Saham

Pita Cukai Canggih Track and Trace Disiapkan, WIIM Diprediksi Paling Kecipratan Cuan

Ringkasan Cepat

Pemerintah menyiapkan teknologi track and trace pada pita cukai untuk mempersempit peredaran rokok ilegal yang menekan volume industri rokok legal, dengan dampak berbeda bagi emiten di BEI. Analis menilai WIIM berpotensi paling diuntungkan secara proporsional karena portofolionya dekat dengan segmen harga konsumen rokok ilegal, sementara manfaat bagi HMSP dan GGRM lebih terbatas, di tengah lonjakan laba emiten rokok pada semester I/2026 yang lebih banyak ditopang efisiensi ketimbang pemulihan vo

8 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi penerapan teknologi track and trace pada pita cukai untuk menekan peredaran rokok ilegal dan dampaknya bagi emiten rokok

Ilustrasi penerapan teknologi track and trace pada pita cukai untuk menekan peredaran rokok ilegal dan dampaknya bagi emiten rokok (Foto:GGRM)

Emitenhub.com - Pemerintah menyiapkan teknologi track and trace pada pita cukai untuk mempersempit peredaran rokok ilegal yang selama ini menekan volume penjualan industri rokok legal.

Kebijakan tersebut berpotensi mengembalikan sebagian volume ke pasar resmi, dengan dampak yang berbeda bagi emiten rokok di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan teknologi tersebut akan terhubung dengan pita cukai baru yang memungkinkan asal-usul rokok ditelusuri hingga ke pabrik dan produksinya dipantau secara terpusat.

"[Pita] cukai enggak bisa dipalsukan lagi. Ada scan khusus lebih canggih dari barcode. Rokok bisa dicek pakai handphone dari mana asalnya," ujar Purbaya di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Teknologi itu telah diuji di Jawa Tengah dan pemerintah menargetkan pemasangan sekitar 100 mesin dalam enam bulan. Investasi awal akan ditanggung penyedia teknologi, sedangkan pemerintah membayar berdasarkan persentase tambahan penerimaan cukai hasil tembakau (CHT) yang diperoleh.

Langkah tersebut menjadi penting bagi industri karena tekanan volume masih membayangi kinerja emiten rokok, meski sejumlah perusahaan berhasil mencatat pertumbuhan laba pada semester I/2026.

Jika mencermati kinerja aktual emiten rokok pada semester I/2026, beberapa emiten memang mencatat lonjakan laba, tetapi pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya berasal dari pemulihan volume penjualan.

PT Gudang Garam Tbk (GGRM), misalnya, membukukan pendapatan Rp41,18 triliun pada semester I/2026, turun 7,2% secara tahunan dari Rp44,37 triliun. Namun, laba bersihnya justru melonjak 2.440,2% menjadi Rp3 triliun.

Berdasarkan riset MNC Sekuritas, lonjakan laba GGRM terutama ditopang perbaikan struktur biaya dan pemulihan margin. Laba kotor naik 58% menjadi Rp5,99 triliun, dengan gross profit margin meningkat dari 8,5% menjadi 14,5%.

Namun, permintaan inti masih dinilai rapuh, tecermin dari penurunan penjualan sigaret kretek mesin (SKM) sekitar 7,9% dan sigaret kretek tangan (SKT) sekitar 9,3%.

Kondisi serupa terlihat pada PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP).

Riset Phintraco Sekuritas memaparkan pendapatan HMSP mencapai Rp56,50 triliun pada semester I/2026, tumbuh 2,4% secara tahunan. Nilai tersebut setara sekitar 49% dari proyeksi pendapatan 2026 Phintraco Sekuritas sebesar Rp114 triliun.

Rokok konvensional masih menjadi sumber utama pendapatan HMSP. SKM menyumbang 61% atau Rp34,23 triliun, sedangkan SKT berkontribusi 29% atau Rp16,41 triliun.

Di sisi laba, HMSP membukukan laba bersih Rp4,19 triliun, melonjak 97,06% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan laba kotor 10% dan laba operasional 44%.

Namun, volume penjualan turun 1,3% secara tahunan. Penurunan paling tajam terjadi pada SKT yang merosot 13%, yang terutama dipengaruhi fenomena downtrading dan maraknya peredaran rokok ilegal.

Berbeda dengan dua pemain besar tersebut, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) menunjukkan pertumbuhan penjualan dan laba sekaligus. Penjualan WIIM mencapai Rp3,23 triliun pada semester I/2026, naik 12,3% dari Rp2,88 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.

Laba bersih WIIM bahkan melonjak 104,6% menjadi Rp303,32 miliar dari Rp148,28 miliar. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang segmen SKM dengan penjualan Rp2,15 triliun, meningkat dari Rp1,74 triliun pada semester I/2025.

