Emitenhub.com - Setelah memahami apa itu right issue, langkah berikutnya adalah menghitung dampaknya secara pasti. Berapa saham baru yang terbit, berapa harga wajar saham setelah aksi ini, dan seberapa besar kepemilikan Anda menyusut bila tidak menebus. Artikel ini menjawab semuanya dengan rumus dan contoh angka.
Fokusnya murni pada praktik hitung. Untuk konsep dasar right issue, HMETD, dan pilihan yang tersedia, silakan baca lebih dulu artikel pilar Apa Itu Right Issue dan Dampaknya bagi Investor. Di bagian akhir tersedia kalkulator interaktif agar Anda bisa langsung memasukkan angka emiten yang Anda pegang.
Apa Itu Dilusi dan Kenapa Terjadi
Dilusi adalah penyusutan hak Anda atas perusahaan ketika jumlah saham yang beredar bertambah, sementara jumlah saham yang Anda pegang tetap. Right issue menerbitkan saham baru, sehingga total saham membesar dan setiap lembar mewakili potongan perusahaan yang lebih kecil dari sebelumnya.
Dilusi muncul dalam dua bentuk. Pertama, dilusi kepemilikan, yaitu porsi persentase Anda di perusahaan yang mengecil. Kedua, dilusi laba per saham, yaitu laba bersih yang kini dibagi ke lebih banyak lembar sehingga laba per saham turun. Keduanya bisa Anda hitung dengan pasti begitu rasio dan harga right issue diumumkan.
Contoh dilusi laba per saham memperjelas hal ini. Misalkan laba bersih Rp1,25 triliun dengan 10 miliar saham menghasilkan laba per saham Rp125. Setelah right issue menambah saham menjadi 12,5 miliar sementara labanya belum berubah, laba per saham turun menjadi Rp100, atau melemah 20 persen. Dilusi ini akan pulih hanya jika dana hasil right issue segera menghasilkan laba tambahan.
Rumus Menghitung Jumlah Saham Baru
Titik awal setiap perhitungan adalah rasio right issue. Rasio ditulis sebagai perbandingan saham lama terhadap saham baru. Rasio 4:1 berarti setiap 4 saham lama berhak menebus 1 saham baru.
Perhatikan arah penulisan rasio sebelum menghitung. Sebagian pengumuman menulis lama banding baru, sebagian membalik urutannya. Pastikan Anda tahu mana angka saham lama dan mana saham baru, karena salah membaca akan membalik seluruh hasil. Bila jumlah saham Anda tidak habis dibagi rasio, pecahan hak yang muncul ditangani sesuai ketentuan yang tercantum di prospektus.
Jumlah saham baru dihitung dengan rumus: jumlah saham lama dikali rasio saham baru dibagi rasio saham lama. Total saham setelah right issue adalah jumlah saham lama ditambah saham baru. Sementara dana yang dihimpun emiten adalah jumlah saham baru dikali harga pelaksanaan.
Contoh cepat (rasio 4:1) Saham lama: 10 miliar lembar. Harga pelaksanaan: Rp600. 1. Saham baru = 10 miliar x 1 / 4 = 2,5 miliar lembar. 2. Total saham = 10 miliar + 2,5 miliar = 12,5 miliar lembar. 3. Dana dihimpun = 2,5 miliar x Rp600 = Rp1,5 triliun. 4. Dilusi kepemilikan = 2,5 miliar / 12,5 miliar = 20 persen. |
Dilusi kepemilikan 20 persen itu berlaku bagi pemegang saham yang tidak menebus haknya. Bila Anda menebus penuh, porsi Anda tidak berubah karena Anda ikut menambah saham dalam proporsi yang sama.
Menghitung Harga Teoritis Setelah Right Issue (TERP)
Karena saham baru terbit dengan harga lebih murah, harga saham akan menyesuaikan turun pada ex date. Harga wajar setelah penyesuaian ini disebut TERP, singkatan dari Theoretical Ex-Rights Price, atau harga teoritis setelah right issue.
Rumusnya adalah total nilai saham lama ditambah total nilai saham baru, lalu dibagi total jumlah saham. Dalam bentuk per satuan rasio: (rasio lama dikali harga pasar) ditambah (rasio baru dikali harga pelaksanaan), dibagi jumlah rasio lama dan baru.
Menghitung TERP (rasio 4:1) Harga pasar (cum date): Rp1.000. Harga pelaksanaan: Rp600. TERP = (4 x Rp1.000 + 1 x Rp600) / (4 + 1) = Rp4.600 / 5 = Rp920. Nilai HMETD per hak = TERP - harga pelaksanaan = Rp920 - Rp600 = Rp320. |
TERP adalah harga acuan teoritis, bukan ramalan harga pasar. Setelah ex date, harga sesungguhnya bisa bergerak di atas atau di bawah TERP tergantung permintaan. Namun TERP tetap penting karena menjadi dasar menghitung nilai HMETD dan menilai apakah harga pasar setelahnya masih wajar.
