendekatan lebih konservatif terhadap prospek ANTM pada 2027.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Fauzan Luthfi Djamal, memangkas target harga saham ANTM dari sebelumnya Rp5.000 menjadi Rp3.150 per saham.
Penyesuaian tersebut mempertimbangkan potensi normalisasi harga emas, tekanan terhadap margin keuntungan, serta ketidakpastian kebijakan kuota produksi nikel pada tahun mendatang.
Mirae memperkirakan volume penjualan emas Antam pada 2027 dapat pulih menjadi 34,9 ton atau meningkat sekitar 8 persen secara tahunan.
Proyeksi tersebut mempertimbangkan ketersediaan pasokan emas dari Freeport serta target penjualan Antam pada 2026 yang berada di kisaran 34–36 ton.
Namun, dari sisi harga jual rata-rata atau average selling price (ASP), Mirae memperkirakan adanya normalisasi yang dapat memengaruhi pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas segmen emas.
Untuk bisnis nikel, Mirae memproyeksikan produksi bijih nikel ANTM pada 2027 berada di kisaran 13,95 juta wmt atau sekitar 1,16 juta wmt per bulan.
Asumsi tersebut didasarkan pada perkiraan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2027 yang lebih rendah, disertai proyeksi penurunan harga nikel di London Metal Exchange (LME) sebesar 6 persen.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Mirae memperkirakan laba bersih ANTM pada 2027 mencapai Rp9,40 triliun, turun sekitar 14 persen secara tahunan dan berada 18 persen di bawah estimasi konsensus.
Margin laba kotor perseroan juga diperkirakan melandai menjadi 15,2 persen, meskipun masih berada di atas asumsi skenario terburuk Mirae sebesar 11,3 persen.
Untuk tahun buku 2026, Mirae memproyeksikan pendapatan Antam mencapai Rp113,64 triliun, meningkat 34,40 persen dibandingkan Rp84,64 triliun pada 2025.
Sementara itu, laba bersih tahun penuh 2026 diperkirakan tumbuh 51 persen menjadi Rp10,88 triliun dari Rp7,20 triliun pada tahun sebelumnya.
Proyeksi tersebut menunjukkan adanya potensi perlambatan laba pada 2027 setelah pertumbuhan yang diperkirakan kuat sepanjang 2026.
Menurut Luthfi, penyesuaian target harga ANTM juga mencerminkan pandangan bahwa keuntungan dari bisnis emas berpotensi mendekati puncaknya, sementara kebijakan kuota nikel dan aliran dana asing ke pasar saham Indonesia masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Meski target harga diturunkan, Mirae menilai valuasi ANTM masih relatif tidak mahal setelah memperhitungkan proyeksi keuangan yang lebih konservatif.
Dengan demikian, prospek saham ANTM ke depan akan turut dipengaruhi perkembangan harga emas global, realisasi penjualan emas, kepastian kuota produksi nikel, serta kemampuan perseroan mempertahankan margin keuntungan.
