Saham

PTBA Bidik Groundbreaking Dua Proyek Hilirisasi DME dan SNG pada 2027

Ringkasan Cepat

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan groundbreaking dua proyek hilirisasi batu bara, yakni dimethyl ether (DME) dan synthetic natural gas (SNG), pada 2027, keduanya masuk daftar Proyek Strategis Nasional dan diorkestrasi Danantara. Pertamina Group bertindak sebagai offtaker dengan Patra Niaga menyerap DME dan PGN menampung SNG, sementara PTBA membidik kontribusi hilirisasi sekitar 20% dari total pendapatan dalam empat tahun ke depan, dengan proyek SNG saja membutuhkan investasi US$3,2 miliar.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi rencana PTBA menggarap proyek hilirisasi batu bara DME dan SNG dengan Pertamina Group sebagai penyerap produk

Ilustrasi prospek saham Bukit Asam yang cerah dengan target harga direvisi naik oleh dua sekuritas setelah lonjakan laba (Foto:PTBA)

Emitenhub.com - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan pengerjaan konstruksi fisik (groundbreaking) dua proyek hilirisasi batu bara, yaitu dimethyl ether (DME) dan synthetic natural gas (SNG), dapat terlaksana pada 2027.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto menjelaskan kedua proyek hilirisasi tersebut telah masuk ke dalam daftar proyek strategis nasional (PSN).

"Kedua proyek ini masuk dalam PSN dan sedang diorkestrasi oleh Danantara untuk melakukan joint FS [feasibility study] dari hulu ke hilir. Insyaallah dalam waktu tidak lama lagi targetnya tahun depan sudah mulai konstruksi," ujar Turino dalam Public Expose Live, Senin (7/9/2026).

Turino menambahkan skema kerja sama dan pembiayaan proyek tersebut melibatkan sinergi antarsektor badan usaha milik negara (BUMN).

Dalam struktur proyek ini, Pertamina Group akan bertindak sebagai pembeli siaga (standby offtaker). Secara spesifik, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) akan menyerap produk DME, sedangkan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN akan menampung hasil produksi SNG.

"Coal to SNG juga sedang dibahas oleh Danantara. Jadi, keduanya ada dalam orkestrasi dan karena terkait dengan permodalan dan juga offtaker-nya juga antara BUMN," ungkap Turino.

"Dua-duanya partner kita, offtaker-nya adalah Pertamina Group, jadi yang DME offtaker-nya adalah Patra Niaga, sedangkan yang SNG offtaker-nya adalah PGN," tambahnya.

Melalui kepastian penyerapan produk oleh sesama BUMN tersebut, PTBA optimistis dapat menjalankan strategi diversifikasi bisnisnya secara bertahap dan terukur demi mendukung pendapatan perseroan dalam jangka panjang.

Di sisi lain, perseroan memproyeksikan kontribusi dari hasil diversifikasi produk hilirisasi ini mampu menyumbang sekitar 20% terhadap total pendapatan perusahaan dalam kurun empat tahun ke depan.

"Kita bertahap pengembangan diversifikasi ini. Kita sudah targetkan dalam empat tahun ke depan, kontribusi dari produk hilirisasi dari diversifikasi ini sekitar 20% dari total pendapatan perseroan," ungkapnya.

Sebelumnya, terkait DME, PTBA telah mengajukan Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE) agar dijadikan kawasan ekonomi khusus (KEK). BACBIE juga menjadi lokasi dibangunnya proyek gasifikasi batu bara DME perseroan.

Vice President Hilirisasi PTBA Dahlia Muchtar menyatakan perseroan mengajukan BACBIE menjadi KEK salah satunya agar seluruh kegiatan bisnis di wilayah tersebut mendapatkan insentif khusus KEK.

"Kalau untuk KEK-nya memang sekarang dalam tahap pengajuan KEK, karena saat ini masih di kawasan industri, lalu untuk pengajuan KEK-nya untuk support di hilirisasi batu bara," kata Dahlia ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2026).

Dahlia menyatakan salah satu insentif yang diharapkan, termasuk untuk proyek DME, adalah pembebasan pajak atau tax holiday.

"Iya, apa tax holiday, seperti apa. Memang tentu nanti akan banyak barang-barang dari luar. Nah itu kenapa kita bangun BACBIE itu untuk support itu," tegasnya.

Sementara itu, untuk proyek batu bara menjadi SNG atau gas alam sintetis, PTBA memproyeksikan kebutuhan investasi sebesar US$3,2 miliar atau sekitar Rp52,58 triliun. Untuk menggarap proyek tersebut, PTBA menggunakan batu bara berkalori rendah karena sangat sesuai untuk dikonversi menjadi gas sintetis. Proyek SNG juga diproyeksikan memanfaatkan 8,4 juta ton batu bara rendah kalori dengan potensi volume SNG yang dihasilkan sebesar 240 billion british thermal unit per day (BBtud) atau sekitar 1,6 juta ton per tahun.

Iklan