Saham

Dana Asing Keluar dari Saham, SBN hingga SRBI, BI Waspadai Dampak MSCI

Ringkasan Cepat

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan tekanan arus modal asing keluar atau capital outflow mulai meluas dari pasar saham ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Perkembangan tersebut terjadi setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia pada 16 Oktober 2026. Yield SBN tenor 10 tahun meningkat 28 basis poin menjadi 7,44%. BI merespons dengan menjaga daya tarik instrumen rupiah.

• 3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi tekanan arus modal asing keluar dari pasar saham, SBN, dan SRBI Indonesia setelah konsultasi MSCI, dengan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun meningkat menjadi 7,44%.

Ilustrasi tekanan arus modal asing keluar dari pasar saham, SBN, dan SRBI Indonesia setelah konsultasi MSCI, dengan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun meningkat menjadi 7,44%.

Emitenhub.com - Tekanan jual investor asing di pasar keuangan Indonesia mulai meluas dari saham ke instrumen surat utang pemerintah dan sekuritas Bank Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat arus modal asing keluar atau capital outflow turut terjadi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) setelah muncul ketidakpastian terkait klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Hutapea mengungkapkan bahwa pergerakan dana asing mulai menunjukkan perubahan sejak Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 16 Oktober 2026.

Dalam keterangannya yang dikutip Minggu (25/10/2026), Erwin menyampaikan bahwa tekanan penjualan investor asing tidak lagi terbatas pada pasar ekuitas. Instrumen SBN dan SRBI juga mengalami arus keluar modal.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bank sentral karena berpotensi memengaruhi likuiditas rupiah dan stabilitas transaksi di pasar keuangan domestik.

BI merespons perkembangan tersebut melalui kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga ketersediaan likuiditas sekaligus mempertahankan daya tarik instrumen investasi berdenominasi rupiah.

Yield SBN Naik 28 Basis Poin, BI Sesuaikan Insentif DNDF

Tekanan di pasar obligasi tercermin dari kenaikan imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun.

Berdasarkan data Investing.com, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun meningkat dari 7,16 persen pada Senin (19/10/2026) menjadi 7,44 persen pada Kamis (22/10/2026).

Kenaikan sebesar 28 basis poin tersebut berlangsung di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap risiko perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.

Pergerakan imbal hasil tersebut juga mencerminkan penyesuaian harga obligasi di pasar sekunder. Secara umum, kenaikan yield bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi.

Untuk menjaga daya tarik aset rupiah, BI turut memperhatikan tingkat imbal hasil SRBI agar tetap kompetitif bagi pelaku pasar.

Erwin menyebut penyesuaian imbal hasil telah terjadi pada instrumen SBN, termasuk obligasi tenor 10 tahun yang kini berada di atas 7 persen.

Selain mempertahankan daya tarik instrumen rupiah, BI memperkuat fasilitas lindung nilai valuta asing melalui peningkatan insentif Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026, bank sentral menaikkan insentif atau diskon transaksi DNDF tenor enam bulan dari 25 persen menjadi 40 persen.

Sementara itu, insentif DNDF tenor 12 bulan ditingkatkan dari 30 persen menjadi 40 persen.

Penyesuaian tersebut ditujukan untuk meningkatkan daya tarik fasilitas lindung nilai bagi pelaku pasar yang memiliki kebutuhan transaksi valuta asing.

Fasilitas DNDF dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan keuangan, termasuk investasi portofolio dan pendanaan dari luar negeri.

Melalui pengelolaan likuiditas, daya tarik SRBI, serta peningkatan insentif lindung nilai, BI berupaya menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah tekanan arus modal asing yang meluas ke sejumlah instrumen investasi.

Iklan