Penurunan harga dari Rp1.000 ke Rp920, sebesar 8 persen, bukan kerugian. Nilai yang seolah hilang itu berpindah ke saham baru yang Anda tebus dengan harga murah, atau ke uang hasil penjualan HMETD. Hanya pemegang saham yang membiarkan haknya hangus yang benar-benar menanggung penurunan ini tanpa kompensasi.
Contoh Kasus Langkah demi Langkah
Satukan semua rumus dalam satu kasus. Anda memegang 4.000 lembar saham seharga Rp1.000, senilai Rp4.000.000. Emiten menggelar right issue rasio 4:1 dengan harga pelaksanaan Rp600.
Hitung Sendiri, Empat Langkah 1. Hak yang diterima. 4.000 / 4 = 1.000 HMETD, sehingga Anda bisa menebus 1.000 saham baru. 2. Harga teoritis (TERP). (4 x Rp1.000 + 1 x Rp600) / 5 = Rp920 per saham. 3. Nilai HMETD. Rp920 - Rp600 = Rp320 per hak, sehingga total hak Anda bernilai 1.000 x Rp320 = Rp320.000. 4. Dilusi bila tidak menebus. Porsi kepemilikan Anda menyusut 20 persen, dan laba per saham ikut turun sekitar 20 persen bila laba belum bertambah. |
Dengan empat angka ini, Anda sudah memegang seluruh informasi untuk memutuskan. Biaya menebus penuh adalah 1.000 dikali Rp600 = Rp600.000, dan sebagai gantinya Anda menerima 1.000 saham baru serta mempertahankan porsi kepemilikan.
Bila Anda memilih tidak menambah dana, hak senilai Rp320.000 itu tetap bisa Anda cairkan dengan menjualnya di bursa selama periode perdagangan HMETD. Uang itulah yang menjadi kompensasi atas dilusi 20 persen yang Anda alami. Angka-angka ini akan berbeda untuk setiap emiten, tergantung rasio, harga pasar, dan harga pelaksanaannya, dan di sinilah kalkulator interaktif memudahkan Anda.
Simulasi: Menebus vs Tidak Menebus
Bandingkan tiga skenario memakai kasus yang sama, yaitu 4.000 lembar dengan 1.000 HMETD. Kolom kekayaan bersih sudah memperhitungkan kas yang keluar untuk menebus atau kas yang masuk dari menjual hak:
Skenario | Kas keluar/masuk | Kekayaan bersih |
Menebus penuh | -Rp600.000 | Rp4.000.000 |
Jual seluruh HMETD | +Rp320.000 | Rp4.000.000 |
Diam, hak hangus | Rp0 | Rp3.680.000 |
Rincian menebus: Anda membayar Rp600.000, lalu memiliki 5.000 saham senilai 5.000 dikali Rp920 = Rp4.600.000. Setelah dikurangi kas yang dikeluarkan, kekayaan bersih Anda tetap Rp4.000.000 dan porsi kepemilikan utuh.
Rincian menjual hak: Anda menerima Rp320.000 tunai, sementara 4.000 saham lama Anda kini bernilai 4.000 dikali Rp920 = Rp3.680.000. Total menjadi Rp4.000.000, sama dengan modal awal, meski porsi kepemilikan Anda terdilusi 20 persen.
Rincian diam: Anda tidak menebus dan tidak menjual. Saham Anda tetap 4.000 lembar senilai Rp3.680.000, dan nilai HMETD Rp320.000 hilang begitu saja. Inilah satu-satunya skenario yang benar-benar merugikan Anda, dan alasan kenapa berdiam diri harus dihindari.
Aturan keputusannya sederhana. Bila Anda yakin pada prospek perusahaan dan punya dana, menebus mempertahankan porsi sekaligus menambah kepemilikan. Bila tidak ingin menambah modal, menjual HMETD mengunci nilai hak Anda. Yang penting, jangan pernah memilih diam, karena secara matematis itu selalu menyisakan kerugian sebesar nilai HMETD yang hangus.
Ringkasan Rumus 1. Saham baru = saham lama x (rasio baru / rasio lama). 2. TERP = (rasio lama x harga pasar + rasio baru x harga pelaksanaan) / (rasio lama + rasio baru). 3. Nilai HMETD = TERP - harga pelaksanaan. 4. Dilusi kepemilikan = saham baru / total saham setelah right issue. |
Menghitung dilusi dan TERP membebaskan Anda dari kepanikan saat emiten mengumumkan right issue, karena Anda tahu persis dampaknya dalam angka. Gunakan kalkulator di bawah untuk mencoba parameter emiten Anda sendiri. Untuk memahami konteks dan strategi di balik angka-angka ini, kembali ke pilar Apa Itu Right Issue dan Dampaknya bagi Investor.


