Saham

Hashim Mundur, ISB Lepas Saham WIFI Rp4,06 Triliun, Fadel Jadi Komisaris Utama

Ringkasan Cepat

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mengalami perubahan kepemimpinan setelah Hashim Djojohadikusumo mundur dari posisi Komisaris Utama dan digantikan Fadel Muhammad. Perubahan tersebut disertai transaksi penjualan 1,41 miliar saham WIFI senilai Rp4,06 triliun oleh PT Investasi Sukses Bersama (ISB) kepada PT Sinergi Graha Kapital. Analis menyoroti dampak perubahan kepemilikan terhadap persepsi investor, pendanaan ekspansi, dan prospek operasional perseroan.

• 5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) terkait pengunduran diri Hashim Djojohadikusumo, penjualan saham senilai Rp4,06 triliun, dan pengangkatan Fadel Muhammad sebagai Komisaris Utama.

Ilustrasi PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) terkait pengunduran diri Hashim Djojohadikusumo, penjualan saham senilai Rp4,06 triliun, dan pengangkatan Fadel Muhammad sebagai Komisaris Utama. (Foto:WIFI)

Emitenhub.com - PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge memasuki fase perubahan kepemimpinan dan struktur kepemilikan saham setelah Hashim S. Djojohadikusumo mengundurkan diri dari jabatan Komisaris Utama pada akhir September 2026. Perubahan tersebut disusul pelepasan sebagian saham WIFI oleh PT Investasi Sukses Bersama (ISB), perusahaan yang memiliki keterkaitan kepemilikan tidak langsung dengan Hashim.

Perkembangan ini menjadi perhatian pasar di tengah penurunan harga saham WIFI sepanjang 2026. Investor juga mencermati kelanjutan ekspansi jaringan dan kemampuan perseroan memperoleh pendanaan setelah perubahan jajaran pengurus serta komposisi pemegang saham.

Pada perdagangan Rabu (21/10/2026), saham WIFI ditutup di level Rp1.140 setelah dibuka pada harga Rp1.225 per saham. Secara year-to-date (YtD), saham tersebut telah melemah 64,92 persen dan mencatat penurunan 54,94 persen dalam enam bulan terakhir. Kapitalisasi pasarnya berada di kisaran Rp6,05 triliun.

Sebagai perbandingan, pada 5 Oktober 2026, WIFI masih diperdagangkan dalam rentang Rp1.390 hingga Rp1.465 sebelum ditutup pada Rp1.395. Saat itu, penurunan YtD tercatat sebesar 58,11 persen, sedangkan pelemahan enam bulan mencapai 34,81 persen. Kapitalisasi pasar perseroan sebesar Rp7,43 triliun.

Fadel Muhammad Pimpin Komisaris, ISB Lepas 1,41 Miliar Saham WIFI

Perubahan susunan pengurus WIFI resmi disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (21/10/2026). Pemegang saham menunjuk Fadel Muhammad sebagai Komisaris Utama menggantikan Hashim Djojohadikusumo.

RUPSLB juga menetapkan Shannedy Ong sebagai Direktur Utama menggantikan Hendrik Tee. Sebelumnya, Shannedy menjabat sebagai Direktur sekaligus Chief Commercial Officer perseroan.

Fadel menjelaskan bahwa Hashim memutuskan tidak melanjutkan jabatannya karena kesibukan, termasuk tugas sebagai Utusan Khusus Kepresidenan. Pengangkatannya dilakukan atas permintaan Hashim bersama para pemegang saham.

Dalam keterangannya, Fadel menyampaikan pandangan positif terhadap perkembangan bisnis Surge di bawah kepemimpinan sebelumnya. Ia juga menyatakan dukungan terhadap Shannedy untuk melanjutkan pengembangan perusahaan.

Fadel memiliki pengalaman sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan serta Gubernur Gorontalo. Sementara itu, Shannedy sebelumnya pernah menjabat sebagai Country Managing Director Qualcomm Indonesia dan Vice President Ericsson Indonesia.

Pergantian kepemimpinan tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan signifikan pada struktur pemegang saham WIFI.

Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), ISB menjual sebanyak 1.415.652.000 saham WIFI kepada PT Sinergi Graha Kapital pada 19 Oktober 2026. Transaksi tersebut setara 26,667 persen hak suara perseroan.

Harga transaksi ditetapkan sebesar Rp2.870 per saham dengan nilai keseluruhan sekitar Rp4,06 triliun.

Setelah transaksi, kepemilikan ISB berkurang dari 2.889.087.404 saham atau 54,42 persen menjadi 1.473.435.404 saham atau setara 27,756 persen hak suara.

Sebaliknya, Sinergi Graha Kapital masuk sebagai pemegang saham WIFI dengan kepemilikan 1.415.652.000 saham atau 26,667 persen hak suara. Perusahaan tersebut menyatakan pembelian dilakukan untuk tujuan investasi jangka panjang.

Dengan demikian, ISB masih mempertahankan sebagian kepemilikannya di WIFI meskipun telah melepas lebih dari 1,41 miliar saham.

