Saham

Laba PTBA Meroket 218%, Dua Sekuritas Kompak Kerek Target Harga hingga Rp3.600

Ringkasan Cepat

PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) berpotensi mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir 2026 di tengah harga batu bara yang diperkirakan stabil, setelah laba bersih semester I melonjak 218% menjadi Rp2,65 triliun. Kiwoom Sekuritas dan UBS Sekuritas kompak menyematkan rekomendasi buy dengan target harga masing-masing Rp3.320 dan Rp3.600, ditopang pemulihan produksi, tambahan kapasitas logistik, proyeksi dividend yield sekitar 9%, serta prospek hilirisasi DME dan SNG.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi prospek saham Bukit Asam yang cerah dengan target harga direvisi naik oleh dua sekuritas setelah lonjakan laba

Ilustrasi prospek saham Bukit Asam yang cerah dengan target harga direvisi naik oleh dua sekuritas setelah lonjakan laba (Foto:PTBA)

Emitenhub.com - Emiten batu bara PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) berpotensi mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir 2026 di tengah tren kenaikan harga batu bara. PTBA menilai harga batu bara masih akan stabil sampai akhir 2026.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA Una Lindasari menjelaskan dari sisi harga, perseroan memandang harga batu bara masih akan lumayan stabil sampai akhir 2026, tetap dalam kisaran harga pada kuartal II/2026.

Menurut Una, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) PTBA pada 2026 mengalami peningkatan sekitar 5%. "Untuk permintaan juga tetap stabil, karena sampai dengan saat ini rata-rata penjualan kami masih tetap di level hampir 5 juta ton per bulannya, terutama untuk dua bulan terakhir," ujar Una dalam konferensi pers Public Expose Live PTBA, Senin (7/9/2026).

Una juga menjelaskan target produksi PTBA dalam RKAB 2026 masih di kisaran 53 juta ton tahun ini. Ia menuturkan penjualan dan produksi PTBA masih sedikit di bawah angka tersebut pada semester I/2026.

Akan tetapi, lanjutnya, PTBA cukup optimistis dapat mencapai target RKAB hingga akhir tahun ini mendekati angka 50 juta ton. Adapun untuk RKAB 2027, Una menuturkan kisaran produksi batu bara perseroan masih sama dengan RKAB tahun ini.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto menjelaskan selain bisnis batu bara, PTBA juga terus mengeksplorasi diversifikasi dan hilirisasi. Menurutnya, PTBA menargetkan kontribusi dari hilirisasi dan diversifikasi ini dapat mencapai sekitar 20% dalam empat tahun ke depan.

"Kami mengembangkan hilirisasi ini bertahap. Kami sudah targetkan dalam 4 tahun ke depan, kontribusi dari hilirisasi dan diversifikasi ini sekitar 20% dari total pendapatan perseroan," ucap Turino.

Turino juga menjelaskan saat ini proyek hilirisasi PTBA yang tengah berjalan adalah DME (Dimethyl Ether) dan SNG (Synthetic Natural Gas). Menurutnya, Grup Pertamina menjadi offtaker kedua proyek ini.

"Keduanya adalah program strategis nasional. InsyaAllah dalam waktu tidak lama lagi, targetnya tahun depan sudah mulai konstruksi," kata Turino.

Sebagai informasi, pada semester I/2026, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp22,03 triliun, meningkat 8% secara tahunan (year on year/YoY). Laba bersih PTBA juga mencapai Rp2,65 triliun, tumbuh 218% YoY.

Sementara itu, secara operasional, PTBA mencatat produksi batu bara sebesar 19,45 juta ton dan penjualan sebesar 21,10 juta ton. Rinciannya, penjualan ekspor mencapai 10,33 juta ton, meningkat sekitar 5% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, dengan negara tujuan ekspor terbesar dari Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.

Sementara itu, penjualan domestik tercatat 10,77 juta ton atau sekitar 51% dari total penjualan. Penguatan harga batu bara turut memberikan kontribusi positif terhadap kinerja PTBA.

Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menyampaikan capaian tersebut menjadi fondasi bagi perseroan untuk melanjutkan pertumbuhan melalui penguatan bisnis inti serta pengembangan sumber pertumbuhan baru. "Momentum penguatan harga batu bara global kami manfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif, disertai program efisiensi untuk menjaga disiplin biaya," ujar Bambang dalam keterangan resminya.

Peluang PTBA Menggenjot Laba

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas dalam risetnya menjelaskan prospek jangka pendek PTBA didukung oleh pemulihan produksi dan peningkatan kapasitas logistik.

Ia menuturkan proyek Tanjung Enim-Kramasan berkapasitas 20 juta ton per tahun (Mtpa), yang ditargetkan mulai beroperasi komersial (COD) pada semester II/2026, serta ekspansi kapasitas Kertapati dari 8 Mtpa menjadi 15,3 Mtpa, akan meningkatkan volume penjualan, fleksibilitas transportasi, dan efisiensi biaya perseroan.

"Meskipun pembangkit listrik, energi terbarukan, dan hilirisasi batu bara menawarkan opsi pertumbuhan jangka panjang, kami memperkirakan kinerja 2026-2027 tetap terutama didorong oleh volume penjualan, harga batu bara, bauran penjualan, dan efisiensi logistik," tulis Sukarno.

Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham PTBA dengan target harga 12 bulan yang direvisi menjadi Rp3.320 per saham, dari sebelumnya Rp3.260 per saham.

Kiwoom Sekuritas juga memproyeksikan potensi dividend yield sebesar 9,1% pada 2026 dan 9,6% pada 2027, dengan asumsi dividend payout ratio (DPR) sebesar 75%. "Risiko penurunan utama mencakup perlambatan ekonomi global, volatilitas harga batu bara, penguatan rupiah, risiko transisi energi, serta perubahan regulasi," ujar Sukarno.

Sementara itu, Analis UBS Sekuritas Timothy Handerson dalam risetnya memperkirakan harga batu bara akan tetap kuat atau bahkan meningkat pada semester II/2026 dan 2027, didorong potensi gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem, terutama di wilayah Kalimantan.

"Namun, kami juga memperkirakan porsi penjualan domestik akan meningkat pada semester II/2026, seiring semakin besarnya fokus pemerintah Indonesia untuk memastikan pasokan batu bara domestik," tutur Timothy dalam risetnya.

UBS Sekuritas juga memperkirakan rupiah akan melemah 6% terhadap dolar AS, yang akan memberikan tambahan dorongan terhadap laba PTBA. UBS Sekuritas pun menaikkan rekomendasi dari netral menjadi buy dengan target harga Rp3.600 per saham.

PTBA memasuki paruh kedua 2026 berbekal lonjakan laba 218%, harga batu bara yang diperkirakan stabil, serta tambahan kapasitas logistik dari proyek Tanjung Enim-Kramasan dan ekspansi Kertapati. Dua sekuritas kompak menyematkan rekomendasi buy dengan target harga hingga Rp3.600, ditopang proyeksi dividend yield di kisaran 9%. Ke depan, kinerja perseroan akan tetap bertumpu pada volume penjualan, harga batu bara, dan disiplin biaya, sementara proyek hilirisasi DME dan SNG menjadi taruhan jangka panjang yang realisasinya baru mulai diuji lewat konstruksi pada 2027.

Iklan