Emitenhub.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi meluncurkan IDX Commodity 20, indeks baru yang berisi 20 saham perusahaan penghasil komoditas dan pelaku usaha dalam rantai pasok industri komoditas. Dalam komposisi awal, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menempati posisi teratas dengan bobot 15 persen, disusul PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Keempat saham tersebut secara keseluruhan menguasai 47,11 persen bobot IDX Commodity 20. Konsentrasi ini menjadi perhatian karena pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar berpotensi memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja indeks.
Berdasarkan Pengumuman BEI Nomor Peng-00208/BEI.POP/10-2026 tertanggal 29 Oktober 2026, IDX Commodity 20 mulai diluncurkan pada Jumat (30/10/2026), dengan komposisi konstituen awal berlaku hingga 26 Februari 2027.
Indeks tersebut dirancang untuk mengukur kinerja harga saham perusahaan berbasis komoditas yang memiliki kapitalisasi pasar tinggi serta likuiditas perdagangan yang baik.
Dalam penghitungannya, BEI menggunakan metode capped adjusted free float market capitalization weighted, yakni pembobotan berdasarkan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan saham beredar publik atau free float.
BEI juga menerapkan batas bobot maksimal 15 persen untuk setiap saham pada saat evaluasi guna mengurangi dominasi satu emiten dalam perhitungan indeks.
Daftar 20 Saham IDX Commodity 20 dan Bobotnya
Berikut daftar lengkap konstituen IDX Commodity 20 beserta bobot awal masing-masing saham:
Kode Saham | Nama Emiten | Bobot |
|---|---|---|
AMMN | Amman Mineral Internasional | 15,00% |
BRMS | Bumi Resources Minerals | 11,35% |
BRPT | Barito Pacific | 10,88% |
TPIA | Chandra Asri Pacific | 9,88% |
Merdeka Copper Gold | 7,86% | |
Bumi Resources | 6,99% | |
Aneka Tambang | 6,02% | |
Alamtri Resources Indonesia | 4,52% | |
Merdeka Battery Materials | 3,74% | |
PTRO | Petrosea | 3,36% |
ENRG | Energi Mega Persada | 3,28% |
AADI | Adaro Andalan Indonesia | 3,21% |
Vale Indonesia | 2,58% | |
Timah | 2,38% | |
DEWA | Darma Henwa | 2,11% |
ADMR | Alamtri Minerals Indonesia | 1,88% |
Medco Energi Internasional | 1,79% | |
ARCI | Archi Indonesia | 1,25% |
BIPI | Astrindo Nusantara Infrastruktur | 0,99% |
RAJA | Rukun Raharja | 0,91% |
Bobot berdasarkan komposisi awal indeks. Jumlah persentase dapat berbeda dari 100 persen akibat pembulatan.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai peluncuran IDX Commodity 20 memberikan acuan tambahan bagi investor untuk memantau kinerja perusahaan yang memiliki eksposur terhadap sektor pertambangan, energi, mineral, dan industri pengolahan.
Indeks tersebut juga dapat membantu investor mengidentifikasi saham yang berkaitan dengan perkembangan siklus harga komoditas global.
Namun, Nafan mengingatkan bahwa masuknya saham ke dalam indeks tidak otomatis menjamin kenaikan harga. Kinerja setiap emiten tetap dipengaruhi kondisi fundamental, profitabilitas, valuasi, dan prospek bisnisnya.
Dari keseluruhan konstituen, Nafan menilai ANTM, ADRO, AADI, MEDC, dan AMMN memiliki prospek yang menarik untuk dicermati.
ANTM dinilai memiliki keunggulan dari diversifikasi usaha pada komoditas emas, nikel, dan bauksit, termasuk peluang pertumbuhan melalui pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.
Sementara itu, ADRO dan AADI memiliki eksposur terhadap industri batu bara yang berpotensi menghasilkan arus kas dan dividen, meskipun tetap menghadapi risiko penurunan harga komoditas global.
