Saham

Laba UNTR Anjlok 31% Jadi Rp7,9 Triliun, Tambang Emas Martabe Mulai Pulih

Ringkasan Cepat

PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat penurunan laba bersih sebesar 31% menjadi Rp7,9 triliun sepanjang Januari hingga September 2026. Pendapatan bersih turut melemah 10% menjadi Rp90,3 triliun, dipengaruhi penurunan penjualan alat berat, batu bara, dan emas. Penjualan setara emas merosot dari 178 ribu ons menjadi 54 ribu ons akibat penghentian sementara operasional tambang Martabe. Meski demikian, kinerja perseroan mulai menunjukkan pemulihan pada kuartal III/2026

• 3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi PT United Tractors Tbk (UNTR) terkait penurunan laba bersih 31% menjadi Rp7,9 triliun hingga September 2026 dan pemulihan operasional tambang emas Martabe.

Ilustrasi PT United Tractors Tbk (UNTR) terkait penurunan laba bersih 31% menjadi Rp7,9 triliun hingga September 2026 dan pemulihan operasional tambang emas Martabe.

Emitenhub.com - PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan penurunan laba bersih sebesar 31 persen menjadi Rp7,9 triliun sepanjang Januari hingga September 2026. Meski kinerja kumulatif masih tertekan, perseroan mulai mencatat pemulihan pada kuartal III/2026 seiring kembali beroperasinya tambang emas Martabe.

Penurunan laba terutama dipengaruhi berkurangnya penjualan emas PT Agincourt Resources setelah kegiatan operasional tambang sempat dihentikan sementara. Selain itu, sejumlah lini bisnis UNTR menghadapi tekanan akibat alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.

Secara keseluruhan, penjualan setara emas dari Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencapai 54 ribu ons hingga September 2026, turun dari 178 ribu ons pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan bersih UNTR juga menyusut 10 persen menjadi Rp90,3 triliun, dibandingkan Rp100,5 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2025.

Pelemahan pendapatan terutama berasal dari bisnis alat berat serta pertambangan batu bara termal dan metalurgi. Sementara itu, segmen kontraktor penambangan masih mencatat pertumbuhan pendapatan.

Penjualan Komatsu Turun 17 Persen, Bisnis Kontraktor Masih Tumbuh

Segmen alat berat UNTR membukukan pendapatan Rp23,6 triliun hingga September 2026, turun 19 persen secara tahunan.

Penjualan alat berat Komatsu berkurang 17 persen menjadi 3.026 unit. Penurunan lebih besar terjadi pada penjualan alat berat berukuran besar untuk sektor pertambangan yang merosot 48 persen menjadi 481 unit.

Di tengah pelemahan penjualan unit, pendapatan dari bisnis suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat masih meningkat 2 persen menjadi Rp8,5 triliun.

Sementara itu, segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi melalui PT Tuah Turangga Agung mencatat pendapatan sebesar Rp15,9 triliun, turun 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Volume penjualan batu bara segmen tersebut mencapai 7,1 juta ton, termasuk 2,1 juta ton batu bara metalurgi. Secara keseluruhan, volume penjualan turun 23 persen secara tahunan.

Berbeda dengan kedua segmen tersebut, bisnis kontraktor penambangan melalui PT Pamapersada Nusantara dan PT Kalimantan Prima Persada mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 11 persen menjadi Rp44,5 triliun.

Kenaikan pendapatan segmen ini terutama didukung penguatan dolar Amerika Serikat.

Meski pendapatan meningkat, volume pemindahan tanah tercatat turun 7 persen menjadi 766 juta bank cubic meter (bcm). Produksi batu bara untuk pelanggan juga berkurang 3 persen menjadi 106 juta ton.

Pendapatan Tambang Emas UNTR Merosot 53 Persen

Tekanan cukup besar terjadi pada segmen pertambangan emas dan mineral lainnya. Pendapatan bisnis tersebut turun 53 persen menjadi Rp4,9 triliun hingga September 2026.

Penurunan terutama disebabkan anjloknya penjualan emas sebesar 70 persen setelah penghentian sementara kegiatan operasional tambang Martabe.

Kembalinya aktivitas produksi tambang tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung pemulihan kinerja UNTR pada kuartal III/2026.

Dari bisnis nikel, PT Stargate Pacific Resources mencatat volume penjualan bijih nikel sebesar 1,157 juta wet metric ton (wmt) sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.

Selain perkembangan operasional, UNTR membukukan pos nonberulang atau non-recurring items sebesar Rp3,5 triliun hingga September 2026.

Pos tersebut terutama berkaitan dengan penurunan nilai investasi pada Supreme Geothermal Energy serta pembayaran atas kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) pada tambang nikel Stargate.

Iklan