Emitenhub.com - Saham PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS), emiten hiburan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, mengalami tekanan hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Pelemahan tersebut membuat harga saham RANS semakin jauh dari harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp170 per saham pada Juli 2026.
Dalam perdagangan tersebut, saham RANS sempat turun 6,45 persen atau 8 poin hingga menyentuh Rp116 per saham. Dibandingkan harga tertingginya di Rp272 per saham, nilai saham perseroan telah terkoreksi sekitar 57 persen.
Penurunan tersebut turut memangkas kapitalisasi pasar RANS dari kisaran Rp3,4 triliun pada posisi tertingginya menjadi sekitar Rp1,4 triliun.
Di tengah tekanan harga saham, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) memberikan rekomendasi jual atau sell untuk RANS pada perdagangan Kamis (29/10/2026), dengan area penopang harga atau support di Rp114 per saham.
Sementara itu, tiga saham lain yang masuk rekomendasi beli BRIDS adalah PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Dari sisi teknikal, analisis Bloomberg Technoz menunjukkan saham RANS masih bergerak dalam tren penurunan untuk jangka pendek hingga menengah.
Pola pergerakan harga membentuk rangkaian titik tertinggi dan terendah yang terus menurun atau lower high dan lower low, mengindikasikan tekanan jual belum mereda.
Area Rp110 per saham menjadi salah satu level penting yang perlu dicermati. Apabila harga menembus level tersebut, analisis teknikal menunjukkan risiko pelemahan lanjutan menuju Rp100 hingga di bawah Rp90 per saham.
Skenario penurunan hingga Rp80 per saham juga disebut sebagai salah satu risiko apabila tekanan jual dan kondisi ARB berlanjut. Namun, level tersebut merupakan proyeksi teknikal, bukan kepastian arah harga saham.
Pendapatan RANS Turun, Valuasi Jadi Sorotan
Tekanan terhadap saham RANS berlangsung ketika kinerja pendapatan perseroan mengalami penurunan pada semester I/2026.
Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan RANS tercatat sebesar Rp149 miliar sepanjang Januari hingga Juni 2026, turun lebih dari 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan terjadi pada dua lini bisnis utama perseroan. Pendapatan segmen hiburan dan gaya hidup menyusut sekitar 10 persen, sedangkan penjualan produk makanan, minuman, dan kecantikan turun sekitar 20 persen.
Selain perkembangan pendapatan, valuasi RANS turut menjadi perhatian sejumlah analis sejak perseroan melaksanakan IPO.
Panin Sekuritas sebelumnya menilai valuasi saham RANS saat IPO berada pada kisaran price-to-earnings ratio (PER) 28 hingga 35 kali. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata perusahaan sejenis sebesar 18,7 kali.
Equity Research Analyst Panin Sekuritas Sarkia Adelia menilai valuasi tersebut tergolong premium jika dibandingkan dengan kinerja historis perseroan.
"Menurut kami, valuasi ini premium berbasis kinerja historis dengan aktivitas bisnis masih bergantung pada talent utama," ujar Sarkia dalam kajian risetnya.
Penilaian serupa disampaikan Semesta Research dari PT Semesta Indovest Sekuritas.
Dalam kajiannya, Semesta Research mencatat rasio harga terhadap nilai buku atau price-to-book value (PBV) RANS sebesar 6,3 kali, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri sebesar 5,8 kali.
Sementara itu, rasio PER RANS dalam analisis tersebut mencapai 37,8 kali.
Perbandingan valuasi itu merupakan hasil kajian analis pada periode sebelumnya dan tidak serta-merta mencerminkan valuasi saham RANS pada harga perdagangan terbaru.
Dengan harga saham yang telah terkoreksi sekitar 57 persen dari puncaknya, perkembangan kinerja keuangan dan kemampuan perseroan mempertahankan pertumbuhan bisnis menjadi faktor yang perlu dicermati dalam menilai kondisi fundamental RANS.

