Nasional

Bensin dari Batu Bara: Proyek CTL Prabowo Dinilai Jauh Lebih Rumit dari DME

Ringkasan Cepat

Presiden Prabowo Subianto berencana memproduksi bensin dari batu bara lewat teknologi coal to liquid. Pushep menilai proyek ini jauh lebih kompleks ketimbang gasifikasi menjadi DME, baik dari sisi investasi maupun keekonomian. PTBA sendiri menargetkan groundbreaking hilirisasi DME dan SNG pada 2027.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Presiden Prabowo Subianto memaparkan rencana produksi bensin dari batu bara melalui teknologi coal to liquid

Presiden Prabowo Subianto memaparkan rencana produksi bensin dari batu bara melalui teknologi coal to liquid (Foto:IATA)

Emitenhub.com - Ambisi pemerintah menghadirkan bensin dari batu bara lewat teknologi coal to liquid (CTL) dinilai menyimpan tantangan teknis yang jauh melampaui proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME).

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar menilai teknologi CTL bukan barang baru dalam industri pertambangan.

Proses likuifaksi batu bara menjadi bahan bakar sintetis sudah lama dikembangkan pelaku energi global. Tingkat kerumitannya berada jauh di atas DME.

"Kalau dibandingkan dengan DME, proyek CTL memang jauh lebih kompleks," ujar Bisman saat dihubungi, Selasa (22/9/2026).

Menurut Bisman, tantangan terbesar CTL bertumpu pada besarnya nilai investasi sekaligus kelayakan keekonomian proyek.

Persoalan itu makin terasa karena hilirisasi batu bara menjadi DME di dalam negeri pun belum berjalan optimal.

"Proyek DME saja belum berjalan dengan baik, apalagi CTL yang tantangan investasi dan keekonomiannya jauh lebih besar. Namun, sebagai sebuah program dan rencana jangka panjang, langkah ini tetap bernilai positif," katanya.

Perbandingan CTL dan DME

Dalam skema CTL, batu bara harus melewati tahap gasifikasi menjadi synthetic gas (syngas) atau pencairan langsung. Hasilnya kemudian diolah melalui reaksi fischer-tropsch (FT) yang menuntut kondisi operasi ekstrem.

Jalur konversi batu bara ke DME jauh lebih ringkas. Syngas cukup diubah menjadi metanol sebelum melalui dehidrasi menjadi DME, bahkan bisa ditempuh dalam satu tahap reaksi terintegrasi.

"Kompleksitas CTL ini berdampak langsung pada skala investasi dan efisiensi energi secara keseluruhan. Pembangunan fasilitas CTL membutuhkan modal kapital yang sangat besar, konsumsi air yang jauh lebih tinggi, serta kontrol terhadap parameter suhu dan tekanan," jelas Bisman.

Teknologi coal-to-DME menawarkan integrasi termal yang lebih efisien dengan jejak karbon proses yang relatif lebih terkendali. Faktor itu menjadikannya opsi pemrosesan batu bara tingkat lanjut yang lebih unggul secara teknis maupun operasional.

Selisih kebutuhan bahan baku memperjelas perbedaan keduanya. Konversi ke DME memerlukan sekitar 2,5 hingga 3 ton batu bara untuk menghasilkan 1 ton DME.

CTL membutuhkan sekitar 4 hingga 5 ton batu bara untuk 1 ton produk minyak cair. Kisaran itu setara sekitar 4 hingga 5 barrel liquid fuel per ton batu bara pada efisiensi tinggi.

Rencana pemanfaatan batu bara sebagai bahan baku bensin sebelumnya diungkap langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam sambutan Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).

Menurut Prabowo, pengembangan bahan bakar dari sumber daya alam domestik menjadi bagian dari upaya pemerintah mewujudkan swasembada energi.

"Kita juga nanti akan membuat bensin dari batu bara," ujarnya.

Pernyataan tersebut menyusul paparan Prabowo soal bahan bakar berbasis kelapa sawit atau biodiesel yang telah berjalan hingga campuran 50% atau B50.

Indonesia disebut tidak lagi mengimpor solar sejak 1 Juli 2026. Capaian itu, menurut Prabowo, tidak lepas dari pengembangan bahan bakar berbasis kelapa sawit.

"Dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil membuat solar dari kelapa sawit. Dan sudah bisa membuat bensin dari kelapa sawit," katanya.

PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) lebih dulu mematok target groundbreaking dua proyek hilirisasi batu bara, yakni DME dan synthetic natural gas (SNG), pada 2027.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto menyebut kedua proyek itu telah masuk daftar proyek strategis nasional (PSN).

"Kedua proyek ini masuk dalam PSN dan sedang diorkestrasi oleh Danantara untuk melakukan joint FS [feasibility study] dari hulu ke hilir. Insyaallah dalam waktu tidak lama lagi targetnya tahun depan sudah mulai konstruksi," ujar Turino dalam Public Expose Live, Senin (7/9/2026).

Skema kerja sama dan pembiayaan proyek tersebut, kata Turino, melibatkan sinergi antarbadan usaha milik negara (BUMN).

Pertamina Group ditempatkan sebagai pembeli siaga atau standby offtaker. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) akan menyerap produk DME, sedangkan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN menampung hasil produksi SNG.

"Coal to SNG juga sedang dibahas oleh Danantara. Jadi, keduanya ada dalam orkestrasi dan karena terkait dengan permodalan dan juga offtaker-nya juga antara BUMN," ungkap Turino.

"Dua-duanya partner kita, offtaker-nya adalah Pertamina Group, jadi yang DME offtaker-nya adalah Patra Niaga, sedangkan yang SNG offtaker-nya adalah PGN," tambahnya.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati realisasi groundbreaking proyek DME dan SNG PTBA yang dijadwalkan mulai konstruksi pada 2027. Kepastian pendanaan lewat orkestrasi Danantara serta komitmen offtaker dari Pertamina Group menjadi titik yang diperhatikan investor. Adapun rencana CTL masih berada pada tataran jangka panjang.

Iklan