Saham

Disebut Prabowo, Saham Timah (TINS) Tancap Gas: Laba Meledak 894%, Target Harga Dikerek ke Rp4.800

Saham PT Timah Tbk (TINS) melanjutkan penguatan setelah disebut Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan, ditopang laba bersih semester I/2026 yang melesat hingga 894,7% menjadi Rp2,7 triliun. Penutupan 1.000 tambang timah ilegal, lonjakan harga jual rata-rata, serta defisit pasokan timah global mendorong analis mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga dikerek naik hingga Rp4.800.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi lonjakan saham dan laba bersih PT Timah 894% pada semester I/2026 seiring penutupan tambang ilegal dan defisit timah global

Ilustrasi lonjakan saham dan laba bersih PT Timah 894% pada semester I/2026 seiring penutupan tambang ilegal dan defisit timah global (Foto:IDX (Istimewa))

Emitenhub.com - Satu catatan angka sebelum lanjut. Persentase lonjakan laba bersih TINS muncul dua kali dengan angka berbeda: di paragraf soal pidato Prabowo tertulis "naik 804,7%", sementara di paragraf data tertulis "melesat 894,7% YoY". Kemungkinan salah satu salah ketik. Aku tampilkan keduanya persis seperti input di bawah, tapi sebaiknya kamu samakan sesuai laporan aslinya.

Delapan paragraf.

Saham PT Timah Tbk (TINS) melanjutkan laju kencangnya usai unjuk gigi dalam pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Parlemen pekan lalu. Prospeknya diramal kian kokoh untuk sisa tahun ini.

Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), TINS dibuka menguat 1,28% ke level Rp3.960 pada pukul 09:18 WIB. Dalam sepekan, banderolnya telah naik 3,12%, sedangkan secara year to date (YtD) melonjak 27,33%.

Prabowo sebelumnya menyoroti keuntungan duo emiten BUMN, yakni PT Timah (Persero) Tbk (TINS) dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR).

Presiden memperkirakan setoran dividen BUMN pada 2026 kembali meningkat hingga mencapai Rp200 triliun. Ia juga menggarisbawahi keuntungan yang dibukukan sejumlah BUMN hingga semester I/2026.

Menurutnya, negara telah menutup 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung pada akhir 2025. Dampaknya, laba bersih TINS pada enam bulan pertama 2026 naik 804,7% dibandingkan periode sama tahun lalu. Selain itu, lanjutnya, valuasi TINS terkerek 280% pada Agustus 2026 secara tahunan (year on year/YoY).

Setali tiga uang, kalangan analis turut optimistis terhadap prospek kinerja TINS, terutama untuk sisa tahun ini.

Sepanjang enam bulan 2026, TINS mencatatkan laba bersih Rp2,7 triliun, melesat 894,7% YoY. Torehan itu ditopang peningkatan penjualan timah olahan serta harga jual rata-rata (ASP) sebesar US$49.800 per ton.

Adapun pendapatan TINS ikut menanjak 247% YoY menjadi Rp10,42 triliun, dibandingkan Rp4,22 triliun pada periode sama tahun lalu.

Dari sisi operasional, sepanjang semester I/2026 volume penjualan logam timah TINS tercatat 10.984 metrik ton. Angka itu melonjak 85% dibandingkan semester I/2025 yang mencapai 5.933 metrik ton.

Dari jumlah tersebut, pasar ekspor menyumbang 97% dari total penjualan logam timah perusahaan, sedangkan pasar domestik berkontribusi 3%.

Secara terperinci, China menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan porsi 36% dari total ekspor. Berikutnya menyusul India 12%, Korea Selatan 11%, Singapura 6%, Belanda 5%, dan Italia 5%.

Di sisi lain, harga jual rata-rata logam timah sepanjang semester I/2026 mencapai US$49.794 per metrik ton. Angka ini naik 52% dibandingkan semester I/2025 sebesar US$32.816 per metrik ton, sejalan dengan masih kuatnya harga timah di pasar global.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey dan Taufan Fadhillah dalam risetnya menggarisbawahi tekanan biaya yang menanjak pada paruh kedua tahun ini. Sejumlah faktor produksi mengalami kenaikan harga, mulai dari biaya bahan bakar, PBB, biaya mitra, bahan habis pakai, suku cadang, hingga pengiriman.

Meski begitu, harga pembelian dari mitra tetap bertahan di Rp300.000 per kg, sehingga membatasi tekanan lebih lanjut dari pengadaan bijih timah.

"Kami memandang biaya bahan bakar dan royalti sebagai variabel biaya utama ke depannya," kata para analis dalam risetnya, dikutip Rabu (19/8/2026).

Mereka juga mengerek proyeksi laba bersih 2026 sebesar 34,1% menjadi Rp4,51 triliun, kendati menurunkan asumsi produksi dan penjualan masing-masing menjadi 23.700 ton dan 22.500 ton. Revisi naik ini didorong asumsi ASP yang lebih tinggi, yakni US$53.000 per ton, yang mendongkrak margin kotor menjadi 34,3%. Sementara itu, biaya tunai 2026 diperkirakan naik menjadi US$24.700 per ton, mencerminkan margin tunai yang sehat di kisaran US$28.300 per ton.

Dengan tidak adanya pemeliharaan smelter besar yang diperkirakan pada semester II/2026, ditambah potensi masuknya empat kapal lepas pantai tambahan pada kuartal III/2026 atau paling lambat kuartal IV/2026, para analis melihat peluang pemulihan produksi menjelang akhir tahun.

"Kami memproyeksikan pendapatan sebesar Rp22,8 triliun dan laba bersih sebesar Rp4,51 triliun untuk 2026," katanya.

BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi beli, dengan target harga yang turut dikerek naik menjadi Rp4.800. Berbekal harga timah yang lebih tinggi, margin kas yang tangguh, serta visibilitas operasional yang membaik untuk semester II/2026, terlihat potensi kenaikan harga yang menarik meski memakai asumsi volume yang lebih konservatif.

Ditopang Defisit Pasokan Timah Global

Terpisah, BCA Sekuritas memperkirakan pasokan timah global hanya akan tumbuh sekitar 3% pada 2026, sementara permintaan diproyeksikan naik sekitar 3,5%.

Defisit pasokan sejatinya sudah terlihat pada paruh pertama 2026. Pasar timah global mencatatkan defisit sekitar 5.700 ton, atau setara 3,3% dari total permintaan.

Iklan