Emitenhub.com - PT United Tractors Tbk (UNTR) tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat bisnisnya. Perseroan menggarap proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PSEL) Legok Nangka, memperkuat fokus investasi mineral dan batu bara metalurgi, hingga mengoptimalkan bisnis geothermal. Pada saat yang sama, perseroan juga menantikan pemulihan sejumlah lini usaha pada semester kedua 2026.
Berbagai strategi tersebut disampaikan manajemen United Tractors dalam Public Expose Live 2026 yang digelar pada Senin, 7 September 2026. Dalam paparan tersebut, UNTR juga memaparkan perkembangan bisnis, kinerja keuangan semester pertama 2026, serta kinerja operasional hingga Juli 2026.
President Director PT United Tractors Tbk Iwan Hadiantoro menyampaikan UNTR terlibat dalam konsorsium pembangunan PSEL Legok Nangka melalui PT Energia Prima Nusantara.
Konsorsium tersebut dipimpin oleh Sumitomo Corporation. Sementara itu, Energia Prima Nusantara, yang merupakan anak usaha 100% milik United Tractors, memiliki kepemilikan sekitar 21%.
Iwan menjelaskan proyek tersebut merupakan proyek waste-to-energy atau pembangkit listrik yang menggunakan sampah sebagai bahan bakar.
Menurutnya, konsorsium telah menandatangani perjanjian definitif, termasuk power purchase agreement atau perjanjian jual beli listrik dengan PLN.
Konsorsium juga telah menandatangani perjanjian dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait pengumpulan sampah yang akan digunakan sebagai bahan bakar pembangkit. Perjanjian tersebut ditandatangani sekitar April atau Mei 2026.
Saat ini, konsorsium tengah membentuk organisasi proyek sekaligus menjalankan proses financial close. Proses tersebut dilakukan untuk memperoleh pinjaman bank yang akan digunakan dalam pembangunan proyek.
Konstruksi PSEL Legok Nangka diharapkan dapat dimulai pada 2027 dan selesai pada 2030. Pembangkit tersebut direncanakan memiliki kapasitas sekitar 40 megawatt. "Kami harapkan dari sisi performance akan cukup baik ke depannya," kata Iwan.
Ia menambahkan setiap investasi United Tractors memiliki sejumlah parameter minimum yang harus dipenuhi, salah satunya tingkat pengembalian investasi yang sesuai dengan kebijakan investasi United Tractors.
Di sisi lain, United Tractors mencatat penurunan nilai atau impairment investasi pada bisnis energi panas bumi.
Finance Director PT United Tractors Tbk Vilihati Surya menyampaikan impairment tersebut tercatat pada investasi Supreme Energy Rantau Dedap pada kuartal kedua 2026. Penurunan nilai tersebut masuk dalam pos non-recurring charges atau beban yang tidak bersifat berulang.
UNTR juga melakukan full impairment atas investasi geothermal tersebut bersama mitra Jepang yang turut berinvestasi di Supreme Energy Rantau Dedap. Adapun UNTR memiliki kepemilikan sekitar 40% di Supreme Energy Rantau Dedap.
Ke depan, UNTR tidak akan melakukan penambahan modal maupun shareholder loan untuk investasi tersebut. Namun, perseroan akan terus mengoptimalkan operasional bisnis geothermal.
"Kita terus melakukan optimisasi di dalam operasional bisnis geothermal di mana ke depannya mungkin saja bisa mencapai optimal kapasitas sekitar 90 megawatt, di mana saat ini masih di bawah 60%, yaitu sekitar 52 megawatt," ujar Vilihati.
Ia menambahkan strategi UNTR untuk bisnis geothermal akan tetap berfokus pada Supreme Energy Rantau Dedap tanpa tambahan modal maupun shareholder loan.
Langkah tersebut sejalan dengan kinerja keuangan UNTR pada semester pertama 2026. Perseroan membukukan pendapatan bersih Rp58,3 triliun, turun 15% dibandingkan Rp68,5 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Laba bersih yang tidak termasuk non-recurring items juga turun 48% menjadi Rp4,3 triliun. Sementara itu, laba bersih tercatat Rp956 miliar atau turun 88%.
Pada semester pertama 2026, UNTR mencatat non-recurring items sebesar Rp3,3 triliun. Pos tersebut terutama terdiri atas penurunan nilai investasi Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan untuk PPKH Tambang Nikel Stargate.
Fokus di Indonesia dan Australia
Selain bisnis energi, United Tractors masih melanjutkan strategi ekspansi melalui akuisisi dan pengembangan bisnis pertambangan.
Iwan menyampaikan fokus ekspansi pertambangan UNTR saat ini masih berada di Indonesia dan Australia.
Australia dipilih sebagai salah satu fokus karena memiliki ketersediaan sumber daya tambang yang besar, baik dari sisi jumlah maupun skala.
