Saham

Laba PTBA Meroket 218% Tembus Rp2,65 Triliun di Semester I/2026, Beban Pokok Ditekan

Ringkasan Cepat

PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan lonjakan laba entitas induk 218,10% menjadi Rp2,65 triliun pada semester I/2026, ditopang pendapatan yang tumbuh 7,70% menjadi Rp22,03 triliun dan penurunan beban pokok. Laba kotor melesat 89,02% menjadi Rp4,25 triliun, sementara kontribusi ventura bersama dan penghasilan komprehensif turut melonjak, dengan total aset naik menjadi Rp48,10 triliun.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi lonjakan laba Bukit Asam pada semester I/2026 yang ditopang kenaikan pendapatan dan efisiensi beban pokok

Ilustrasi lonjakan laba Bukit Asam pada semester I/2026 yang ditopang kenaikan pendapatan dan efisiensi beban pokok(Foto:PTBA)

Emitenhub.com - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan peningkatan kinerja yang signifikan pada semester I/2026, dengan pendapatan dan laba yang kompak tumbuh.

Laba periode berjalan PTBA yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,65 triliun atau Rp230 per saham pada semester I/2026. Nilai laba tersebut melonjak 218,10% dibandingkan Rp833,04 miliar atau Rp72 per saham pada semester I/2025.

Berdasarkan laporan keuangan interim konsolidasian PTBA dan entitas anak per 30 Juni 2026 yang dipublikasikan pada Senin, 31 Agustus 2026, pendapatan perseroan hingga 30 Juni 2026 mencapai Rp22,03 triliun, tumbuh 7,70% dari Rp20,45 triliun pada periode sama 2025.

Pertumbuhan pendapatan tersebut diiringi penurunan beban pokok pendapatan. Beban ini turun 2,33% menjadi Rp17,78 triliun dari Rp18,21 triliun pada semester I/2025.

Kondisi tersebut mendorong laba kotor PTBA melesat 89,02% menjadi Rp4,25 triliun pada semester I/2026, dari Rp2,25 triliun pada semester I/2025.

Di sisi lain, beban umum dan administrasi PTBA meningkat 15,10% menjadi Rp1,17 triliun dari Rp1,01 triliun pada semester I/2025. Sementara itu, beban penjualan dan pemasaran PTBA juga naik 8,23% menjadi Rp417,75 miliar dari Rp385,97 miliar pada semester I/2025.

Perseroan juga mencatat penghasilan lainnya-neto sebesar Rp161,40 miliar pada semester I/2026. Nilai tersebut melambung 138,69% dibandingkan Rp67,62 miliar pada semester I/2025. Dengan demikian, laba usaha PTBA melonjak 208,74% menjadi Rp2,82 triliun pada semester I/2026, dari Rp914,64 miliar pada semester I/2025.

Dari sisi nonoperasional, penghasilan keuangan PTBA tercatat Rp108,58 miliar pada semester I/2026, naik 5,94% dari Rp102,49 miliar pada periode sama 2025. Sebaliknya, biaya keuangan turun 24,73% menjadi Rp98,99 miliar dari Rp131,51 miliar pada semester I/2025.

PTBA juga membukukan bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp438,30 miliar pada semester I/2026. Nilai tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan Rp209,86 miliar pada semester I/2025.

Alhasil, laba sebelum pajak penghasilan PTBA mencapai Rp3,27 triliun pada semester I/2026. Angka ini melejit 198,66% dari Rp1,10 triliun pada semester I/2025.

Beban pajak penghasilan meningkat 145,87% menjadi Rp628,38 miliar dari Rp255,58 miliar. Setelah memperhitungkan pajak, laba periode berjalan PTBA mencapai Rp2,64 triliun, melonjak 214,72% dibandingkan Rp839,90 miliar pada semester I/2025.

Dari jumlah tersebut, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,65 triliun. Sementara itu, kepentingan nonpengendali mencatat rugi Rp6,54 miliar, berbalik dari laba Rp6,86 miliar pada semester I/2025.

Selain laba bersih, PTBA mencatat peningkatan signifikan pada penghasilan komprehensif lain. Penghasilan komprehensif lain setelah pajak PTBA mencapai Rp1,41 triliun pada semester I/2026, melonjak 991,85% dibandingkan Rp129,22 miliar pada semester I/2025.

Komponen terbesar berasal dari pengukuran kembali liabilitas imbalan kerja sebesar Rp893,28 miliar. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan terkait Rp196,52 miliar, nilainya menjadi Rp696,76 miliar.

Selanjutnya, selisih kurs dari penjabaran laporan keuangan entitas anak tercatat Rp43,25 miliar. Pada semester I/2025, pos ini justru membukukan rugi Rp26,36 miliar.

Bagian penghasilan komprehensif lain dari ventura bersama berupa selisih kurs dari penjabaran laporan keuangan mencapai Rp690,12 miliar. Angka ini meningkat tajam dari Rp35,01 miliar.

Alhasil, jumlah penghasilan komprehensif periode berjalan PTBA mencapai Rp4,05 triliun, melonjak 318,34% dibandingkan Rp969,12 miliar pada semester I/2025.

Jumlah penghasilan komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp4,06 triliun, sedangkan yang dapat diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali tercatat negatif Rp6,54 miliar.

Total aset PTBA per 30 Juni 2026 sebesar Rp48,10 triliun, naik 9,53% dibandingkan Rp43,92 triliun per Desember 2025. Adapun jumlah liabilitas dan ekuitas emiten batu bara tersebut per Juni 2026 masing-masing sebesar Rp22,76 triliun dan Rp25,34 triliun.

Rapor semester I/2026 menempatkan PTBA di jalur pemulihan yang kuat, dengan laba entitas induk yang lebih dari tiga kali lipat ditopang efisiensi beban pokok dan lonjakan kontribusi ventura bersama. Penguatan aset serta penghasilan komprehensif yang melesat menambah bantalan bagi perseroan memasuki paruh kedua. Ke depan, arah kinerja PTBA akan bergantung pada pergerakan harga batu bara dan konsistensi perseroan menjaga struktur biaya yang sudah membaik.

Iklan