Emitenhub.com - Kinerja solid laba bersih mayoritas emiten IDX BUMN 20 pada semester I/2026 menjadi modal positif untuk memacu target setoran dividen pemerintah yang dipatok mencapai Rp200 triliun tahun ini.
Ke depan, performa fundamental itu diharapkan mampu mengerek laju harga saham konstituen IDX BUMN 20 pada sisa tahun ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga penutupan perdagangan Selasa (18/8/2026), indeks IDX BUMN 20 masih terkoreksi 17,04% secara year to date (YtD).
Kendati bertengger di zona merah, penurunan IDX BUMN 20 relatif lebih tipis ketimbang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan LQ45 yang masing-masing anjlok 25,41% dan 25,46% pada periode sama.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menyampaikan prospek laba emiten IDX BUMN 20 pada 2026 masih positif, sekalipun pertumbuhannya diperkirakan lebih moderat dan tidak merata antarsektor.
Menurut Rully, kinerja laba yang tetap tumbuh menjadi faktor penting untuk menopang target dividen pemerintah sekaligus menjaga ruang ekspansi perusahaan. Namun, basis laba BUMN pada 2025 yang mencapai Rp326 triliun membuat laju pertumbuhan setinggi itu sulit terulang pada 2026.
"Secara umum kami masih melihat prospek laba emiten IDX BUMN 20 pada 2026 positif, tetapi pertumbuhannya akan lebih moderat dan tidak merata antar-sektor," ujar Rully saat dihubungi Bisnis, Rabu (19/8/2026).
Ia menjelaskan dividen BUMN yang mencapai Rp142,3 triliun dibandingkan laba agregat Rp326 triliun pada 2025 setara dengan rasio pembayaran (payout ratio) sekitar 44%.
Karena itu, jika target dividen naik menjadi Rp200 triliun sementara laba agregat BUMN tak tumbuh signifikan dari level 2025, payout ratio secara matematis berpotensi terkerek ke sekitar 60%.
"Jadi, supaya payout ratio tidak meningkat maka laba BUMN secara agregat harus tumbuh mendekati Rp450 hingga Rp460 triliun," ucap Rully.
Menurutnya, kenaikan payout ratio masih bisa dikelola oleh BUMN yang mengantongi arus kas bebas kuat, leverage rendah, serta kebutuhan belanja modal yang relatif terbatas. Sebaliknya, bagi perusahaan padat modal, payout ratio yang agresif berisiko mempersempit ruang pendanaan internal.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memproyeksikan dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang disetor ke kas negara mencapai Rp200 triliun pada 2026. Jumlah itu naik dari posisi Rp142,3 triliun pada 2025. Target ini muncul setelah laba korporasi negara pada tahun lalu tumbuh 75,3% secara tahunan menjadi Rp326 triliun, dari Rp186 triliun pada 2024.
Hingga paruh pertama 2026, fundamental sejumlah perusahaan pelat merah memperlihatkan performa solid. Dari 14 emiten penghuni IDX BUMN 20 yang telah merilis kinerja keuangan, mayoritas atau sebanyak 13 perusahaan mencatatkan pertumbuhan laba bersih secara tahunan (year on year/YoY).
Sektor perbankan tetap menjadi penopang utama. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membukukan laba bersih Rp30,41 triliun atau tumbuh 24,36% YoY.
Berikutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan kenaikan laba 13,74% menjadi Rp15,49 triliun. Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan laba Rp10,76 triliun atau tumbuh 6,56% YoY.
Kinerja positif juga membayang pada sejumlah emiten nonbank. PT Elnusa Tbk (ELSA) mencatatkan laba bersih Rp434,71 miliar atau tumbuh 29,19%. Sementara itu, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) masing-masing membukukan pertumbuhan laba 45,85% dan 15,47%.
Sektor-Sektor yang Berpeluang Jadi Motor IDX BUMN 20
Sejumlah analis memandang kinerja saham-saham korporasi negara menyimpan ruang cukup besar untuk memimpin reli pemulihan pasar modal Indonesia pada semester II/2026.
Sebelumnya, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai indeks IDX BUMN 20 berpeluang mengungguli IHSG pada semester II/2026. Syarat utamanya, harga komoditas tetap tinggi serta evaluasi indeks MSCI pada November mendatang mampu memicu kembalinya arus dana asing ke saham-saham BUMN berkapitalisasi besar.
"Sektor pertambangan dan energi menjadi yang paling prospektif berkat sentimen war premium, DMO, dan program B50. Sektor lain yang menarik dicermati secara selektif meliputi perbankan serta infrastruktur," ujarnya.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menilai sektor paling prospektif untuk menopang kinerja IDX BUMN 20 adalah perbankan, logam dan mineral, energi, serta infrastruktur telekomunikasi.
Di sektor perbankan, Liza menempatkan BMRI sebagai saham pilihan utama berkat valuasi yang masih tergolong murah. Posisi itu ditopang solidnya pertumbuhan laba bersih serta penyaluran kredit perseroan.
Dari sektor logam dan mineral, saham ANTM dinilai cukup atraktif seiring sentimen kenaikan bobot saham di indeks, cerahnya prospek harga emas, serta kelanjutan hilirisasi nikel.
Adapun di sektor infrastruktur telekomunikasi, saham TLKM disebut layak dicermati sebagai saham defensif yang disokong arus kas kuat dan pembagian dividen yang relatif stabil.
"IDX BUMN 20 masih memiliki peluang untuk mengungguli IHSG pada semester II/2026, tetapi sifatnya cenderung selektif," ucap Liza kepada Bisnis.
Dihubungi terpisah, Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI Toto Pranoto menambahkan prospek kinerja emiten pelat merah pada semester II/2026 turut ditopang hasil dari program restrukturisasi korporasi BUMN.
Toto memandang emiten komoditas batu bara seperti PTBA dan ANTM memiliki prospek solid. Langkah hilirisasi pertambangan dinilai memberikan nilai tambah signifikan di tengah tren tinggi harga komoditas.
Di sisi lain, jajaran bank Himbara diproyeksikan tetap menjadi mesin penggerak utama kinerja kelompok perusahaan pelat merah, selama mampu menjaga konsistensi laju pertumbuhan kredit seperti pada paruh pertama.


