Emitenhub.com - PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), pengelola jaringan ritel Alfamidi, mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 19 persen menjadi Rp705,57 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Namun, kenaikan tersebut turut dipengaruhi efek basis perbandingan rendah setelah perseroan melepas bisnis Lawson pada Mei 2025.
Tanpa memperhitungkan kontribusi Lawson, pertumbuhan laba bersih MIDI secara underlying mencapai 11 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan laba bersih yang dilaporkan perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan hingga September 2026, laba bersih MIDI meningkat dari Rp590,72 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan turut naik 9,17 persen menjadi Rp16,67 triliun dari Rp15,27 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Dari sisi profitabilitas, laba usaha pada kuartal III-2026 tumbuh 10 persen secara tahunan. Peningkatan pendapatan menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut, meskipun marjin laba usaha relatif tidak berubah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kuartal III-2026 juga menjadi periode pertama dengan basis perbandingan tahunan yang tidak lagi terpengaruh oleh divestasi Lawson. Sebelumnya, bisnis tersebut mencatat kerugian pada paruh pertama 2025 sebelum dilepas oleh MIDI pada Mei tahun yang sama.
Perbaikan kinerja turut tercermin pada laba per saham dasar yang meningkat menjadi Rp21,10 dari Rp17,67 per saham pada periode Januari-September 2025.
Jaringan Alfamidi Capai 2.708 Gerai
Ekspansi jaringan ritel MIDI berlanjut hingga akhir September 2026 dengan total 2.708 gerai Alfamidi dan format ritel terkait.
Sebagian besar jaringan tersebut berasal dari 2.436 minimarket milik sendiri. Perseroan juga mengoperasikan 182 minimarket melalui skema waralaba.
Pada format supermarket, MIDI memiliki 86 gerai Alfamidi Super yang dikelola sendiri serta satu gerai waralaba. Sementara itu, jaringan toko buah Midi Fresh tercatat sebanyak tiga gerai.
Dari sisi posisi keuangan, total aset perseroan mencapai Rp9,5 triliun per 30 September 2026. Jumlah liabilitas tercatat sebesar Rp4,6 triliun, sedangkan ekuitas mencapai Rp4,85 triliun.