Hashim diketahui memiliki kepentingan tidak langsung dalam kepemilikan WIFI melalui PT Arsari Sentra Data. Perusahaan tersebut menguasai 45 persen saham ISB, yang sebelumnya menjadi pemegang saham mayoritas WIFI.

Adapun pengunduran diri Hashim dari jabatan Komisaris Utama disampaikan melalui surat tertanggal 29 September 2026. Perubahan pengurus juga mencakup Henny Santoso yang mengajukan pengunduran diri sebagai Direktur pada 1 Oktober 2026.

Analis Soroti Pendanaan Ekspansi dan Fundamental WIFI

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai dampak pengunduran diri Hashim terhadap WIFI perlu dibedakan berdasarkan perubahan jabatan dan kepemilikan saham.

Dalam keterangannya pada Senin (5/10/2026), Wafi menjelaskan bahwa pengunduran diri dari posisi Komisaris Utama tidak otomatis mengubah hubungan bisnis maupun dukungan pendanaan apabila kepemilikan melalui Grup Arsari tetap dipertahankan.

Namun, pelepasan saham oleh pihak yang terafiliasi dinilai membawa implikasi berbeda terhadap persepsi investor.

Wafi menilai sebagian valuasi WIFI sebelumnya turut dipengaruhi persepsi pasar mengenai kedekatan perseroan dengan figur yang memiliki hubungan dengan pemerintahan. Karena itu, perubahan keterlibatan pemegang saham tersebut dapat memengaruhi penilaian investor terhadap perusahaan.

Dari sisi bisnis, perhatian utama tertuju pada keberlanjutan pendanaan dan kemitraan. Pengembangan infrastruktur jaringan internet membutuhkan investasi besar sehingga dukungan pemegang saham menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pemberi dana.

Meski demikian, Wafi menegaskan bahwa perubahan susunan pengurus tidak secara otomatis mengganggu kontrak bisnis yang telah berjalan. Perjanjian tersebut secara hukum dibuat antarentitas perusahaan.

Risiko yang perlu dicermati justru berkaitan dengan kerja sama baru yang belum mencapai tahap penandatanganan serta kepastian pendanaan ekspansi berikutnya.

Menurut Wafi, penilaian terhadap WIFI selanjutnya perlu lebih banyak didasarkan pada pencapaian operasional dibandingkan keterlibatan figur tertentu.

Sejumlah indikator yang dinilai penting meliputi pertumbuhan pelanggan aktif setiap kuartal, rasio pelanggan terhadap rumah yang telah terjangkau jaringan, serta pendapatan rata-rata per pelanggan.

Selain itu, kepastian pendanaan ekspansi dan kejelasan struktur pemegang saham menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Laporan kinerja kuartal III/2026 juga dinilai sebagai salah satu indikator awal untuk menilai perkembangan bisnis perseroan.

Pandangan serupa disampaikan Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis Setyo Wibowo. Ia menilai pengunduran diri Hashim dari kursi Komisaris Utama memiliki dampak yang relatif terbatas terhadap fundamental WIFI.

Menurut Azis, perkembangan bisnis perseroan tetap bergantung pada pelaksanaan strategi ekspansi serta kemampuan meningkatkan kinerja operasional.

Pengembangan jaringan fiber-to-the-home (FTTH) dan fixed wireless access (FWA) dinilai dapat menjadi sumber pertumbuhan melalui penambahan pelanggan serta peningkatan pendapatan berulang.

Namun, kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang besar tetap menjadi risiko. Investor perlu memperhatikan kondisi arus kas, tingkat utang, dan kemampuan perseroan meningkatkan pemanfaatan jaringan.

Pertumbuhan jumlah pelanggan juga harus diikuti kemampuan menghasilkan laba agar investasi infrastruktur memberikan hasil yang sesuai dengan kebutuhan pendanaan.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai perubahan Komisaris Utama tidak serta-merta mengubah prospek bisnis maupun kondisi fundamental WIFI.

Menurut Nafan, kelangsungan operasional perseroan tetap ditentukan oleh kemampuan manajemen menjalankan strategi, menjaga pendanaan, dan merealisasikan ekspansi secara konsisten.

Risiko utama pengembangan bisnis WIFI berada pada kebutuhan modal pembangunan jaringan FTTH dan FWA. Karena itu, realisasi belanja modal, pertumbuhan pelanggan, tingkat utilisasi jaringan, serta perkembangan arus kas menjadi indikator penting untuk menilai kinerja perseroan.

Nafan menilai perubahan kepemimpinan tidak harus dipandang sebagai sinyal negatif terhadap prospek jangka panjang apabila ekspansi tetap berjalan sesuai target dan pertumbuhan pelanggan mampu mengimbangi investasi jaringan.

Dengan perubahan struktur kepemilikan dan susunan manajemen tersebut, perhatian terhadap WIFI kini tertuju pada kejelasan pendanaan serta realisasi kinerja operasional. Kedua faktor tersebut menjadi dasar untuk menilai kemampuan perseroan melanjutkan ekspansi infrastruktur digital.

Iklan