Emitenhub.com - Kekayaan bersih Low Tuck Kwong sekonyong-konyong melesat jauh meninggalkan Prajogo Pangestu, seiring meroketnya saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) pada Selasa (18/8/2026).
Rumor akuisisi BYAN oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam ditengarai menjadi katalis utama. Berdasarkan data BEI, saham BYAN ditutup melonjak 19,97% ke posisi Rp17.275 per saham pada akhir perdagangan Selasa (18/8/2026). Namun, pada Rabu (19/8/2026), saham BYAN berbalik melemah dan menjadi salah satu pemberat indeks, ditutup turun 9,41% ke Rp15.650.
Adapun hingga Kamis (20/8/2026) pukul 10:21 WIB, BYAN masih bergerak dalam tren bullish, ditransaksikan naik 1,12% ke level Rp15.825. Dalam sepekan terakhir, sahamnya membukukan return positif 31,87%, sedangkan dalam tiga bulan terakhir mencapai 38,21%.
Reli cepat saham BYAN ikut menerbangkan kekayaan bersih Low Tuck Kwong. Forbes Real Time Billionaires Index pada Kamis (20/8/2026) mencatat kekayaan bersih Low kini mencapai US$21,5 miliar, berjarak agak jauh dari Prajogo Pangestu yang tergeser ke posisi kedua dengan US$17,2 miliar.
Menurut catatan Bisnis, kekayaan bersih Low pada awal Agustus 2026 tercatat US$16,7 miliar. Keduanya kerap saling menyalip untuk menduduki peringkat pertama dan kedua sepanjang bulan ini. Dengan demikian, sepanjang Agustus 2026 berjalan, harta Low telah bertambah US$4,8 miliar.
Berbekal kekayaan bersih itu, Low bahkan berada di jalur puncak orang terkaya Asia Tenggara. Kini ia menempati posisi kedua setelah konglomerat Vietnam Pham Nhat Vuong yang mengantongi US$31,7 miliar.
Pham Nhat Vuong bertengger di peringkat 73 dunia dalam daftar tersebut, sedangkan Low Tuck Kwong menyusul di posisi ke-128. Kendati jarak peringkat global keduanya cukup jauh, di kawasan Asia Tenggara Low berada tepat di posisi kedua setelah konglomerat pemilik VinFast itu.
Dari negeri tetangga, Robert Kuok yang tercatat sebagai konglomerat paling sugih di Malaysia mengantongi US$13,1 miliar. Adapun Jason Chang, orang terkaya di Singapura, juga masih berada di bawah Low Tuck Kwong dengan kekayaan bersih US$19,4 miliar.
Sementara itu, Prajogo, yang kekayaan bersihnya sempat mengungguli Pham Nhat Vuong pada tahun lalu, kini duduk di posisi ke-162 dunia.
Posisi ketiga, keempat, dan kelima dalam daftar konglomerat teratas Indonesia tak banyak berubah. Ketiganya masih ditempati Robert Budi Hartono, Anthoni Salim, dan Tahir. Terkini, Budi Hartono mengantongi kekayaan US$16 miliar, disusul Anthoni Salim dengan US$10,9 miliar, dan Tahir dengan US$10,2 miliar.
Haji Isam dan Rumor Akuisisi yang Menggoyang BYAN
Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan lonjakan harga saham BYAN dipicu rumor akuisisi oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam sebagai katalis utama, dengan spekulasi pengambilalihan sekitar 62% saham BYAN oleh pihak terkait Jhonlin.
"Spekulasi aksi korporasi semakin kuat setelah JARR, perusahaan milik Haji Isam, menjadwalkan RUPSLB 21 September 2026, meski agenda resminya belum diumumkan," tulis BRI Danareksa Sekuritas, Selasa (18/8/2026).
Portofolio Bisnis Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam) — 2026
Perusahaan/Pemilik Saham | Emiten | Bidang Usaha | Porsi | Status |
|---|---|---|---|---|
PT Jhonlin Agro Raya Tbk | JARR | Sawit & Produk Usaha | 86,64% | Melalui PT Eshan Agro Sentosa |
PT Dana Brata Luhur Tbk | TEBE | Infrastruktur / Logistik Batu Bara | 76,91% | Melalui PT Dua Samudera Perkasa |
PT Pradiksi Gunatama Tbk | PGUN | Perkebunan Kelapa Sawit | 76,69%* | Melalui PT Araya Agro Lestari (38,44%) dan PT Citra Agro Raya (38,25%) |
PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk | PACK | Nikel | 21,11% | Kepemilikan Langsung |
PT Rans Entertainment Indonesia Tbk | RANS | Media & Entertainment | 1,40% | Kepemilikan Langsung |
BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan momentum teknikal ikut menguat, dengan BYAN breakout dari pola reversal dan MA200 disertai lonjakan volume, yang mengindikasikan peningkatan buying interest.
Kendati begitu, BRI Danareksa Sekuritas menilai investor perlu mencermati harga BYAN yang sudah melesat sekitar 42% dalam sepekan dan berada di area resistance Rp16.450-Rp17.670.
Sementara itu, manajemen BYAN telah buka suara terkait rumor tersebut. Corporate Secretary Bayan Resources Jenny Quantero menyampaikan manajemen perseroan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan maupun akuisisi saham sebagaimana dimaksud dalam informasi yang beredar di publik.
"Sampai dengan tanggal surat ini, perseroan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan atau akuisisi sekitar 62,2% saham Perseroan oleh Haji Isam atau pihak yang terafiliasi dengan Haji Isam," tulis manajemen BYAN dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/8/2026). Emiten milik konglomerat Low Tuck Kwong ini juga mengungkapkan pemegang saham pengendali dari waktu ke waktu membuka peluang untuk mempertimbangkan berbagai kesempatan demi memaksimalkan investasinya.


