Saham

PTBA Kaji Buyback Saham, Laba Bersih Melonjak 218% Jadi Rp2,65 Triliun

Ringkasan Cepat

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tengah mengkaji kemungkinan pembelian kembali saham atau buyback sebagai salah satu opsi strategis untuk menjaga nilai perusahaan. Kajian dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar, likuiditas, dan kebutuhan pengembangan bisnis. Pada semester I/2026, laba bersih PTBA melonjak 218% menjadi Rp2,65 triliun, sementara pendapatan tumbuh 8% menjadi Rp22,03 triliun. Manajemen belum menetapkan keputusan pelaksanaan buyback dan akan menyampaikan keterbukaan informasi apabila

• 2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terkait kajian buyback saham dan lonjakan laba bersih sebesar 218% menjadi Rp2,65 triliun pada semester I/2026.

Ilustrasi PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terkait kajian buyback saham dan lonjakan laba bersih sebesar 218% menjadi Rp2,65 triliun pada semester I/2026. (Foto:PTBA)

Emitenhub.com - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tengah mempertimbangkan pembelian kembali saham atau buyback sebagai salah satu opsi strategis untuk menjaga nilai perusahaan di tengah ketidakpastian pasar modal. Namun, emiten batu bara tersebut belum mengambil keputusan mengenai pelaksanaan aksi korporasi tersebut.

Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno mengatakan, perseroan sedang mengevaluasi sejumlah langkah dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kebutuhan pendanaan, serta kepentingan pemegang saham dalam jangka panjang.

Menurut Eko, setiap keputusan akan didasarkan pada prinsip kehati-hatian, tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG), serta ketentuan regulasi yang berlaku.

"Kami memahami pentingnya merespons dinamika pasar secara bijak. Saat ini, manajemen PTBA tengah melakukan kajian mendalam atas berbagai opsi strategis, termasuk potensi buyback saham," ujar Eko dalam keterangan resmi yang dikutip Minggu (25/10/2026).

Selain perkembangan pasar modal, PTBA turut mempertimbangkan kondisi makroekonomi dan tren industri energi sebelum menentukan langkah korporasi.

Aspek likuiditas, kebutuhan modal kerja, serta rencana pengembangan bisnis jangka panjang juga menjadi bagian dari evaluasi manajemen.

Laba PTBA Melonjak 218 Persen pada Semester I/2026

Di tengah kajian tersebut, PTBA mencatat perbaikan kinerja keuangan sepanjang enam bulan pertama 2026.

Pendapatan perseroan mencapai Rp22,03 triliun, meningkat 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih tumbuh 218 persen secara tahunan menjadi Rp2,65 triliun.

Pertumbuhan tersebut didukung pemulihan aktivitas operasional pada kuartal II/2026, peningkatan penjualan ekspor, serta perbaikan harga jual rata-rata batu bara.

Dari sisi produksi, PTBA menghasilkan 19,45 juta ton batu bara sepanjang semester I/2026. Pada periode yang sama, volume penjualan tercatat sebesar 21,10 juta ton.

Penjualan ke pasar ekspor mencapai 10,33 juta ton atau meningkat sekitar 5 persen dibandingkan semester I/2025.

Adapun penjualan domestik tercatat sebanyak 10,77 juta ton, setara sekitar 51 persen dari keseluruhan volume penjualan perseroan.

PTBA menyatakan pemenuhan kebutuhan batu bara dalam negeri tetap menjadi prioritas untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Sementara itu, manajemen akan melanjutkan upaya peningkatan efisiensi biaya, penguatan kegiatan operasional, dan transformasi bisnis.

Eko memastikan apabila kajian tersebut menghasilkan keputusan untuk melaksanakan buyback maupun aksi korporasi lainnya, PTBA akan menyampaikan informasi resmi kepada publik sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Iklan