Emitenhub.com - Permintaan nikel global diperkirakan terus meningkat seiring kebutuhan industri baja tahan karat (stainless steel), baterai kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi untuk pusat data (data center), hingga sektor pertahanan. Namun, prospek pertumbuhan tersebut masih dibayangi kondisi kelebihan pasokan yang menjadi perhatian dalam penentuan kuota produksi nikel Indonesia pada 2027.
Presiden Nickel Institute, Veronique Steukers, mengatakan prospek terbaru International Nickel Study Group (INSG) menunjukkan permintaan nikel masih berada dalam tren pertumbuhan tahunan. Sementara itu, produksi diperkirakan relatif stabil pada 2026 sebelum meningkat sekitar 5 persen pada 2027.
Menurut Steukers, baja tahan karat tetap menjadi salah satu sumber utama permintaan nikel. Di sisi lain, penggunaan logam tersebut dalam industri baterai terus berkembang, meskipun laju pertumbuhan permintaan baterai berbasis nikel mulai melambat.
"Bergantung pada wilayahnya, nikel akan tetap menjadi unsur yang sangat penting, tidak hanya untuk kendaraan listrik (EV), tetapi juga untuk sistem penyimpanan di pusat data," ujar Steukers, dikutip dari laporan S&P Global, Senin (2/11/2026).
Indonesia dinilai tetap memegang peran penting dalam rantai pasok nikel dunia, sedangkan China menjadi pengguna terbesar komoditas tersebut.
Steukers menjelaskan bahwa perkembangan geopolitik dan perubahan kebijakan perdagangan mendorong berbagai negara memperkuat keamanan pasokan mineral strategis. Upaya tersebut dilakukan melalui diversifikasi sumber bahan baku dan pengembangan fasilitas pengolahan domestik.
Sejumlah negara juga telah memasukkan nikel ke dalam kategori mineral kritis karena penggunaannya tidak hanya terbatas pada transisi energi, tetapi juga mencakup industri transportasi dan pertahanan.
Proyeksi Permintaan Nikel Melampaui Produksi pada 2040
Berdasarkan grafik proyeksi IEA yang disertakan dalam bahan berita.
Prospek permintaan jangka panjang turut tercermin dalam proyeksi International Energy Agency (IEA). Berdasarkan grafik yang mengacu pada skenario STEPS, permintaan nikel global diperkirakan meningkat dari 3,53 juta ton pada 2025 menjadi 4,46 juta ton pada 2030.
Pada 2040, permintaan diproyeksikan mencapai 5,83 juta ton, melampaui estimasi produksi tambang global sebesar 4,86 juta ton pada periode yang sama.
Sementara itu, produksi tambang nikel dunia diperkirakan meningkat dari 4,21 juta ton pada 2025 menjadi 5,10 juta ton pada 2030, sebelum berada pada kisaran 4,86 juta ton pada 2040.
Perbedaan antara proyeksi permintaan dan produksi tambang tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan sumber pasokan tambahan, termasuk daur ulang dan peningkatan efisiensi pemanfaatan material.
Dari sisi harga, grafik berbasis data World Bank memperlihatkan harga nikel global mengalami fluktuasi signifikan sepanjang 2010 hingga 2025.
Harga sempat mencapai sekitar USD25,83 pada 2022 berdasarkan skala yang ditampilkan dalam grafik, kemudian melemah hingga sekitar USD15,16 pada 2025. Untuk 2026 dan 2027, harga diproyeksikan berada di sekitar USD17,46 pada masing-masing tahun.
Di tengah dinamika harga dan pasokan tersebut, aspek keberlanjutan semakin menjadi perhatian industri nikel global.
Steukers memperkirakan daur ulang baterai akan menjadi sumber pasokan nikel yang semakin penting ketika volume baterai yang memasuki akhir masa pakainya meningkat.
Meski demikian, kontribusi daur ulang baterai diperkirakan berkembang secara bertahap karena masa pakai baterai kendaraan listrik cenderung lebih panjang dari perkiraan. Sebagian baterai juga masih berpotensi digunakan kembali untuk aplikasi lain sebelum akhirnya didaur ulang.
Dalam industri baja tahan karat, pemanfaatan material bekas atau skrap telah menjadi bagian penting dari rantai produksi.
Secara global, sekitar sepertiga produksi baja tahan karat menggunakan bahan skrap. Namun, proporsinya berbeda antarwilayah, dengan perkiraan sekitar 80 persen di Eropa dan 20 persen di China.
Selain daur ulang, industri nikel menghadapi tuntutan yang semakin besar terkait pengurangan emisi karbon dan perlindungan lingkungan.
Steukers menilai penetapan satu standar emisi karbon untuk seluruh produk nikel masih sulit dilakukan karena perbedaan karakteristik bijih, teknologi pengolahan, serta produk akhir, mulai dari nikel sulfat, feronikel, hingga nickel pig iron (NPI).
Di Indonesia, penerapan standar Nickel Mark disebut semakin berkembang sebagai sarana evaluasi praktik produksi yang bertanggung jawab. Standar tersebut memungkinkan perusahaan mengidentifikasi area operasional yang perlu diperbaiki melalui proses audit dan penilaian.
ESDM Pertimbangkan Surplus Nikel dalam RKAB 2027
Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mempertimbangkan kondisi kelebihan pasokan nikel global dalam penyusunan kuota produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2027.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyampaikan bahwa pemerintah tidak hanya memperhitungkan kebutuhan bahan baku fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) domestik, tetapi juga keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar internasional.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah kondisi persediaan nikel yang dikaitkan dengan London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Metals Market (SMM), dengan angka surplus yang disebut mencapai sekitar 750.000 ton nikel.
Pertimbangan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan produksi nikel Indonesia pada 2027 akan berkaitan dengan kebutuhan industri hilir dalam negeri sekaligus kondisi pasar global.
Dengan demikian, meskipun permintaan nikel diperkirakan meningkat dalam jangka panjang, penyesuaian produksi tetap menjadi faktor penting untuk menjaga keseimbangan pasar di tengah perkembangan kapasitas pengolahan dan perubahan kebutuhan industri.
