Saham

Integrasi ELSA, PGAS, PGEO Jadi Daya Ungkit Pertamina Grup, tapi Simpan Risiko Berbeda

Ringkasan Cepat

Integrasi unit bisnis PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Pertamina Geothermal Tbk (PGEO) di bawah Pertamina Grup dinilai analis menjadi daya ungkit pertumbuhan lewat rantai upstream hingga energi bersih serta captive market yang memberi kepastian pendapatan. Namun, ketiganya menyimpan risiko berbeda, mulai dari volatilitas harga minyak bagi ELSA, tekanan margin harga LNG US$13/MMBtu bagi PGAS, hingga beban capex besar PGEO untuk mengejar target kapasitas 1,85 GW pa

5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi integrasi bisnis Elnusa, PGN, dan Pertamina Geothermal di bawah Pertamina Grup dari hulu hingga energi bersih

Ilustrasi integrasi bisnis Elnusa, PGN, dan Pertamina Geothermal di bawah Pertamina Grup dari hulu hingga energi bersih (Foto:PGAS)

Emitenhub.com - Integrasi unit bisnis antara PT Pertamina Geothermal Tbk (PGEO), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Elnusa Tbk (ELSA) di bawah bendera Pertamina Grup dinilai akan menjadi daya ungkit besar bagi perusahaan untuk mencetak pertumbuhan berkelanjutan.

Integrasi tersebut memberikan ruang bagi ketiga emiten untuk beradaptasi di tengah transisi menuju energi bersih, sembari menjaga pasokan energi nasional dalam batas aman.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan sinergi dengan ekosistem Pertamina memberikan nilai tambah bagi ketiga emiten. Bagi ELSA, aktivitas upstream Pertamina Grup seperti seismik, pengeboran, dan chemical Enhanced Oil Recovery (EOR) memberikan sumber pendapatan yang lebih dapat diprediksi ketimbang melalui mekanisme tender eksternal yang kompetitif.

Sementara bagi PGAS, Wafi melihat mekanisme harga sebesar US$13 per MMBtu yang diatur pemerintah dengan skema cost-sharing atau pembagian biaya menunjukkan sinergi dengan Pertamina juga memiliki kompromi. Artinya, tidak seluruh manfaat dari sinergi tersebut otomatis menjadi keuntungan PGAS.

Kemudian bagi PGEO, Wafi menilai dukungan Pertamina dapat memberikan akses permodalan untuk membiayai ekspansi besar yang dibidik perseroan. Saat ini, PGEO mengejar target kapasitas pembangkit dari 727 megawatt (MW) menjadi 1,85 gigawatt (GW) pada 2033, atau meningkat lebih dari 2,5 kali lipat.

"Sinergi ekosistem Pertamina valuable karena predictability dan captive market yang berbeda dari pure market competitors," ujar Wafi kepada Bisnis, Rabu (2/9/2026).

Sementara itu, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menjelaskan kekuatan utama ELSA, PGAS, dan PGEO adalah posisi mereka dalam satu ekosistem energi yang relatif terintegrasi.

ELSA bisa menangkap peningkatan aktivitas hulu Pertamina melalui seismic, drilling, well services, hingga chemical EOR. Menurutnya, hal itu sudah mulai terlihat dari pengembangan layanan EOR dan optimalisasi aset upstream Pertamina.

Kemudian, PGAS berperan di sisi midstream dan distribusi dengan menghubungkan sumber gas domestik maupun LNG ke pelanggan industri. Elandry menilai kian besar pasokan dari Pertamina Group, kian besar pula peluang peningkatan volume dan utilisasi infrastrukturnya.

Sementara itu, PGEO memiliki posisi strategis untuk menjadi kendaraan ekspansi energi bersih Pertamina.

"Jadi sinerginya bisa membentuk rantai dari upstream, midstream, renewables, yang pada akhirnya dapat meningkatkan utilisasi aset, recurring revenue, efisiensi investasi, serta memberikan visibility pendapatan yang lebih baik," ujar Elandry.

Ranjau Risiko di Balik Sinergi

Integrasi unit bisnis Pertamina Grup di sisi lain menyimpan risiko yang dirasakan masing-masing entitas. Elandry menjelaskan tantangan terbesar ELSA adalah siklus investasi hulu migas, volatilitas harga minyak, serta kemampuan mempertahankan margin ketika aktivitas drilling dan eksplorasi meningkat. Apalagi, sebagian lapangan migas Indonesia sudah mature sehingga membutuhkan teknologi dan investasi lebih tinggi untuk menahan natural decline.

Untuk PGAS, risikonya lebih banyak berasal dari kepastian pasokan, kebijakan harga gas dan LNG, serta spread antara biaya pengadaan dan harga jual.

