Saham

IHSG Anjlok 3,49%, Asing Jual Rp1,08 Triliun: Level 5.000 Bakal Jebol?

Ringkasan Cepat

IHSG anjlok 3,49% ke 5.098,06 pada 29 Oktober 2026, diiringi net sell investor asing Rp1,08 triliun. Analis Kiwoom dan MNC Sekuritas memperingatkan risiko pengujian support 5.000–4.907. Jika level 4.907 ditembus, IHSG berpotensi bergerak menuju 4.768–4.845. Tekanan rupiah, ketidakpastian The Fed, dan isu reformasi pasar modal turut membayangi peluang pemulihan indeks hingga akhir tahun.

• 4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi IHSG anjlok 3,49% ke level 5.098,06 pada 29 Oktober 2026, di tengah aksi jual bersih investor asing Rp1,08 triliun dan risiko penurunan menuju support 5.000.

Ilustrasi IHSG anjlok 3,49% ke level 5.098,06 pada 29 Oktober 2026, di tengah aksi jual bersih investor asing Rp1,08 triliun dan risiko penurunan menuju support 5.000. (Foto:IHSG)

Emitenhub.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi risiko pelemahan lanjutan hingga akhir 2026 setelah terkoreksi 3,49 persen pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Sejumlah analis memperkirakan indeks berpotensi menguji level psikologis 5.000, bahkan bergerak menuju area 4.907 apabila tekanan jual dan arus keluar dana asing terus berlanjut.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup pada level 5.098,06, turun 184,26 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.282,31. Pelemahan tersebut terjadi setelah indeks sempat menguat 0,31 persen pada Rabu (28/10/2026).

Tekanan pasar turut tercermin dari aktivitas investor asing yang mencatatkan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp1,08 triliun dalam sehari. Dengan demikian, akumulasi jual bersih asing sejak awal tahun mencapai Rp97,78 triliun.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai tekanan pasar saham domestik tidak hanya dipengaruhi kondisi fundamental, tetapi juga perubahan persepsi risiko dan sentimen terhadap pasar keuangan Indonesia.

Kondisi tersebut berlangsung ketika IHSG telah melemah sekitar 41 persen sejak awal 2026, disertai tekanan terhadap rupiah dan peningkatan risiko investasi di pasar domestik.

Dari pasar surat utang, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun berada di kisaran 7,7 persen. Sementara itu, credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun meningkat sekitar 52 persen dibandingkan akhir 2025 menjadi 103,48 basis poin.

Kenaikan CDS mencerminkan meningkatnya biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar, yang menjadi salah satu indikator persepsi risiko investor terhadap Indonesia.

IHSG Berisiko Uji Support 4.907 hingga 4.768

Liza memperkirakan IHSG masih berpotensi menguji area penopang harga atau support pada rentang 5.000 hingga 4.907 apabila tekanan jual berlanjut.

"Jika IHSG turun lagi, kita akan menguji level support 5.000–4.907 yang merupakan level terendah sebelumnya. Di sini akan jadi pertaruhan, apakah IHSG akan melawan atau menyerah," ujar Liza, Kamis (29/10/2026).

Pandangan serupa disampaikan Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana. Menurutnya, ketidakpastian pasar global masih menjadi salah satu faktor yang membatasi peluang penguatan IHSG dalam jangka pendek.

Herditya menempatkan level 4.907 sebagai area support penting yang perlu diperhatikan investor.

Apabila indeks menembus level tersebut, risiko penurunan berikutnya diperkirakan mengarah ke rentang 4.768 hingga 4.845.

Meski demikian, Herditya menilai peluang pemulihan menjelang akhir tahun belum sepenuhnya tertutup.

Berdasarkan pengamatan historis selama lima hingga sepuluh tahun terakhir, IHSG cenderung mencatat penguatan pada Desember, meskipun sempat mengalami koreksi pada periode yang sama pada 2022 dan 2024.

Pola musiman tersebut menunjukkan adanya peluang penguatan, tetapi tidak menjamin IHSG akan mengalami pemulihan pada Desember 2026.

Tekanan Rupiah dan Arus Dana Asing Jadi Penentu Pemulihan

Selain indikator teknikal, pergerakan IHSG hingga akhir tahun dinilai masih bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, kebijakan moneter global, serta kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai pemulihan indeks masih rentan karena tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda.

Di Amerika Serikat, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75 hingga 4 persen di tengah inflasi yang masih tinggi.

Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 5 persen, sedangkan harga minyak dunia tetap tinggi.

Kombinasi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sekaligus membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter domestik.

Rully menilai perbaikan IHSG membutuhkan pemulihan arus modal asing yang lebih konsisten serta stabilisasi nilai tukar rupiah.

Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai keputusan The Fed mempertahankan suku bunga belum cukup menjadi katalis untuk mendorong penguatan pasar saham Indonesia.

Menurutnya, perbedaan pandangan di antara pejabat bank sentral AS mengenai arah kebijakan suku bunga turut meningkatkan kehati-hatian investor global dalam menempatkan dana pada aset berisiko.

Dari dalam negeri, Nafan menyoroti persoalan transparansi dan tata kelola pasar modal, termasuk ketidakpastian mengenai potensi perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.

Sentimen tersebut dinilai dapat memengaruhi keputusan investor asing dalam mempertahankan maupun mengurangi kepemilikan aset saham domestik.

Nafan memperkirakan volatilitas IHSG masih dapat berlangsung hingga akhir 2026. Namun, peluang pemulihan tetap terbuka apabila reformasi pasar modal berjalan lebih cepat dan mampu memperbaiki kepercayaan investor.

Upaya tersebut mencakup penguatan transparansi kepemilikan saham, perbaikan tata kelola emiten, serta langkah pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan BEI dalam menjaga kredibilitas pasar.

Di tengah kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor mencermati saham perbankan dengan kualitas aset dan likuiditas yang kuat, perusahaan komoditas dengan arus kas operasional solid, serta sektor barang konsumsi defensif.

Dengan posisi IHSG yang mendekati 5.000, perkembangan arus dana asing, stabilitas rupiah, dan pelaksanaan reformasi pasar modal menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan dalam menilai peluang pemulihan indeks menjelang akhir tahun.

Iklan