Emitenhub.com - PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 16 persen menjadi Rp4,25 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M26), dibandingkan Rp3,67 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski pendapatan meningkat, laba bersih emiten pengembang kawasan industri tersebut justru turun 38 persen menjadi Rp391,7 miliar dari Rp634,6 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.
Manajemen KIJA dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026), menjelaskan bahwa penurunan laba terutama dipengaruhi beban nonoperasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait restrukturisasi pembiayaan atau refinancing Senior Notes perseroan menjadi pinjaman bank.
Beban tersebut mencakup kerugian selisih kurs, biaya penghentian instrumen derivatif untuk lindung nilai (hedging), serta percepatan amortisasi yang berkaitan dengan Senior Notes yang akan jatuh tempo pada 2027.
Melalui refinancing, KIJA mengalihkan pembiayaan berbasis dolar Amerika Serikat (USD) menjadi pinjaman perbankan berdenominasi rupiah. Manajemen memperkirakan langkah tersebut dapat memberikan manfaat keuangan dalam jangka panjang, meskipun menimbulkan beban terhadap laba pada periode berjalan.
Dari sisi operasional, laba bruto konsolidasian meningkat 7 persen menjadi Rp1,58 triliun dari Rp1,47 triliun. Namun, margin laba bruto menyusut dari 40 persen menjadi 37 persen.
Sementara itu, EBITDA perseroan tumbuh 4 persen menjadi Rp1,36 triliun dibandingkan Rp1,31 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Posisi kas konsolidasian KIJA tercatat sebesar Rp3,15 triliun.
Pendapatan Infrastruktur Jadi Penopang Utama KIJA
Pilar Infrastructure menjadi penyumbang pendapatan terbesar KIJA sepanjang sembilan bulan pertama 2026 dengan kontribusi Rp2,24 triliun, meningkat 15 persen dibandingkan Rp1,95 triliun pada periode sebelumnya.
Segmen tersebut menyumbang sekitar 53 persen dari total pendapatan konsolidasian, sekaligus menjadi salah satu penopang pendapatan berulang (recurring revenue) perseroan.
Bisnis ketenagalistrikan mencatat pendapatan Rp1,51 triliun, meningkat dari Rp1,38 triliun pada 9M25. Kenaikan ini didukung pertumbuhan konsumsi listrik dari tenant kawasan industri di Kendal dan Cikarang.
Pendapatan jasa dan pemeliharaan juga tumbuh 33 persen menjadi Rp525,6 miliar dibandingkan Rp398,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didorong peningkatan aktivitas tenant di Kawasan Industri Kendal, kontribusi unit usaha lainnya, serta kenaikan tarif dan volume layanan di Cikarang.
Adapun Cikarang Dry Port membukukan pendapatan Rp211,8 miliar, naik dari Rp174,6 miliar seiring meningkatnya volume penanganan peti kemas.
Di sisi lain, pilar Land Development & Property menghasilkan pendapatan Rp1,91 triliun sepanjang 9M26, tumbuh 17 persen secara tahunan.
Kinerja segmen ini menunjukkan penguatan pada kuartal III-2026 dengan pendapatan sebesar Rp939,9 miliar selama Juli hingga September. Nilai tersebut hampir menyamai perolehan Rp974,9 miliar sepanjang semester pertama 2026.
Peningkatan pendapatan tersebut terutama berkaitan dengan pengakuan penjualan lahan industri pada kuartal ketiga.
Secara terperinci, penjualan tanah matang mencapai Rp1,63 triliun, meningkat dari Rp1,43 triliun pada 9M25.
Penjualan tanah dan bangunan pabrik melonjak 291 persen menjadi Rp126 miliar dari Rp32,2 miliar. Sementara itu, penjualan tanah dan rumah meningkat 18 persen menjadi Rp77,8 miliar.
Untuk pilar Leisure & Hospitality, KIJA membukukan pendapatan Rp97,6 miliar. Bisnis golf menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 65 persen terhadap pendapatan segmen tersebut.
Marketing Sales KIJA Capai Rp1,52 Triliun
Dari sisi pemasaran, KIJA mencatat marketing sales atau prapenjualan sekitar Rp1,52 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Realisasi tersebut didukung transaksi penjualan lahan industri di Cikarang, Kendal, dan kawasan lainnya, termasuk proyek yang dikembangkan melalui usaha patungan (joint venture).
Di Cikarang dan wilayah lain, transaksi penjualan mencakup lahan seluas 3 hektare kepada perusahaan tekstil asal Indonesia, 1 hektare kepada perusahaan ketenagalistrikan, serta 0,7 hektare kepada importir bahan bangunan asal Tiongkok.
Sementara itu, penjualan lahan di Kendal meliputi 7 hektare kepada produsen baterai asal Tiongkok dan 6 hektare kepada perusahaan kulit sintetis asal Tiongkok.
Perseroan juga mencatat transaksi penjualan lahan seluas 9,7 hektare kepada produsen peralatan rumah tangga asal Indonesia.
Meski mencatat sejumlah transaksi, manajemen mengakui kondisi pasar masih menantang karena investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Realisasi penjualan lahan industri juga dipengaruhi pertimbangan komersial serta jadwal investasi masing-masing calon pembeli.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, KIJA akan memperkuat hubungan dengan calon investor, menjaga peluang penjualan dalam sales pipeline, serta mendorong konversi permintaan menjadi transaksi yang terealisasi.
Manajemen masih melihat adanya permintaan terhadap kawasan industri yang dikelola perseroan, didukung ekosistem manufaktur, ketersediaan infrastruktur terintegrasi, dan posisi Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi industri.
KIJA juga akan terus mengembangkan basis pendapatan berulang melalui pilar Infrastructure untuk mendukung ketahanan kinerja di tengah perubahan kondisi pasar.
Perseroan memperkirakan kondisi bisnis dapat menjadi lebih kondusif pada 2027, sejalan dengan pengembangan kawasan industri dan potensi permintaan dari tenant.
Meski demikian, manajemen menegaskan bahwa kondisi makroekonomi dan kehati-hatian investor masih menjadi tantangan bagi pencapaian marketing sales sepanjang 2026.
Adapun panduan resmi mengenai target marketing sales tahun 2027 akan disampaikan perseroan pada awal tahun depan.
