Emitenhub.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual pada perdagangan sesi II, Senin (12/10/2026). Indeks anjlok hingga 2,8% ke level 5.921,7 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Pelemahan indeks turut menyeret sejumlah saham hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sedikitnya delapan saham mengalami penurunan tajam pada perdagangan siang tersebut.
Saham PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN) tercatat merosot 14,83% menjadi Rp402 per saham. Penurunan juga dialami saham HELI sebesar 14,74% ke Rp266 dan TRIN yang terkoreksi 14,71% menjadi Rp174 per saham.
Saham SAFE melemah 14,71% ke level Rp870, sedangkan GRPH turun 14,58% menjadi Rp82 per saham. Tekanan serupa terjadi pada LUCY yang kehilangan 10% ke Rp153 dan AMMS yang turun 10% ke Rp189 per saham.
Adapun saham GRPM terkoreksi 9,79% menjadi Rp129 per saham.
Aktivitas perdagangan mencatat volume sebesar 51,45 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp9,41 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,45 juta kali transaksi.
Sebanyak 625 saham berada di zona merah. Hanya 100 saham yang menguat, sementara 66 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Konflik Timur Tengah Tekan Sentimen Pasar Saham
Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang membayangi perdagangan saham domestik. Konflik tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan tekanan inflasi global.
Situasi keamanan kawasan kembali memburuk setelah Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, mengalami serangan pada Minggu (11/10/2026). Insiden tersebut terjadi sehari setelah serangan kelompok Houthi menewaskan sejumlah orang di bandara yang sama.
Gangguan keamanan juga terjadi di jalur pelayaran sekitar Oman. Sebuah kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran serangan drone di dekat kawasan Sohar, di luar Selat Hormuz.
Ketegangan bertambah setelah Iran memperingatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur digital yang berkaitan dengan kepentingan AS di kawasan Asia Barat apabila konflik kembali meningkat.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, menyebut jaringan kabel komunikasi, pusat data, dan fasilitas kecerdasan buatan (AI) sebagai aset yang dapat menjadi sasaran.
Menurut Rezaei, nilai infrastruktur teknologi yang berkaitan dengan AS di kawasan tersebut melampaui US$2 triliun.
Dalam wawancara dengan Press TV, Rezaei menegaskan bahwa fasilitas tersebut belum dimasukkan dalam daftar target serangan Iran. Namun, cakupan sasaran dapat diperluas apabila perang kembali terjadi.
Ancaman tersebut menambah ketidakpastian geopolitik yang dihadapi pasar keuangan global, terutama terkait keamanan infrastruktur strategis dan stabilitas pasokan energi.
Risiko Kenaikan Suku Bunga The Fed Jadi Perhatian
Selain perkembangan geopolitik, pasar turut menghadapi kekhawatiran mengenai kemungkinan kenaikan lanjutan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).
Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026 menunjukkan perhatian pejabat bank sentral AS terhadap risiko inflasi yang masih tinggi.
Dalam pertemuan tersebut, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75% hingga 4%. Keputusan itu diambil untuk menjaga stabilitas harga di tengah tekanan inflasi.
Sejumlah pejabat The Fed menilai kebijakan moneter yang lebih ketat masih diperlukan untuk mengendalikan risiko kenaikan harga. Namun, risalah tersebut tidak menetapkan keputusan mengenai kenaikan suku bunga berikutnya.
Perkembangan harga energi akibat konflik Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan karena dapat memperbesar tekanan inflasi AS.
Ketidakpastian arah suku bunga tersebut menambah tekanan sentimen terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Catatan akurasi: Terdapat perbedaan laporan jumlah korban serangan Bandara King Khalid pada 10 Oktober 2026. Sejumlah pemberitaan mencatat 13 korban tewas, sedangkan bahan menyebut 12 orang. Karena itu, jumlah korban tidak dicantumkan dalam naskah. Data perdagangan IHSG juga merupakan posisi intraday sesi II, bukan penutupan perdagangan.
Risalah FOMC September menunjukkan dukungan terhadap kenaikan suku bunga saat itu, tetapi tidak berarti The Fed telah memutuskan kenaikan berikutnya.


