Emitenhub.com - Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) yang bakal menaungi angkutan daring berbasis aplikasi atau ojek online (ojol) diperkirakan berdampak pada kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Pemerintah dan DPR telah merampungkan penyusunan beleid tersebut. Perpres ojol untuk angkutan orang akan diatur Kementerian Perhubungan, sedangkan tarif barang dan makanan diatur Komdigi.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menuturkan finalisasi Perpres itu melibatkan sejumlah kementerian terkait, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Perhubungan, serta Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
"Tarif barang dan makanan diatur oleh Komdigi, tarif angkutan orang oleh Kementerian Perhubungan, sedangkan pelaku transportasi daring ini akan diampu oleh Kementerian UMKM," kata Dasco, Selasa (18/8/2026).
Dasco menambahkan pihaknya masih akan menggelar satu pertemuan dengan kementerian terkait, serta satu pertemuan dengan organisasi pengemudi ojek daring dan perusahaan aplikator, sebelum Perpres diterbitkan.
"Kami minta semua pihak bersabar. Mari kita tunggu Perpres-nya, mudah-mudahan semuanya bisa berjalan dengan baik," ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Utama GOTO Hans Patuwo menyampaikan perseroan akan mengevaluasi sejumlah strategi untuk membenahi unit economics bisnis transportasi roda dua GoRide seusai penerapan kebijakan potongan 8%.
Ia menuturkan unit economics GoRide saat ini masih negatif setelah kebijakan tersebut diterapkan. Meski begitu, Hans menilai implementasinya sejauh ini berjalan lancar, dengan jumlah konsumen, pengemudi, dan transaksi yang tetap stabil.
Hans sebelumnya menyebut cukup sulit bagi perseroan berspekulasi soal apa yang bakal tercantum dalam produk final Perpres tersebut.
"Kami sedang berdiskusi dengan berbagai pihak di pemerintah dan sejumlah kementerian, dan tentunya kami berharap cakupannya tetap terbatas pada produk transportasi roda dua," kata Hans dalam earning calls GOTO beberapa waktu lalu.
Hans juga menjelaskan margin bisnis transportasi roda dua GoRide memang telah menyusut pada tahap awal ini. "Unit economics kami saat ini masih negatif dan kami masih menunggu situasi menjadi lebih stabil. Ke depannya, kami akan melakukan berbagai penyesuaian untuk meningkatkan unit economics," ujar Hans.
Ia melanjutkan GOTO memiliki beragam tuas yang bisa dimanfaatkan untuk itu, misalnya terkait harga serta komponen lain seperti biaya platform dan waktu penerapan tarif.
GOTO selanjutnya akan mengevaluasi berbagai cara untuk mengerek unit economics GoRide, termasuk menimbang peluang penghematan biaya di seluruh lini On Demand Service (ODS).
Bayang-Bayang Risiko terhadap Profitabilitas
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menyampaikan pengaturan tarif layanan pengantaran barang dan makanan berada di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), berbeda dengan tarif angkutan penumpang yang di bawah Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Karena itu, skema pembagian 92:8 yang berlaku pada layanan transportasi roda dua belum tentu diterapkan pada GoFood maupun GoSend.
"Tarif barang dan makanan diatur Komdigi, berbeda dengan Kemenhub yang mengatur tarif penumpang. Jadi, skema 92:8 belum tentu diterapkan sama ke GoFood dan GoSend," kata Wafi, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, bila pemerintah kelak menerapkan pembatasan potongan 8% secara flat untuk layanan makanan dan pengantaran barang, dampaknya terhadap GOTO akan lebih material. Wafi menilai pembatasan komisi pada layanan food delivery dan pengiriman barang berpotensi menekan profitabilitas GOTO dalam dua kuartal berturut-turut.
"Kalau komisi food dan delivery dibatasi, GOTO menghadapi pilihan untuk menyerap tekanan margin atau menaikkan biaya kepada merchant maupun konsumen yang berpotensi menekan volume," ujarnya.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyampaikan kondisi ini berbeda dengan sebelumnya, ketika GOTO memiliki keleluasaan menentukan tarif berdasarkan kondisi permintaan dan pasokan.
"Karena GOTO sebelumnya dapat menentukan tarif berdasarkan supply and demand. Hal ini mungkin akan menyulitkan GOTO untuk mendapatkan kesempatan margin yang lebih besar ke depannya," ucap Nico, Rabu (19/8/2026).
Menurut Nico, dampak kebijakan tersebut terhadap profitabilitas GOTO tetap perlu menunggu bagaimana formula tarif dan mekanisme pembatasan komisi nantinya diterapkan. Ia menilai pemangkasan komisi dari sebelumnya sekitar 20% menjadi 8% belum serta-merta menandakan besarnya tekanan yang akan diterima GOTO.
Sebab, berdasarkan masukan dari pengemudi, perubahan komisi itu bukan satu-satunya komponen yang menentukan pendapatan mereka, mengingat masih ada sejumlah beban biaya lain yang harus ditanggung.
Nico menuturkan bila GOTO tetap mampu mempertahankan pendapatan secara penuh kendati skema komisi berubah, tekanan terhadap profitabilitasnya bisa lebih terjaga.
Di sisi lain, Nico menilai prospek GOTO tak semata bergantung pada bisnis mobilitas dan layanan pesan-antar. Perseroan memiliki ekosistem yang lebih luas serta diversifikasi bisnis yang bisa menjadi penopang kinerja ketika salah satu lini menghadapi tekanan regulasi.
Ia menuturkan pertumbuhan finansial GOTO lewat GoPay juga terus menanjak, tercermin dari kenaikan total transaksi. Menurutnya, pertumbuhan itu menandakan ekosistem GOTO di luar bisnis ODS masih terus berkembang sekaligus berkontribusi terhadap kinerja perseroan.


