Emitenhub.com - Seorang investor yang sudah nyaman dengan reksadana sering menemukan istilah ETF dan bingung menempatkannya. ETF terdengar seperti reksadana, tapi dibeli lewat aplikasi saham. Harganya bergerak sepanjang hari seperti saham, tapi isinya sekumpulan efek seperti reksadana. Kebingungan ini wajar, karena ETF memang mengambil sifat dari keduanya.
ETF menjadi pilihan yang makin populer bagi investor yang ingin diversifikasi dengan biaya rendah dan keleluasaan jual beli kapan saja. Artikel ini menjelaskan apa itu ETF, cara kerjanya di bursa, perbedaannya dengan reksadana dan saham individual, kelebihan dan kekurangannya, serta cara membelinya di Bursa Efek Indonesia.
Apa Itu ETF
ETF adalah singkatan dari Exchange Traded Fund, yaitu reksadana yang diperdagangkan di bursa seperti saham. Satu unit ETF mewakili kepemilikan atas sekeranjang efek, umumnya saham yang menyusun sebuah indeks. Membeli satu unit ETF LQ45, misalnya, berarti memiliki sepotong kecil dari seluruh saham yang masuk indeks LQ45 sekaligus.
Cara paling mudah memahami ETF adalah melihatnya sebagai persilangan dua produk yang sudah dikenal. Dari reksadana, ETF mengambil sifat sebagai kumpulan banyak efek yang memberi diversifikasi otomatis dan dikelola manajer investasi. Dari saham, ETF mengambil sifat diperdagangkan di bursa dengan harga yang bergerak sepanjang jam perdagangan.

Sebagian besar ETF bersifat pasif, artinya portofolionya dirancang untuk meniru kinerja sebuah indeks acuan, bukan mengalahkannya. Manajer investasi ETF tidak sibuk memilih saham mana yang akan naik, tapi menyusun portofolio yang isinya sedekat mungkin dengan indeks yang diikuti. Pendekatan pasif ini membuat biaya pengelolaannya lebih rendah daripada reksadana yang dikelola aktif.
Cara Kerja ETF di Bursa
ETF diperdagangkan di bursa persis seperti saham. Investor membeli dan menjualnya lewat aplikasi sekuritas, dalam satuan lot, dengan harga yang bergerak mengikuti permintaan dan penawaran sepanjang jam bursa. Dana hasil penjualan cair dalam dua hari kerja, mengikuti siklus penyelesaian transaksi saham.
Satu hal membedakan harga ETF dari saham biasa. Karena ETF mewakili sekeranjang efek, nilainya punya acuan wajar yang disebut indicative Net Asset Value atau iNAV, yang dihitung terus-menerus dari harga efek di dalamnya. Harga pasar ETF bergerak di sekitar iNAV ini. Mekanisme khusus yang melibatkan dealer partisipan menjaga agar harga pasar tidak menyimpang jauh dari nilai wajarnya, sehingga investor membeli dan menjual pada harga yang mendekati nilai aset di dalamnya.
Investor ritel tidak perlu memahami mekanisme dealer partisipan secara mendalam. Yang perlu diketahui, investor cukup membeli ETF di pasar sekunder lewat sekuritas seperti membeli saham, dan iNAV yang ditampilkan membantu menilai apakah harga pasar sedang wajar sebelum bertransaksi.
ETF vs Reksadana
ETF dan reksadana sama-sama menawarkan sekeranjang efek yang terdiversifikasi dan dikelola profesional. Perbedaannya terletak pada cara membeli, waktu transaksi, dan struktur biaya, yang pada akhirnya menentukan mana yang lebih cocok untuk kebutuhan tertentu.
Reksadana dibeli lewat manajer investasi atau agen penjual, dan transaksinya diproses sekali sehari pada nilai aktiva bersih akhir hari. ETF dibeli lewat sekuritas di bursa, dan harganya bergerak real-time sehingga bisa dibeli atau dijual kapan saja selama jam perdagangan. Tabel berikut merangkum perbedaan keduanya:
Aspek | ETF | Reksadana |
Cara membeli | Lewat broker atau sekuritas di bursa | Lewat manajer investasi atau agen penjual |
Waktu transaksi | Real-time sepanjang jam bursa | Sekali sehari di harga penutupan |
Dasar harga | Harga pasar yang bergerak, dipandu iNAV | NAB per unit akhir hari |
Minimum beli | Umumnya 1 lot (100 unit) | Mulai puluhan ribu rupiah |
Biaya | Biaya pengelolaan rendah, plus komisi broker tiap transaksi | Biaya pengelolaan lebih tinggi untuk yang aktif, sering tanpa komisi beli |
Pengelolaan | Umumnya pasif, mengikuti indeks | Bisa aktif atau pasif |
Perbedaan biaya menyimpan nuansa penting. ETF memungut biaya pengelolaan yang rendah, tapi setiap transaksi beli dan jual dikenai komisi broker seperti saham. Reksadana sering bebas komisi beli, tapi biaya pengelolaannya lebih tinggi untuk yang dikelola aktif. Bagi investor yang menyetor rutin dalam nominal kecil, komisi broker ETF bisa menggerus hasil, sedangkan reksadana tanpa komisi beli lebih ramah untuk kebiasaan menabung berkala.
