Market

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Waspadai Keputusan The Fed

Ringkasan Cepat

Nilai tukar rupiah melemah ke Rp18.109 per dolar AS pada perdagangan Senin (26/10/2026) pukul 10.00 WIB, terdepresiasi 35 poin atau 0,19%. Pelemahan terjadi seiring penguatan dolar AS dan sikap hati-hati investor menjelang keputusan suku bunga sejumlah bank sentral dunia, termasuk The Fed. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan volatilitas harga minyak turut membayangi pergerakan mata uang negara berkembang.

• 2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah ke Rp18.109 per dolar AS pada 26 Oktober 2026 akibat tekanan dolar AS, ketidakpastian suku bunga The Fed, dan geopolitik global.

Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah ke Rp18.109 per dolar AS pada 26 Oktober 2026 akibat tekanan dolar AS, ketidakpastian suku bunga The Fed, dan geopolitik global. (Bank Indonesia)

Emitenhub.com - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (26/10/2026). Tekanan terhadap mata uang domestik terjadi di tengah penguatan dolar AS, ketidakpastian kebijakan suku bunga global, serta meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan data konversi real-time Google pada pukul 10.00 WIB, rupiah berada di level Rp18.109 per dolar AS, melemah 35 poin atau 0,19 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya sebesar Rp18.074 per dolar AS.

Sementara itu, data Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka pada level Rp18.090 per dolar AS pada awal perdagangan Senin. Adapun kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat sebesar Rp18.069 per dolar AS pada acuan transaksi terbaru.

Pelemahan rupiah berlangsung seiring tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia lainnya, termasuk ringgit Malaysia dan baht Thailand. Penguatan indeks dolar AS turut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset yang dinilai lebih aman atau safe haven di pasar global.

Pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang pengumuman kebijakan suku bunga dari lima bank sentral utama dunia pada pekan ini, termasuk Federal Reserve (The Fed).

Keputusan bank sentral tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arah pergerakan dolar AS dan aliran modal menuju pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain kebijakan moneter, meningkatnya volatilitas harga minyak mentah akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menambah tekanan terhadap sentimen pasar.

Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan memunculkan kekhawatiran bahwa suku bunga acuan akan dipertahankan pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Kombinasi ketidakpastian moneter dan geopolitik tersebut menjadi faktor yang membayangi pergerakan rupiah pada awal pekan, terutama di tengah kehati-hatian investor terhadap aset keuangan negara berkembang.

Iklan