"Kebijakan LNG US$13/MMBtu memang membantu industri, tetapi PGAS harus tetap menjaga keekonomian bisnisnya. Selain itu, saat ini pasar juga mencermati ketidakpastian terkait arbitrase dengan Gunvor," jelas Elandry.

Kemudian bagi PGEO, Elandry menjelaskan perusahaan menghadapi karakter bisnis geothermal yang capital intensive, periode pengembangan panjang, risiko pengeboran, kepastian PPA dan tarif listrik, serta potensi project delay. Kendati demikian, akses terhadap pendanaan jangka panjang dengan biaya kompetitif dapat menjadi mitigasi, seperti fasilitas pembiayaan internasional yang telah diperoleh PGEO untuk sejumlah proyek ekspansinya.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menjabarkan tantangan dan risiko yang dihadapi ELSA adalah ketergantungan pada fundamental harga minyak global, yang jika ternormalisasi bisa memoderasi permintaan jasa hulu.

Sementara PGAS menghadapi tekanan margin dari mekanisme harga LNG US$13/MMBtu yang bebannya dibagi dengan produsen. Dalam laporan keuangan kuartal I/2026, margin segmen eksplorasi dan produksi migas merosot cukup dalam, dari 2,17% pada kuartal I/2025 menjadi negatif 8,13% pada kuartal I/2026. Segmen ini mencatat rugi US$5,25 juta.

"Sementara bagi PGEO, perusahaan menghadapi kebutuhan capex besar untuk mencapai target 1,85 GW dari basis 727 MW di tengah suku bunga tinggi, ditambah risiko keterlambatan proyek yang lazim di sektor geothermal," ujar Abida.

Bagaimana Pasar Menakar Ketiganya

Dalam penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026), saham PGEO turun 0,48% ke Rp1.035, PGAS turun 1,29% ke Rp1.535, dan ELSA melemah 2,05% ke Rp715.

Abida menilai selera pasar terhadap saham-saham tersebut masih relatif positif karena captive business dari induk usaha memberikan visibility pendapatan yang lebih terukur dibandingkan emiten migas swasta murni.

"Namun tetap saja pergerakan saham tersebut juga dipengaruhi sentimen makro dan harga komoditas," kata Abida.

Adapun entitas bisnis Pertamina lainnya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE), dalam beberapa tahun terakhir santer dikabarkan akan melakukan IPO. Abida melihat jika ada entitas Pertamina baru melantai, respons pasar akan sangat bergantung pada kejelasan model bisnis dan captive market, mengingat ELSA dan PGAS sudah terbukti solid sementara PGEO menjadi contoh sukses monetisasi aset EBT yang menarik minat investor domestik maupun asing.

Sementara itu, Elandry menjelaskan pasar kini tidak lagi menilai emiten Pertamina Group hanya berdasarkan faktor BUMN atau dukungan grup, tetapi kian melihat kualitas fundamental masing-masing bisnis.

Menurutnya, ELSA dan PGAS relatif lebih mudah dibaca sebagai exposure terhadap ketahanan energi, cash flow, dan bisnis migas-gas yang sudah mature. Sedangkan PGEO menawarkan long-term growth story dari transisi energi, tetapi sensitivitasnya terhadap valuasi, suku bunga, capex, dan kecepatan realisasi proyek juga lebih tinggi.

"Hal ini terlihat ketika fundamental PGEO tetap bertumbuh, tetapi sahamnya sempat tertekan karena minimnya katalis jangka pendek dan faktor valuasi," ujar Elandry.

Mempertimbangkan kinerja saham ELSA, PGAS, dan PGEO itu, Elandry menilai apabila nantinya ada entitas Pertamina lain yang IPO, respons pasar akan sangat bergantung pada kombinasi valuation, governance, free float, penggunaan dana IPO, serta visibility pertumbuhan labanya.

Menurutnya, track record ELSA, PGAS, dan PGEO akan menjadi benchmark. Apabila emiten yang sudah tercatat mampu menunjukkan pertumbuhan laba, capital discipline, dan shareholder return yang konsisten, hal tersebut bisa meningkatkan risk appetite terhadap IPO Pertamina berikutnya.

Integrasi ELSA, PGAS, dan PGEO di bawah Pertamina Grup menawarkan rantai upstream hingga energi bersih yang memberi kepastian pendapatan lewat captive market, sekaligus menyimpan risiko yang berbeda di tiap entitas, mulai dari siklus harga minyak, tekanan margin gas, hingga beban capex geothermal. Para analis menilai pasar kini menimbang ketiganya berdasarkan kualitas fundamental, bukan semata status BUMN. Rekam jejak mereka pun akan menjadi tolok ukur bagi respons pasar terhadap rencana IPO entitas Pertamina berikutnya, dengan disiplin modal dan konsistensi pertumbuhan laba sebagai penentu selera investor ke depan.

Iklan