Emitenhub.com - Dua produsen baterai EV asal Tiongkok kompak melebarkan bisnisnya ke Benua Afrika. Seberapa jauh keduanya mampu melangkah?
BYD Company Limited atau biasa disebut BYD berencana membangun proyek perakitan kendaraan listrik, manufaktur baterai, dan penyimpanan energi di Republik Demokratik Kongo.
Hal tersebut disampaikan oleh Badan Promosi Investasi Nasional (ANAPI) RD Kongo dalam pernyataan yang dirilis pada Selasa (15/9/2026), setelah bertemu dengan delegasi BYD pada 11 September 2026 untuk membahas sejumlah potensi investasi di negara tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, BYD mempertimbangkan untuk mengenalkan bus listrik, perakitan kendaraan listrik secara lokal, serta pembuatan dan perakitan baterai. Raksasa baterai dan kendaraan listrik itu juga ingin menjajaki proyek penyimpanan energi dan pembangkit listrik, dilansir dari Ecofin Agency.
ANAPI menyatakan langkah tersebut dapat membantu memodernisasi transportasi perkotaan di RD Kongo sekaligus mengembangkan rantai nilai baterai dan penyimpanan energi.
Melansir Ecofin Agency, ketertarikan BYD muncul ketika negara tersebut berupaya mendapatkan nilai lebih dari sumber daya mineral strategisnya melalui peningkatan pengolahan lokal. Seperti diketahui, RD Kongo menjadi produsen kobalt terbesar dengan menyumbang lebih dari 70% terhadap pasokan global.
Tak ketinggalan, Contemporary Amperex Technology Limited atau dikenal CATL juga menjalin kerja sama dengan produsen baterai Mesir, BME, untuk membangun pabrik listrik. Kerja sama tersebut telah ditandatangani pada 13 September 2026 dan disaksikan langsung oleh Perdana Menteri Mostafa Madbouly.
Rencananya, pembangunan tersebut akan dilakukan dalam dua fase. Fase pertama melibatkan investasi lebih dari US$39 juta yang dirancang untuk menghasilkan 1 gigawatt-hours (GWh) setiap tahunnya, terutama untuk memproduksi sistem baterai bagi kendaraan komersial berat.
Pada fase kedua, kapasitas direncanakan meningkat 5 GWh, dengan pabrik tersebut diharapkan dapat memproduksi baterai untuk mobil penumpang dan sistem penyimpanan energi stasioner.
Melansir electrive.com, CATL akan berkontribusi dalam hal teknologi baterai, peralatan produksi, dan dukungan teknis, sementara BME akan berkontribusi dalam hal produksi lokal dan kemampuan teknik.
Adapun pabrik tersebut ditargetkan untuk meningkatkan pangsa nilai tambah lokal sebesar 40%. Tujuan lainnya adalah memasok produsen kendaraan lokal untuk mengurangi impor serta biaya transportasi dan logistik.
Langkah kedua perusahaan tersebut kian mempertegas dominasi Tiongkok dalam pasar baterai EV. Berdasarkan berita The Economy, pangsa pasar baterai EV global di luar Tiongkok yang dimiliki perusahaan Tiongkok meningkat dari 44% menjadi 55,7% secara tahunan sepanjang Januari-Juli. Adapun CATL dan BYD merupakan pemuncak klasemen daftar produsen baterai EV dengan pangsa terbesar secara global. Data CnEV Post dari Januari-Mei menunjukkan CATL berada di peringkat satu dengan menyumbang 40,2% terhadap pasar global, sementara BYD berada di bawahnya dengan pangsa pasar sebesar 14,4%.
Dominasi Tiongkok Memicu Kekhawatiran
Dominasi Tiongkok menimbulkan kekhawatiran bagi Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Korea Selatan sebagai pesaingnya.
Uni Eropa (UE) tengah berencana memperkuat Industrial Acceleration Act (IAA) guna memperketat pengawasan terhadap industri strategis Tiongkok. Dalam sidang dengar pendapat publik yang diadakan Parlemen UE pada 2 September 2026, muncul argumen untuk memperkuat IAA agar dapat menanggapi ekspor Tiongkok.
Melansir Business Korea, inti dari undang-undang tersebut adalah memberikan perlakuan istimewa terhadap produksi dan pengadaan industri strategis regional seperti EV dan baterai. Kebijakan tersebut merupakan langkah untuk mengatasi ancaman perusahaan-perusahaan Tiongkok terhadap industri strategis Eropa.
Adapun Amerika Serikat (AS) juga meningkatkan tekanan pada perusahaan-perusahaan yang menggunakan baterai buatan Tiongkok.
Hal ini tercermin dari tindakan Menteri Transportasi Amerika Serikat Sean Duffy yang mengirimkan surat kepada CEO Ford Jim Farley untuk menuntut pemutusan transaksi dengan CATL, Geely, dan BYD. Ia melayangkan surat tersebut karena Ford memproduksi baterai di pabrik yang berada di Michigan dengan melisensikan teknologi CATL.
Sementara itu, Korea Selatan sebagai pesaing terdekat Tiongkok menghadapi tekanan baik di pasar domestik maupun global. Di pasar domestik, baterai Tiongkok mengalami lonjakan sejak 2025, semenjak BYD pertama kali diluncurkan di sana.
Berdasarkan tulisan Atlantic Council, keterjangkauan harga menjadi daya tarik utama produk BYD. Hal tersebut terbukti dengan hanya dalam 4 bulan sejak debutnya, BYD berhasil mengungguli Tesla sebagai produk EV impor terlaris di Korea Selatan.
EV buatan Tiongkok telah menguasai sepertiga pasar Korea Selatan pada tahun lalu, dan menyumbang 30,9% registrasi EV pada kuartal pertama 2026.


