Saham

Harga Emas Melandai, Bagaimana Nasib Saham ANTM, BRMS, MDKA hingga 2027?

Ringkasan Cepat

Prospek emiten tambang emas ANTM, AMMN, BRMS, EMAS, dan MDKA masih dinilai positif hingga akhir 2026 karena rata-rata harga emas lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Namun, saat harga emas mulai melandai, pertumbuhan kinerja pada 2027 diperkirakan lebih bergantung pada peningkatan produksi. Analis menyoroti pemulihan tambang BRMS dan peningkatan produksi Tambang Emas Pani milik MDKA, dengan risiko dari penurunan harga emas serta pelaksanaan proyek.

• 4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi penurunan harga emas dunia dan prospek saham tambang emas ANTM, BRMS, MDKA, AMMN, serta EMAS menjelang 2027.

Ilustrasi penurunan harga emas dunia dan prospek saham tambang emas ANTM, BRMS, MDKA, AMMN, serta EMAS menjelang 2027. (Foto:MDKA)

Emitenhub.com - Prospek emiten tambang emas diperkirakan masih positif hingga akhir 2026, meskipun harga emas dunia menunjukkan tren penurunan sejak kuartal kedua. Namun, memasuki 2027, pertumbuhan laba perusahaan tambang emas diproyeksikan semakin bergantung pada peningkatan volume produksi, bukan hanya kenaikan harga komoditas.

Equity Analyst KB Valbury Sekuritas Ashalia F. Yuliana menilai tingginya rata-rata harga emas sepanjang 2026 masih menjadi faktor pendukung kinerja emiten yang memiliki eksposur terhadap komoditas tersebut.

Berdasarkan data KB Valbury Sekuritas, rata-rata harga emas global pada kuartal I/2026 mencapai US$4.860 per troy ounce, sebelum turun menjadi US$4.521 pada kuartal II/2026.

Pelemahan berlanjut pada kuartal III/2026 dengan rata-rata harga emas sebesar US$4.260 per troy ounce. Sementara itu, rata-rata harga pada kuartal IV/2026 hingga akhir Oktober berada di kisaran US$4.125 per troy ounce.

Meski mengalami penurunan secara kuartalan, harga emas sepanjang 2026 masih berada di atas rata-rata tahun sebelumnya.

"Apabila dirata-ratakan sepanjang 2026 ini, harga emas global masih lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Jadi, nantinya kami masih mengekspektasikan emiten-emiten emas pada tahun ini masih akan mencatatkan pertumbuhan karena didorong oleh kenaikan harga emas," ujar Ashalia, Jumat (30/10/2026).

Dalam cakupan riset KB Valbury Sekuritas, emiten yang memiliki eksposur terhadap bisnis emas meliputi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Namun, Ashalia mengingatkan bahwa kenaikan harga emas tidak selalu memberikan dampak yang sama terhadap kinerja setiap perusahaan.

Kapasitas produksi, kadar bijih, serta kemampuan meningkatkan volume penjualan menjadi faktor yang menentukan seberapa besar kenaikan harga komoditas dapat dikonversi menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba.

Produksi Emas Jadi Penentu Kinerja pada 2027

Memasuki 2027, KB Valbury Sekuritas memperkirakan kontribusi kenaikan harga emas terhadap pertumbuhan kinerja emiten tidak lagi sebesar pada 2026.

Dengan demikian, perusahaan yang mampu meningkatkan volume produksi berpeluang memperoleh tambahan pendapatan meskipun harga emas tidak kembali mencapai level tertingginya.

Ashalia mencontohkan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), yang menghadapi kendala produksi akibat kegiatan pushback operation di tambang emas Poboya, Palu, pada awal 2026.

Pekerjaan tersebut baru selesai pada Juli 2026 sehingga aktivitas penambangan pada tujuh bulan pertama belum berjalan optimal.

Selama periode itu, BRMS mengandalkan persediaan bijih emas atau stockpile dengan kadar relatif rendah, yang membatasi hasil produksi perseroan.

Normalisasi aktivitas penambangan setelah penyelesaian pekerjaan tersebut menjadi salah satu faktor yang dinilai dapat mendukung pemulihan produksi BRMS.

Dari sisi prospek saham, Ashalia menilai sejumlah emiten emas telah mengalami penurunan valuasi seiring dengan tekanan pasar saham domestik.

Meski demikian, KB Valbury Sekuritas masih meninjau valuasi masing-masing perusahaan dan menunggu kelengkapan laporan keuangan sembilan bulan pertama 2026 sebelum memperbarui rekomendasi.

Selain harga emas yang berpotensi kembali melemah, risiko kelebihan pasokan atau oversupply emas di pasar domestik juga menjadi perhatian.

Menurut Ashalia, meningkatnya pasokan tanpa diimbangi penyerapan pasar dapat memengaruhi penjualan dan profitabilitas perusahaan tambang emas.

MDKA dan BRMS Andalkan Ekspansi Tambang

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta turut menilai prospek perusahaan tambang emas masih didukung peningkatan produksi dan pengembangan kapasitas tambang baru.

Dalam riset yang diterbitkan pada Agustus 2026, Ryan memperkirakan EBITDA PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) pada kuartal II/2026 mencapai US$339 juta, meningkat 39 persen secara kuartalan.

Proyeksi tersebut didukung peningkatan produksi melalui teknologi heap leach di Tambang Emas Pani, yang diperkirakan melonjak 758 persen secara kuartalan menjadi 15.594 ons emas.

Pada saat riset diterbitkan, Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham MDKA dengan target harga Rp4.500 per saham.

Namun, Ryan mengingatkan adanya risiko dalam pelaksanaan proyek Tambang Emas Pani serta potensi tekanan terhadap harga emas akibat kebijakan moneter ketat Federal Reserve.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey memperkirakan kinerja BRMS mulai memasuki tahap pemulihan setelah penyelesaian pekerjaan pushback di area River Reef pada Juli 2026.

Pemulihan tersebut diperkirakan ditopang normalisasi kadar bijih emas pada semester II/2026 serta kepastian penyerapan hasil produksi oleh Antam.

BRMS memiliki kesepakatan penjualan emas kepada ANTM hingga 120 kilogram per bulan yang berlaku sampai Juni 2028.

Dalam jangka menengah, prospek pertumbuhan produksi BRMS juga didukung rencana peningkatan kapasitas fasilitas pengolahan carbon-in-leach (CIL) menjadi 2.000 ton bijih per hari.

Selain itu, pengembangan tambang bawah tanah dengan kadar emas sekitar 3,5 hingga 4,9 gram per ton dijadwalkan mulai memberikan kontribusi pada semester II/2027.

Kedua pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya BRMS meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi emas dalam beberapa tahun mendatang.

Dengan harga emas yang mulai melandai dari puncaknya pada awal 2026, kemampuan meningkatkan produksi, menjaga biaya operasional, dan memastikan penyerapan hasil tambang diperkirakan menjadi faktor yang semakin menentukan kinerja ANTM, AMMN, BRMS, EMAS, dan MDKA pada 2027.

Iklan