Untuk MEDC, prospek bisnis berkaitan dengan perkembangan harga minyak dan gas bumi. Adapun AMMN memiliki potensi pertumbuhan dari produksi tembaga dan emas serta kebutuhan mineral dalam transisi energi.
Meski demikian, Nafan menekankan pentingnya mencermati kebutuhan belanja modal, efisiensi biaya, perkembangan produksi, dan struktur pendanaan sebelum menentukan keputusan investasi.
Empat Saham Kuasai 47,11 Persen Bobot Indeks
Selain memberikan acuan baru bagi investor, IDX Commodity 20 memiliki risiko konsentrasi karena hampir separuh bobotnya berasal dari empat saham terbesar.
AMMN memiliki bobot 15 persen, BRMS sebesar 11,35 persen, BRPT sebesar 10,88 persen, dan TPIA sebesar 9,88 persen.
Dengan komposisi tersebut, perubahan harga yang signifikan pada satu atau beberapa saham berbobot besar dapat memengaruhi kinerja indeks secara keseluruhan, meskipun konstituen lainnya mencatat pergerakan yang berbeda.
Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai konsentrasi tersebut perlu diperhatikan investor sebelum menggunakan IDX Commodity 20 sebagai acuan investasi.
"Tentu saja ada risiko konsentrasi yang cukup tinggi. Pergerakan IDX Commodity 20 akan sangat sensitif terhadap kinerja harga saham AMMN, BRMS, dan BRPT," ujar Hans, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, pengaruh saham dengan bobot besar terhadap pergerakan indeks menjadi salah satu konsekuensi penggunaan metode pembobotan berdasarkan kapitalisasi pasar.
Meski telah menerapkan batas bobot maksimal 15 persen per saham, IDX Commodity 20 tetap memiliki konsentrasi cukup tinggi pada sejumlah emiten terbesar.
Di luar konsentrasi saham, volatilitas harga komoditas global juga menjadi risiko yang perlu diperhitungkan.
Pergerakan harga batu bara, emas, nikel, tembaga, minyak, dan gas dapat memengaruhi pendapatan serta profitabilitas perusahaan yang menjadi konstituen indeks.
Hans menjelaskan bahwa dinamika harga komoditas dipengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia, perubahan pasokan, ketegangan geopolitik, perkembangan transisi energi, hingga arah kebijakan moneter global.
Selain itu, kebijakan pemerintah dapat memengaruhi prospek bisnis emiten komoditas, termasuk pembatasan ekspor bahan mentah, kewajiban pemenuhan kebutuhan domestik atau domestic market obligation (DMO), perubahan tarif royalti, serta insentif pengembangan energi hijau.
Karena itu, investor dinilai perlu melihat kondisi keuangan setiap emiten, termasuk struktur utang, arus kas operasional, efisiensi produksi, dan kemampuan menjalankan proyek pengembangan.
Hans menyarankan agar IDX Commodity 20 digunakan sebagai salah satu acuan diversifikasi portofolio, bukan satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi.
Adapun BEI akan melakukan evaluasi berkala terhadap indeks tersebut. Evaluasi mayor dijadwalkan pada Februari dan Agustus untuk menentukan kembali saham konstituen sekaligus menyesuaikan bobotnya.
Sementara itu, evaluasi minor dilaksanakan pada Mei dan November dengan fokus pada penyesuaian bobot indeks.
Dengan mekanisme tersebut, komposisi dan bobot IDX Commodity 20 dapat berubah mengikuti hasil evaluasi BEI, perkembangan kapitalisasi pasar, serta likuiditas saham yang memenuhi persyaratan.
Bagi investor, indeks baru ini dapat menjadi alat pemantauan kinerja saham berbasis komoditas. Namun, pemilihan saham tetap perlu mempertimbangkan fundamental perusahaan dan risiko konsentrasi agar keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada keanggotaan dalam indeks.

