Emitenhub.com - PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat rekor produksi bijih nikel sebesar 12,3 juta wet metric tonnes (wmt) pada kuartal III-2026, meningkat 61 persen baik secara tahunan (year-on-year/yoy) maupun kuartalan (quarter-on-quarter/qoq). Kinerja tersebut didukung peningkatan produktivitas tambang, penguatan harga jual bijih nikel, serta pengelolaan biaya operasional yang lebih efisien.
Peningkatan produksi juga diikuti ekspansi margin pada segmen pertambangan yang mampu mengimbangi tekanan profitabilitas bisnis pengolahan nikel. Di sisi lain, perseroan mencatat penguatan kinerja fasilitas Acid Iron Metal (AIM) serta kemajuan pengembangan proyek High-Pressure Acid Leach (HPAL).
Sepanjang kuartal III-2026, produksi bijih saprolit MBMA meningkat 68 persen secara tahunan menjadi 3,3 juta wmt. Sementara itu, produksi limonit tumbuh 62 persen menjadi 9 juta wmt.
Pertumbuhan tersebut ditopang tingkat utilisasi alat berat yang lebih tinggi, peningkatan kapasitas pengangkutan (hauling), serta perbaikan produktivitas di sejumlah area penambangan utama di Sulawesi.
Penguatan operasional turut mendorong kenaikan margin tunai (cash margin) bijih nikel. Margin saprolit melonjak 23 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi USD35,8 per wmt.
Adapun margin tunai limonit meningkat 85 persen secara tahunan menjadi USD12 per wmt.
Kenaikan margin terutama berasal dari penguatan harga jual aktual setelah perubahan kerangka Harga Patokan Mineral (HPM), disertai disiplin pengendalian biaya dan peningkatan efisiensi operasional.
Presiden Direktur Merdeka Battery Materials, Teddy Oetomo, mengatakan pencapaian tersebut menunjukkan ketahanan model bisnis terintegrasi perseroan di tengah dinamika industri nikel.
"Rekor produksi bijih nikel dan margin hulu yang lebih kuat mencerminkan peningkatan terus kami lakukan dalam hal produktivitas dan eksekusi operasional, sementara AIM dan aset-aset HPAL kami terus memajukan tahapan integrasi selanjutnya di seluruh nilai rantai pasok," ujar Teddy.
Meski segmen pertambangan mencatat penguatan, bisnis pengolahan nikel masih menghadapi tekanan margin akibat kenaikan harga bahan baku, biaya energi, dan biaya peleburan.
Produksi Nickel Pig Iron (NPI) meningkat 5 persen secara kuartalan menjadi 20.553 ton kandungan nikel. Sementara itu, produksi High Grade Nickel Matte (HGNM) tumbuh 3 persen menjadi 9.436 ton.
Kenaikan harga bijih saprolit setelah revisi HPM turut meningkatkan biaya bahan baku pada fasilitas pengolahan. Kondisi tersebut menyebabkan margin bisnis hilir tertekan meskipun volume produksi meningkat.
NPI masih mampu mempertahankan margin tunai positif, sedangkan HGNM membukukan margin tunai negatif sebelum memperhitungkan manfaat lindung nilai (hedge benefits).
Namun, tekanan margin pengolahan tersebut dapat dikompensasi sepenuhnya oleh peningkatan margin di segmen pertambangan. Kondisi ini memperlihatkan peran integrasi bisnis hulu dan hilir dalam menjaga profitabilitas operasional MBMA.
Produksi Asam Sulfat AIM Naik 13%, Pendapatan Capai USD98 Juta
Selain pertambangan dan pengolahan nikel, fasilitas AIM mencatat pertumbuhan kinerja pada kuartal III-2026.
Produksi asam sulfat mencapai 291.198 ton, meningkat 13 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Kedua lini produksi asam sulfat beroperasi secara stabil pada kapasitas terpasang (nameplate capacity).
Sejalan dengan peningkatan volume produksi, pendapatan dari asam sulfat tumbuh 18 persen secara kuartalan menjadi sekitar USD98 juta.
Pertumbuhan tersebut didorong tren harga jual yang lebih tinggi serta permintaan dari fasilitas HPAL di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Kinerja AIM menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan rantai pasok terintegrasi MBMA, terutama dalam penyediaan bahan pendukung bagi proses pengolahan nikel berbasis HPAL.
Perseroan juga sedang mengevaluasi potensi ekspansi kapasitas produksi asam sulfat AIM untuk memenuhi kebutuhan PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) pada masa mendatang.
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan optimalisasi pemanfaatan sumber daya pirit dari Tambang Tembaga Wetar.
Proyek HPAL Berlanjut, Produksi Perdana MHP SLNC Ditargetkan pada 2026
MBMA turut mencatat perkembangan pada sejumlah fasilitas HPAL yang menjadi bagian dari strategi hilirisasi nikel perseroan.
PT ESG New Energy Material (ESG) telah mengoperasikan kedua lini produksinya. Pada September 2026, fasilitas tersebut mencapai tingkat utilisasi kapasitas sekitar 96 persen.
Sementara itu, SLNC telah menyelesaikan tahapan utama uji coba operasional (commissioning) dan memperoleh Izin Usaha Industri (IUI) pada Agustus 2026.
Fasilitas SLNC juga mulai menerima pasokan bijih nikel perdana pada akhir September. Perseroan masih menargetkan produksi pertama mixed hydroxide precipitate (MHP) dari fasilitas tersebut berlangsung pada 2026.
Perkembangan proyek HPAL ini memperkuat integrasi rantai pasok MBMA, mulai dari penyediaan bijih limonit dari Konawe hingga pengolahan melalui fasilitas HPAL.
Integrasi tersebut didukung infrastruktur khusus untuk penyiapan bijih dan pengangkutan bubur bijih (slurry) sebagai bahan baku pengolahan.
Memasuki akhir 2026, MBMA mempertahankan panduan operasional tahunannya dengan fokus pada peningkatan produktivitas, keandalan fasilitas produksi, serta disiplin pengendalian biaya.
Perseroan juga terus memantau perkembangan biaya bahan bakar dan dampak perubahan kerangka HPM terhadap kegiatan operasional.
Penguatan margin pertambangan, stabilitas produksi fasilitas pengolahan, serta kemajuan proyek HPAL menjadi faktor utama dalam menjaga kinerja operasional MBMA di tengah fluktuasi harga nikel dan tekanan biaya pada segmen hilir.