Penjualan filter mencapai Rp676,55 miliar, sedangkan SKT menyumbang Rp391,53 miliar.

PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) juga mencatat perbaikan kinerja. Berdasarkan laporan keuangan interim per 30 Juni 2026, penjualan perseroan mencapai Rp162,62 miliar, naik sekitar 8,7% secara tahunan dari Rp149,65 miliar.

Laba bersih ITIC mencapai sekitar Rp9 miliar, tumbuh sekitar 16,1% dari Rp7,75 miliar pada semester I/2025.

Kinerja sejumlah emiten rokok tersebut menunjukkan persoalan utama industri masih berada pada kualitas pertumbuhan. Kenaikan laba dapat terjadi melalui efisiensi dan pemulihan margin ketika volume penjualan masih tertekan, sehingga keberhasilan track and trace menjadi penting apabila pemerintah ingin mengembalikan volume yang hilang akibat rokok ilegal.

Prospek Kebijakan Track and Trace

Analis Riset Sucor Sekuritas Giovanus Marcell Lie menilai teknologi track and trace efektif menyentuh pita cukai palsu, produksi berlebih di pabrik berizin, serta kesalahan personalisasi pita cukai. Adapun rokok polos yang diproduksi pabrik gelap tanpa izin tidak tersentuh langsung karena lokasi produksinya memang berada di luar sistem legal.

"Track dan trace ini menyerang sebagian, bukan seluruh masalah rokok ilegal," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (4/9/2026).

Kondisi tersebut membuat penindakan lapangan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) tetap menjadi faktor penting.

Sucor Sekuritas memperkirakan produksi rokok legal nasional pada 2025 mencapai 307,8 miliar batang, turun sekitar 3% secara tahunan dan menjadi level terendah dalam satu dekade. Dengan estimasi pangsa rokok ilegal sebesar 13,9% dari konsumsi, kolam rokok ilegal diperkirakan mencapai sekitar 43 miliar batang per tahun.

Dalam skenario konservatif, pengembalian 5% volume rokok ilegal ke jalur legal berpotensi menambah sekitar 2,1 miliar batang atau 0,7% terhadap volume industri legal. Pada skenario basis dengan recapture 10%, tambahan volume mencapai 4,3 miliar batang atau 1,4%.

Sementara itu, dalam skenario optimistis dengan recapture 25%, volume yang kembali ke pasar legal mencapai sekitar 10,7 miliar batang atau 3,5% dari volume industri legal.

Dampaknya terhadap emiten pun tidak seragam. Giovanus menilai PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) berpotensi memperoleh manfaat paling besar secara proporsional karena portofolionya lebih dekat dengan segmen harga yang menjadi pilihan konsumen rokok ilegal.

Rokok ilegal yang beredar diperkirakan dijual sekitar Rp10.000 hingga Rp13.000 per bungkus.

Konsumen pada rentang harga tersebut dinilai lebih mungkin beralih ke rokok legal tier 2 dan tier 3, seperti produk WIIM dan sejumlah produsen berharga lebih rendah, ketimbang langsung berpindah ke produk HMSP atau GGRM yang berada pada kisaran Rp30.000 hingga Rp45.000 per bungkus.

Perbedaan skala volume membuat dampaknya terhadap WIIM juga lebih besar secara persentase.

Proyeksi 2026 Sucor Sekuritas menempatkan volume HMSP di sekitar 79,6 miliar batang atau 26% pasar legal, sedangkan WIIM sekitar 3,4 miliar batang atau sekitar 1,1%.

Dengan demikian, tambahan volume yang sama secara absolut akan memberikan leverage lebih besar terhadap WIIM.

"Untuk HMSP dan GGRM manfaatnya tidak langsung tapi tetap nyata yakni sedikitnya rokok murah ilegal menaikkan lantai harga efektif, sehingga laju downtrading melambat," ujarnya.

Sucor Sekuritas memperkirakan kebijakan ini tidak akan mengerek laba HMSP secara material, tetapi untuk WIIM hal tersebut dapat terjadi dalam skenario agresif.

Tambahan laba bersih WIIM dapat mencapai 3,2% dalam skenario konservatif, 6,3% dalam skenario dasar, dan 15,8% dalam skenario optimistis.

Untuk HMSP, tambahan laba diperkirakan masing-masing sebesar 0,7%, 1,3%, dan 3,3%. Giovanus menilai tambahan tersebut masih relatif kecil terhadap skala laba HMSP, sehingga tidak cukup mengubah rekomendasi maupun target price.

