Ekonomi

Kalender Ekonomi 2–6 November 2026: Pemilu AS, Inflasi dan PDB RI hingga NFP

Ringkasan Cepat

Kalender ekonomi 2–6 November 2026 dipadati pemilu paruh waktu AS, keputusan suku bunga bank sentral, dan data ketenagakerjaan AS. Indonesia merilis inflasi Oktober pada 2 November serta pertumbuhan ekonomi kuartal III pada 5 November. Pasar juga menanti keputusan RBA (3 November), BoE dan BNM (5 November), serta nonfarm payrolls AS (6 November). Agenda tersebut berpotensi memengaruhi rupiah, IHSG, imbal hasil obligasi, dan arus modal asing.

• 5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi kalender ekonomi 2–6 November 2026 yang mencakup pemilihan paruh waktu AS, data inflasi dan PDB Indonesia, keputusan suku bunga bank sentral, serta laporan tenaga kerja NFP Amerika Serikat.

Ilustrasi kalender ekonomi 2–6 November 2026 yang mencakup pemilihan paruh waktu AS, data inflasi dan PDB Indonesia, keputusan suku bunga bank sentral, serta laporan tenaga kerja NFP Amerika Serikat.

Emitenhub.com - Pasar keuangan global menghadapi sejumlah agenda penting pada pekan pertama November 2026. Pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS), keputusan suku bunga sejumlah bank sentral, serta rilis data ekonomi Indonesia dan AS menjadi perhatian investor pada perdagangan 2–6 November 2026.

Rangkaian agenda tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, harga komoditas, hingga arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati inflasi Oktober dan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026. Sementara dari AS, hasil pemilihan Kongres dan laporan ketenagakerjaan akan menjadi perhatian dalam menilai prospek kebijakan ekonomi serta arah suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Pemilu AS dan Keputusan Suku Bunga Bank Sentral

Pemilihan paruh waktu AS dijadwalkan berlangsung pada Selasa (3/11/2026). Pemilu tersebut akan memperebutkan seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives), 35 kursi Senat, serta 36 jabatan gubernur negara bagian.

Hasil pemilu akan menentukan komposisi baru Kongres dan memengaruhi ruang gerak pemerintahan Presiden Donald Trump dalam menjalankan agenda fiskal, perpajakan, perdagangan, serta regulasi ekonomi.

Perubahan keseimbangan kekuatan politik di Kongres juga dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap kebijakan ekonomi AS. Ketidakpastian yang meningkat berpotensi mendorong penyesuaian portofolio, termasuk perubahan permintaan terhadap aset berisiko dan aset aman.

Selain perkembangan politik, pasar akan menantikan keputusan kebijakan moneter sejumlah bank sentral.

Reserve Bank of Australia (RBA) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Selasa (3/11/2026). Sementara itu, Bank of England (BoE) dan Bank Negara Malaysia (BNM) akan menggelar pengumuman kebijakan masing-masing pada Kamis (5/11/2026).

BoE diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4 persen. Proyeksi tersebut muncul ketika Inggris menghadapi tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi serta tantangan menjaga pertumbuhan ekonomi.

Di Malaysia, konsensus pasar memperkirakan BNM mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 2,75 persen.

Keputusan bank sentral tersebut akan memberikan gambaran mengenai respons otoritas moneter terhadap tekanan inflasi dan kondisi pertumbuhan ekonomi.

Inflasi dan PDB Indonesia Jadi Perhatian Investor

Dari Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data inflasi Oktober pada Senin (2/11/2026), sedangkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 akan dirilis pada Kamis (5/11/2026).

Menurut proyeksi Bloomberg Economics, inflasi Indonesia pada Oktober diperkirakan mencapai 3,31 persen secara tahunan, sedikit meningkat dibandingkan September sebesar 3,28 persen.

Sementara itu, konsensus pasar memperkirakan inflasi berada pada level 3,25 persen. Meski relatif stabil, tekanan harga masih menjadi perhatian karena inflasi diperkirakan berpotensi meningkat menjelang akhir tahun.

Untuk pertumbuhan ekonomi, konsensus memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,17 persen secara tahunan pada kuartal III-2026, melambat dari 5,29 persen pada kuartal sebelumnya.

Bloomberg Economics menilai tekanan pada sektor keuangan berpotensi memengaruhi aktivitas investasi dan menjadi salah satu faktor yang membatasi pertumbuhan ekonomi.

Kombinasi inflasi dan pertumbuhan ekonomi tersebut akan menjadi perhatian investor dalam menilai kondisi fundamental domestik serta prospek kebijakan Bank Indonesia (BI).

Apabila pertumbuhan ekonomi melambat ketika inflasi masih tinggi, ruang penyesuaian kebijakan moneter dapat menjadi lebih terbatas.

