Emitenhub.com - PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 32 persen menjadi Rp136,77 miliar sepanjang Januari hingga September 2026. Namun, perbaikan kinerja keuangan tersebut berbanding terbalik dengan pergerakan saham BACH yang menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) pada perdagangan Selasa (27/10/2026).
Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2026, laba bersih perseroan meningkat dari Rp103,58 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan kenaikan tersebut, laba per saham dasar naik dari Rp30 menjadi Rp37.
Penjualan BACH mencapai Rp1,44 triliun, meningkat dari Rp1,21 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Sementara itu, beban pokok penjualan naik menjadi Rp1,12 triliun dari sebelumnya Rp1 triliun.
Pertumbuhan penjualan mendorong laba kotor perseroan meningkat menjadi Rp318,22 miliar, dibandingkan Rp213,05 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi operasional, beban penjualan bertambah dari Rp34,64 miliar menjadi Rp39,57 miliar. Beban umum dan administrasi juga meningkat menjadi Rp30 miliar dari Rp23,5 miliar.
Sementara itu, pendapatan operasi lainnya menyusut menjadi Rp743,95 juta dari Rp4,64 miliar. Sebaliknya, beban operasi lainnya meningkat menjadi Rp36,8 miliar, dibandingkan Rp13,08 miliar pada periode sebelumnya.
Meski sejumlah beban mengalami kenaikan, BACH masih membukukan pertumbuhan laba usaha menjadi Rp212,57 miliar dari Rp146,46 miliar pada Januari hingga September 2025.
Di luar kegiatan operasional, pendapatan keuangan perseroan turun menjadi Rp120,25 juta dari Rp703,63 juta. Beban keuangan justru meningkat menjadi Rp35,69 miliar, dibandingkan Rp12,72 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun pajak final tercatat sebesar Rp13,83 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp13,89 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.
Aset BACH Naik, Liabilitas Ikut Membesar
Dari sisi neraca, total aset BACH meningkat menjadi Rp2,32 triliun per 30 September 2026, dibandingkan Rp1,23 triliun pada akhir Desember 2025.
Peningkatan aset tersebut diikuti pertumbuhan ekuitas dari Rp535,95 miliar menjadi Rp931,76 miliar.
Namun, total liabilitas perseroan juga meningkat dari Rp696,67 miliar pada akhir 2025 menjadi sekitar Rp1,39 triliun per September 2026.
Sementara itu, saham BACH mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (27/10/2026). Harga saham perseroan turun 6,92 persen atau 18 poin dan ditutup pada level Rp242 per saham, menyentuh batas ARB.
Dengan demikian, pertumbuhan laba dan aset BACH sepanjang sembilan bulan pertama 2026 berlangsung di tengah peningkatan liabilitas serta tekanan harga saham di pasar sekunder.

