Emitenhub.com - Nickel Industries Limited mengumumkan proses ramp up atau peningkatan produksi smelter nikel hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching (HPAL) di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengalami hambatan, karena pasokan air tak mencukupi akibat fenomena El Nino.
Dalam pengumuman resminya, Nickel Industries mengungkapkan proyek excelsior nickel cobalt (ENC) tersebut telah mencapai tingkat produksi sekitar 50% dari kapasitas terpasang dalam waktu empat pekan sejak dimulainya komisioning.
Dengan kondisi kekeringan yang terjadi, proyek ENC diperkirakan baru bisa beroperasi sekitar 30% dari kapasitas terpasang hingga ketersediaan air kembali normal.
Perseroan mengungkapkan curah hujan di tambang Hengjaya, yang memasok bijih ke proyek ENC, secara rata-rata mencapai 222 milimeter (mm), sementara curah hujan yang tercatat pada Agustus 2026 kurang dari 4 mm.
"ENC telah menunjukkan kinerja yang sangat baik sejak commissioning, mencapai sekitar 50% dari kapasitas terpasang dalam waktu empat minggu, yang merupakan pencapaian nyata dari tim operasional kami," kata Managing Director Justin Werner dalam pengumuman resminya, Selasa (15/9/2026).
"Kondisi kering di Sulawesi Tengah merupakan kendala yang tidak biasa dan bersifat sementara terhadap pasokan air, dan kami memperkirakan ketersediaan air akan kembali normal seiring dimulainya musim hujan," tegas Werner.
Werner mengungkapkan saat ini curah hujan sulit diprediksi, tetapi berdasarkan proyeksi yang ada bakal kembali terjadi pada Desember 2026. Bagaimanapun, Werner menegaskan smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) perseroan beroperasi secara normal.
Adapun Nickel Industries memegang saham pada sejumlah perusahaan smelter RKEF di Indonesia, antara lain: Hengjaya Nickel, Ranger Nickel, dan Oracle Nickel.
Izin Usaha Industri Smelter ENC
Lebih lanjut, Werner mengungkapkan perseroan bakal segera mendapatkan izin usaha industri (IUI) pada Oktober 2026, sehingga memungkinkan perseroan melakukan penjualan komersial seluruh produksi proyek ENC, termasuk nikel dan kobalt dalam bentuk katoda dan sulfat.
"Perseroan memperkirakan IUI akan diterima pada Oktober 2026, yang akan memungkinkan penjualan komersial seluruh rangkaian produk ENC, termasuk nikel dan kobalt dalam bentuk katoda dan sulfat," tegas Werner.
Pengajuan Revisi RKAB
Di sisi lain, ia mengungkapkan tambang nikel Hengjaya mencatatkan penjualan bijih tertinggi sepanjang operasionalnya, yakni 1,6 juta ton basah atau wet metric ton (wmt) pada Agustus 2026.
Werner menilai kondisi kekeringan yang terjadi justru memberikan dampak positif bagi operasional tambang perseroan di Hengjaya. Penjualan bijih secara kumulatif pada Januari-Agustus 2026 mencapai 9 juta wmt, dengan kuota penjualan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sebesar 14,3 juta wmt.
Werner menegaskan perseroan telah mengajukan revisi RKAB seiring menguatnya produksi dan penjualan bijih. Ia memperkirakan perseroan bakal segera mendapatkan hasil persetujuan dalam waktu dekat.
"Mengingat kuatnya produksi dan penjualan bijih, Perseroan telah mengajukan permohonan untuk meningkatkan kuota RKAB 2026 dan memperkirakan menerima tanggapan dalam waktu dekat," tegas Werner.
Sekadar informasi, Nickel Industries memegang 46% saham smelter HPAL proyek ENC, kemudian Decent Resources memegang 44% saham, dan Sphere Holding sebesar 10%.
ENC diperkirakan akan memproduksi 72.000 metrik ton per tahun setara nikel terkandung dari tiga produk nikel kelas 1 utama, yaitu mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, dan katoda nikel.
Proyek yang berada di kawasan IMIP tersebut telah mendapatkan keringanan pajak penghasilan badan selama 15 tahun.
Proyek ENC turut dilengkapi jaminan komisioning hingga kapasitas terpasang dan jaminan jangka waktu pengiriman tidak lebih dari dua tahun sejak dimulainya konstruksi.
Adapun PT IMIP mengamini kawasan basis nikel di Sulawesi Tengah itu tengah terdampak fenomena El Nino pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30-40%.
Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan tidak menampik fenomena El Nino mengakibatkan terjadinya kekeringan di Morowali, Sulawesi Tengah, hingga memengaruhi operasional smelter nikel yang menggunakan air dalam proses produksinya.
Ia menyatakan sumber daya air menjadi salah satu sumber energi utama penyokong operasional smelter nikel HPAL, pabrik produksi kokas, serta pendukung pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
"Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai," kata Dedy ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).
"Ditaksir dari keseluruhan operasional industri di IMIP, El Niño melambatkan laju produksi hingga mengakibatkan 30%—40% penurunan produksi," tegas Dedy. Kendati begitu, ia menegaskan dampak fenomena El Nino tidak membuat operasional smelter di kawasan IMIP sampai terhenti ataupun memicu pengurangan tenaga kerja.