Selain Indonesia, sejumlah negara Asia dijadwalkan merilis indikator inflasi pada pekan yang sama.

Korea Selatan akan mengumumkan inflasi Oktober pada Selasa (3/11/2026). Bloomberg Economics memperkirakan inflasi negara tersebut melambat menjadi 2,8 persen dari sebelumnya 2,9 persen.

Filipina justru diperkirakan mencatat kenaikan inflasi menjadi 7,6 persen dari 7,2 persen, sedangkan inflasi Thailand diproyeksikan meningkat menjadi 3,25 persen dari 2,82 persen.

Sebaliknya, inflasi Taiwan diperkirakan turun menjadi 2,4 persen dari 2,73 persen seiring penurunan harga pangan dan pengaruh basis perbandingan.

Data Tenaga Kerja AS dan Aktivitas Ekonomi China

Selain pemilu, investor akan memperhatikan perkembangan pasar tenaga kerja AS yang menjadi salah satu indikator penting bagi kebijakan suku bunga The Fed.

Pada Selasa (3/11/2026), AS dijadwalkan merilis data lowongan pekerjaan JOLTS, disusul laporan perubahan jumlah tenaga kerja sektor swasta ADP pada Rabu (4/11/2026).

Perhatian utama tertuju pada laporan ketenagakerjaan nonpertanian atau nonfarm payrolls (NFP) Oktober yang dijadwalkan terbit Jumat (6/11/2026).

Estimasi awal menunjukkan penambahan sekitar 65.000 lapangan kerja pada Oktober, setelah September hanya mencatat pertumbuhan 29.000 pekerja.

Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai kekuatan pasar tenaga kerja AS serta menjadi bahan pertimbangan investor dalam memperkirakan langkah The Fed berikutnya.

Dari China, rilis indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur dan jasa juga akan menjadi perhatian pasar.

Bloomberg Economics memperkirakan RatingDog PMI manufaktur China meningkat menjadi 52,4 pada Oktober, dibandingkan 52,1 pada September.

Sementara itu, PMI sektor jasa dan komposit yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (4/11/2026) akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai pemulihan aktivitas ekonomi China.

Perkembangan ekonomi China relevan bagi pasar komoditas mengingat perannya sebagai salah satu konsumen utama bahan baku industri dunia.

Di sektor energi, pasar juga mencermati keputusan OPEC+ mempertahankan target produksi minyak pada Desember 2026 serta perkembangan konflik Timur Tengah yang masih memengaruhi distribusi pasokan.

Kalender Ekonomi 2–6 November 2026

Berikut sejumlah agenda utama yang perlu dicermati pelaku pasar sepanjang pekan pertama November:

Senin, 2 November 2026

  • Indonesia: Inflasi Oktober, data perdagangan, dan PMI manufaktur.

  • China: RatingDog PMI manufaktur.

  • AS: ISM manufaktur, PMI manufaktur, dan belanja konstruksi.

  • Zona Euro, Inggris, India, dan sejumlah negara Asia: PMI manufaktur.

Selasa, 3 November 2026

  • AS: Pemilihan paruh waktu, data JOLTS, pesanan pabrik, dan penjualan kendaraan.

  • Australia: Keputusan suku bunga RBA.

  • Korea Selatan, Swiss, dan Turki: Inflasi.

  • Hong Kong: PDB dan penjualan ritel.

Rabu, 4 November 2026

  • China: RatingDog PMI jasa dan komposit.

  • AS: Data ketenagakerjaan ADP, ISM jasa, dan perdagangan.

  • Zona Euro: PMI sektor jasa dan inflasi.

  • Brasil, Polandia, dan Swedia: Keputusan suku bunga.

Kamis, 5 November 2026

  • Indonesia: Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026.

  • Inggris: Keputusan suku bunga BoE.

  • Malaysia: Keputusan suku bunga BNM.

  • Filipina, Thailand, dan Taiwan: Inflasi.

  • AS: Klaim awal tunjangan pengangguran.

Jumat, 6 November 2026

  • AS: Nonfarm payrolls Oktober, tingkat pengangguran, dan indeks sentimen konsumen University of Michigan.

  • Jepang: Data pertumbuhan upah.

  • Kanada: Tingkat pengangguran.

  • Zona Euro: Penjualan ritel.

  • Jerman: Produksi industri.

Bagi pasar keuangan Indonesia, perkembangan tersebut menjadi perhatian karena perubahan ekspektasi suku bunga global dapat memengaruhi pergerakan rupiah, imbal hasil obligasi pemerintah, dan arus dana asing di pasar saham.

Sementara itu, hasil pertumbuhan ekonomi domestik dan inflasi akan memberikan gambaran mengenai ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan eksternal pada akhir 2026.

Iklan