Sebuah contoh memperjelas pilihannya. Seorang investor yang menyetor Rp200.000 setiap bulan ke reksadana indeks tanpa komisi beli menyalurkan seluruh dananya ke investasi. Investor yang membeli ETF dengan nominal sama membayar komisi broker pada tiap pembelian, dan persentase komisi itu terasa besar pada nominal kecil. Sebaliknya, investor yang menempatkan dana besar sekaligus dan ingin menjualnya cepat saat dibutuhkan lebih diuntungkan oleh ETF yang bisa dijual kapan saja selama jam bursa dan biaya pengelolaannya rendah.
ETF vs Saham Individual
Perbandingan dengan saham individual memperjelas daya tarik ETF. Membeli satu saham berarti menaruh dana pada satu perusahaan, dengan nasib yang bergantung penuh pada kinerja emiten itu. Membeli satu ETF indeks berarti menaruh dana pada puluhan perusahaan sekaligus, sehingga penurunan satu emiten diredam oleh emiten lain dalam keranjang.
Perbedaan ini membawa konsekuensi pada kebutuhan analisis. Memilih saham individual menuntut analisis mendalam atas laporan keuangan, model bisnis, dan prospek tiap emiten. Membeli ETF indeks memangkas kebutuhan itu, karena investor tidak memilih saham satu per satu, tapi membeli keseluruhan indeks dalam satu transaksi. Bagi pemula yang belum percaya diri menganalisis emiten, ETF memberi jalan masuk ke pasar saham tanpa harus menjadi ahli lebih dulu.
Imbangnya ada pada potensi hasil. Saham individual yang dipilih tepat bisa memberi imbal hasil jauh di atas pasar, sesuatu yang tidak bisa diberikan ETF indeks karena kinerjanya terkunci pada rata-rata pasar. ETF menukar peluang hasil luar biasa dengan kestabilan dan kemudahan. Pertukaran ini masuk akal bagi investor yang mengutamakan diversifikasi dan tidak ingin mempertaruhkan terlalu banyak pada satu emiten.
Banyak investor memakai keduanya secara berdampingan. Mereka menaruh sebagian besar dana di ETF indeks sebagai fondasi yang stabil, lalu mengalokasikan porsi kecil ke beberapa saham individual yang mereka yakini untuk mengejar hasil lebih tinggi. Pembagian ini membiarkan fondasi portofolio tumbuh seiring pasar, sambil memberi ruang untuk taruhan terukur pada emiten pilihan.
Kelebihan dan Kekurangan ETF
Seperti setiap produk, ETF punya sisi kuat dan sisi lemah yang menentukan kapan ia masuk akal dipakai.
Kelebihan ETF:
● Biaya pengelolaan rendah karena sebagian besar bersifat pasif mengikuti indeks.
● Diversifikasi instan dalam satu transaksi, tanpa perlu membeli banyak saham satu per satu.
● Fleksibel, bisa dibeli dan dijual kapan saja selama jam bursa pada harga yang terlihat.
● Transparan, karena isi portofolio mengikuti indeks yang komposisinya diketahui publik.
Kekurangan ETF:
● Pilihan ETF di Bursa Efek Indonesia masih lebih terbatas dibanding ribuan produk reksadana.
● Sebagian ETF memiliki likuiditas tipis, dengan selisih harga beli dan jual yang lebar sehingga biaya transaksi tersembunyi meningkat.
● Komisi broker pada tiap transaksi membuatnya kurang efisien untuk menabung rutin bernominal kecil.
● Memerlukan akun saham di sekuritas, yang menambah satu langkah bagi investor yang terbiasa dengan aplikasi reksadana.
ETF paling masuk akal bagi investor yang sudah punya akun saham, percaya pada strategi pasif mengikuti indeks, menginginkan biaya pengelolaan rendah, dan menghargai keleluasaan jual beli real-time. Bagi investor yang menabung rutin dalam nominal kecil dan mengutamakan kesederhanaan, reksadana sering tetap lebih praktis.
Cara Membeli ETF di BEI
Membeli ETF mengikuti alur yang sama dengan membeli saham, karena keduanya diperdagangkan di bursa yang sama. Beberapa langkah berikut membantu memulainya.
● Buka rekening efek di perusahaan sekuritas yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan. Rekening ini sama dengan rekening untuk membeli saham.
● Cari kode ETF yang diincar lewat aplikasi sekuritas. ETF di Bursa Efek Indonesia memiliki kode yang diawali huruf R, misalnya yang mengikuti indeks LQ45 atau IDX30.
● Periksa iNAV dan likuiditasnya sebelum membeli. Bandingkan harga pasar dengan iNAV, dan perhatikan selisih harga beli dan jual agar tidak membayar terlalu mahal pada ETF yang sepi.
● Beli dalam satuan lot selama jam bursa. Satu lot setara 100 unit, dan pembelian diproses seperti transaksi saham biasa.
ETF melengkapi pilihan produk investasi di antara reksadana dan saham individual, dengan menggabungkan kemudahan diversifikasi, biaya pengelolaan yang rendah, dan keleluasaan perdagangan di bursa. Memahaminya membantu memilih produk yang paling pas dengan tujuan dan gaya investasi. Pelajari cara kerja reksadana untuk membandingkan pengelolaannya dengan ETF, dan tentukan produk mana yang paling sesuai dengan kebutuhan serta kebiasaan berinvestasi Anda.