"Kebijakan ini bukan pengubah tesis investasi sektor, hanya memperbaiki kualitas basis volume secara perlahan," kata Giovanus.

Sucor Sekuritas memberikan rekomendasi BUY untuk HMSP dengan target harga Rp875 dan WIIM dengan target harga Rp2.150.

Managing Research Director Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai track and trace berpotensi mempersempit peredaran rokok ilegal karena asal pita cukai dapat ditelusuri hingga ke pabrik. Namun, dampaknya akan sangat bergantung pada cakupan implementasi dan penegakan di lapangan.

Dalam skenario moderat, Harry memperkirakan sekitar 2% hingga 4% volume rokok ilegal dapat beralih ke pasar legal secara bertahap.

Ia menilai HMSP memiliki potensi manfaat besar karena skala pasar dan jaringan distribusinya, sementara WIIM juga berpeluang memperoleh manfaat karena portofolionya lebih dekat dengan konsumen rokok ilegal.

GGRM diperkirakan memperoleh manfaat yang lebih terbatas karena eksposurnya lebih besar pada segmen menengah. Pemulihan GGRM juga saat ini lebih banyak berkaitan dengan margin dan efisiensi dibandingkan peningkatan volume.

Sementara itu, dampak terhadap laba emiten rokok diperkirakan positif tetapi belum terlalu material. Harry menyebut jika volume penjualan legal bertambah sekitar 2-4%, laba emiten dapat meningkat sekitar 3-7%, bergantung pada bauran produk, harga jual, dan biaya cukai.

"Dampaknya kemungkinan baru terlihat bertahap setelah sistem diterapkan secara luas," terangnya.

Analis Equity PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari juga melihat kebijakan tersebut sebagai katalis positif bagi volume industri. Menurutnya, penelusuran produksi dan pita cukai secara real time hingga ke pabrik dapat mempersempit ruang peredaran rokok ilegal dan manipulasi produksi.

"Kebijakan ini menyerang salah satu masalah utama industri yakni volume leakage ke rokok ilegal. Tapi dampaknya tetap bergantung pada eksekusi dan seberapa efektif enforcementnya," terangnya.

Sejauh ini, ia melihat kebijakan ini berpotensi memberikan earnings upside bagi emiten rokok legal melalui pemulihan volume penjualan. Namun, belum tepat memberikan angka kontribusi laba karena efektivitas kebijakannya masih perlu dibuktikan. "Kami melihatnya sebagai upside terhadap forecast, bukan sebagai driver utama earnings," kata Brigita.

Brigita menilai HMSP menjadi emiten yang paling menarik, bukan karena teknologi ini otomatis menambah market share, melainkan karena skala dan posisi pasarnya yang kuat untuk menangkap pemulihan ekonomi ketika kompetisi dari produk ilegal berkurang.

GGRM juga dinilainya positif, tetapi pemulihannya saat ini lebih banyak ditopang margin dan efisiensi, bukan volume.

Ia memberikan rekomendasi BUY untuk HMSP dengan target harga Rp1.050 berdasarkan valuasi 15 kali pada proyeksi 2026 PE. Adapun untuk GGRM, Indo Premier Sekuritas memberikan rekomendasi BUY dengan target harga Rp18.700 berdasarkan valuasi 11 kali pada proyeksi 2026 PE, meski pemulihan emiten tersebut masih lebih banyak ditentukan oleh perbaikan margin dan efisiensi.

Ganjalan Struktural yang Belum Terselesaikan

Meski berpotensi mengembalikan sebagian volume ke pasar legal, track and trace belum mengubah persoalan struktural industri rokok. Daya beli dan downtrading masih menjadi faktor utama yang menentukan konsumsi, sementara potensi kenaikan cukai pada 2027 dapat kembali menekan volume legal.

Sucor Sekuritas juga menyoroti risiko kebijakan tersebut terhadap struktur cukai. Jika track and trace berhasil meningkatkan penerimaan CHT, alasan untuk mempertahankan tarif cukai dapat berkurang, sehingga ruang kenaikan cukai pada 2027 kembali terbuka.

"Jadi kebijakan positif untuk volume, tapi ambigu untuk daya pricing jangka menengah. Dan yang terpenting penggerak dominan sektor ini tetap daya beli dan downtrading, bukan pasokan ilegal," ujar Giovanus.

Senada, Samuel Sekuritas Indonesia menilai kebijakan ini merupakan katalis positif bagi sektor rokok, tetapi belum cukup untuk mengubah prospek struktural industri. Tekanan daya beli, tren downtrading, potensi kenaikan cukai pada tahun berikutnya, regulasi kesehatan, serta penurunan konsumsi tetap menjadi risiko utama.

Iklan