"Jadi kita masih memfokuskan usaha M&A kita untuk Australia dan belum ada rencana untuk pengembangan di negara Asia lainnya," ujar Iwan.
Terkait komposisi bisnis batu bara dan energi hijau, Iwan menyampaikan UNTR belum memiliki kebijakan tetap mengenai porsi masing-masing bisnis.
Namun, strategi investasi ke depan akan berfokus pada dua komoditas utama. Pertama, pertambangan mineral yang mencakup emas, nikel, dan base metal lainnya, termasuk tembaga. Kedua, batu bara metalurgi atau metallurgical coal.
Menurut Iwan, UNTR masih melihat prospek batu bara metalurgi cukup baik karena hingga saat ini belum terdapat substitusi untuk komoditas tersebut. Besaran investasi pada 2027 akan disesuaikan dengan kondisi keuangan perseroan dan peluang investasi yang tersedia.
UNTR juga mengharapkan bisnis baru yang akan diakuisisi memiliki skala yang cukup besar dan valuasi yang sesuai dengan kriteria investasi perseroan.
Tembaga Masuk Pertimbangan
United Tractors juga mempertimbangkan investasi di bisnis tembaga. Namun, hingga saat ini belum ada proyek tambang tembaga yang masuk dalam pipeline perseroan.
"Rencana ada, tetap tembaga merupakan salah satu komoditas yang kita pertimbangkan. Namun untuk saat ini belum ada project tembaga yang ada di pipeline United Tractors," kata Iwan.
Strategi diversifikasi tersebut berlangsung ketika bisnis mineral UNTR terus dikembangkan. Sampai semester pertama 2026, segmen pertambangan emas dan mineral lainnya mencatat pendapatan Rp2,4 triliun, turun 66%. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi turunnya penjualan emas sebesar 82%.
Hingga Juli 2026, total penjualan setara emas dari PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya tercatat 32 ribu ons. Pada periode sama tahun sebelumnya, penjualan mencapai 143 ribu ons.
Di bisnis nikel, PT Stargate Pasific Resources mencatat penjualan bijih nikel 973 ribu wet metric ton hingga Juli 2026. Penjualan tersebut terdiri atas 316 ribu wet metric ton saprolit dan 657 ribu wet metric ton limonit.
Tambang Emas Martabe Mulai Pulih
Iwan juga menyoroti pemulihan operasional Tambang Emas Martabe. Tambang tersebut telah kembali beroperasi sejak pertengahan atau akhir Mei 2026.
Namun, proses pemulihan masih berlangsung dan operasional belum kembali 100% seperti tahun sebelumnya. Perseroan masih mempersiapkan infrastruktur dan ketersediaan tenaga kerja secara bertahap.
Iwan mengakui kondisi United Tractors hingga akhir 2026 masih cukup menantang. Namun, UNTR mengharapkan kondisi pada semester kedua 2026 dapat berangsur membaik.
"Kalau tadi di semester satu 2026 ini kondisi kita cukup tertekan baik secara operasional maupun kita melakukan impairment. Nah, 2026 second half ini kondisi membaik," ujar Iwan.
Perbaikan tersebut diharapkan didorong oleh perkembangan bisnis pertambangan batu bara setelah revisi RKAB. UNTR juga mengharapkan perbaikan penjualan alat berat, bisnis mining contracting, serta bisnis tambang emas.
Pada semester pertama 2026, pendapatan segmen kontraktor penambangan justru naik 4% menjadi Rp27,2 triliun. Peningkatan tersebut terutama didorong penguatan kurs USD. Sementara itu, pendapatan segmen alat berat turun 28% menjadi Rp15 triliun, dengan penjualan alat berat Komatsu hingga Juli 2026 juga turun 23% menjadi 2.393 unit.
Di bisnis pertambangan batu bara termal dan metalurgi, pendapatan semester pertama 2026 turun 4% menjadi Rp12,9 triliun. Hingga Juli 2026, volume penjualan batu bara Turangga Resources mencapai 6,5 juta ton, termasuk 1,8 juta ton batu bara metalurgi. Volume tersebut turun 18% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Semester pertama 2026 menjadi periode yang berat bagi United Tractors, dengan laba bersih anjlok 88% akibat impairment geothermal Rp3,3 triliun dan tertekannya bisnis emas serta alat berat. Perseroan kini bertumpu pada perbaikan paruh kedua lewat revisi RKAB batu bara, pemulihan Tambang Emas Martabe, serta ekspansi ke mineral dan batu bara metalurgi yang difokuskan di Indonesia dan Australia. Sejauh mana strategi diversifikasi ini menopang kinerja akan bergantung pada pemulihan operasional yang masih berjalan bertahap serta disiplin perseroan menakar valuasi setiap peluang akuisisi.


