Morgan Stanley Bongkar Rahasia Emas: Bull Market 25 Tahun dan Rotasi Komoditas Besar-besaran 2026
Morgan Stanley menilai emas sejatinya telah berada dalam tren bullish selama 25 tahun dan menjadi bagian dari rotasi komoditas besar-besaran pada 2026, di tengah melemahnya efektivitas portofolio klasik 60/40. Namun, bank investasi itu mengingatkan harga emas kini sangat sensitif terhadap arah kebijakan The Fed dan arus dana ETF, sehingga target bullish US$5.200 per ons masih bergantung pada peluang penurunan suku bunga.
Ilustrasi pandangan Morgan Stanley soal emas dalam tren bullish 25 tahun dan rotasi komoditas besar-besaran pada 2026
Emitenhub.com - Morgan Stanley menilai harga emas sejatinya telah berada dalam tren pasar bullish sepanjang 25 tahun terakhir, sekaligus menjadi bagian dari rotasi besar-besaran menuju pasar komoditas.
Kepala Strategi Ekuitas AS sekaligus CIO Morgan Stanley Mike Wilson menyampaikan emas dan komoditas lainnya sangat cocok untuk kondisi pasar ketika portofolio 60/40 tak lagi memberikan kinerja dan keamanan seperti sebelumnya.
Portofolio 60/40 adalah strategi klasik yang membagi aset investor menjadi dua, yakni 60% di pasar saham untuk pertumbuhan dan 40% di pasar obligasi untuk stabilitas.
Dalam sebuah wawancara, Wilson menjelaskan hal yang sangat menantang bagi para pensiunan pada 2022 adalah turunnya harga saham dan obligasi secara bersamaan, sehingga tak ada instrumen lindung nilai.
"Sebagai seseorang yang menginvestasikan uang untuk masa pensiun atau sebagai investor jangka panjang, Anda benar-benar harus menghindari situasi di mana Anda 'terdepak' dari pasar," kata Wilson, dilansir Kitco, Senin (18/8/2026).
Ditanya soal cara investor memperkuat porsi defensif di tengah kondisi pasar dengan obligasi yang berkinerja buruk, Wilson menjelaskan kelas-kelas aset ini kini memiliki korelasi yang lebih erat. Alhasil, keduanya tak lagi memberikan manfaat diversifikasi alami seperti yang terjadi secara historis.
"Itu berarti Anda perlu melakukan langkah-langkah lain," katanya.
Wilson menyebut emas dan mungkin Bitcoin sebagai contoh aset yang dapat menjadi pelindung terhadap inflasi dalam kondisi pasar seperti ini.
Wilson kemudian ditanya apakah menurutnya emas bisa kembali mencatatkan kinerja fantastis seperti yang terjadi pada awal tahun ini.
Wilson pun menjelaskan emas sebenarnya telah berada dalam tren pasar bullish selama 25 tahun. Baru belakangan, tepatnya pada awal tahun ini, banyak orang mulai menyadarinya. Ia menyebut 2026 diwarnai satu rotasi komoditas besar-besaran.
"Perlu diingat bahwa pada akhir tahun lalu, The Fed mulai mencetak uang melalui program pengelolaan cadangan. Hal itu secara langsung memicu lonjakan harga saham perusahaan emas dan perak," jelasnya.
Setelah itu, tren beralih ke saham logam tanah jarang (rare earths) dan logam industri, disusul saham energi, hingga akhirnya semikonduktor.
"Nah, apa kesamaan dari semua itu? Semuanya adalah komoditas. Menurut saya, fenomena ini cukup menarik, dan mungkin itulah yang sebenarnya dilakukan para pelaku pasar: mereka mencari aset yang bukan saham konvensional tetapi memiliki karakteristik komoditas, guna mengimbangi risiko portofolio mereka yang selama ini didominasi oleh risiko ekuitas."
Harga Emas Masih Bergantung pada Arah Kebijakan The Fed
Pada 22 Juni 2026, para ahli strategi komoditas Morgan Stanley mengingatkan bahwa tanpa pemulihan signifikan pada arus masuk dana ETF, emas akan kesulitan menembus target harga bullish US$5.200 per ons pada paruh kedua 2026.
"Meskipun pembelian emas oleh bank sentral mungkin tetap berlanjut, arus dana ETF lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga," tulis analis Amy Gower dan Martijn Rats dalam catatan riset mereka saat itu.
Faktor yang masih kurang adalah permintaan ETF, yang kemungkinan besar tetap sensitif terhadap arah kebijakan The Fed, imbal hasil riil, dan nilai tukar dolar. Meski begitu, Morgan Stanley tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang logam mulia ini, sebab mereka memperkirakan meredanya ketegangan di Timur Tengah dan penurunan harga minyak akan membantu menurunkan ekspektasi inflasi.
Namun, para analis memperingatkan sikap hawkish Federal Reserve dalam pertemuan Juni justru mengangkat ekspektasi bahwa suku bunga mungkin bertahan tinggi lebih lama. Kondisi ini menaikkan biaya peluang dari kepemilikan aset yang tidak menghasilkan imbal hasil, seperti emas.
Pada 6 Mei 2026, Gower menyatakan ada momentum baru di pasar emas, sembari menegaskan kembali prediksinya bahwa harga emas akan menutup tahun di kisaran US$5.200 per ons. Ia menambahkan dirinya tidak terkejut melihat logam mulia itu kesulitan mencatatkan kinerja positif dalam beberapa bulan terakhir, kendati ada ketidakpastian geopolitik yang meningkat akibat konflik yang berlangsung di Iran.
"Mengingat konflik tersebut memicu guncangan pasokan energi yang meredupkan harapan akan penurunan suku bunga AS, tidak mengherankan jika emas kesulitan menjalankan perannya sebagai aset safe-haven kali ini," ujar Gower.
Sensitivitas emas terhadap kebijakan moneter telah menjadi faktor utama yang menggerakkan harganya. Kondisi ini justru mengaburkan statusnya sebagai aset safe-haven sekaligus menggerus efektivitasnya sebagai sarana lindung nilai terhadap risiko geopolitik maupun inflasi. Harga emas kini tak hanya mencerminkan dampak dari suatu peristiwa, tetapi juga respons kebijakan yang menyertainya.
Harga minyak yang tinggi, yang memicu tekanan inflasi, memaksa Federal Reserve meninjau ulang sikap kebijakannya yang cenderung melonggar. Akibatnya, pasar mulai tidak lagi memperhitungkan kemungkinan penurunan suku bunga tahun ini.
Kala itu, Morgan Stanley masih memprediksi setidaknya satu kali penurunan suku bunga tahun ini, yang bakal mendorong kenaikan harga emas.
"Emas kemungkinan akan tetap sensitif terhadap imbal hasil riil, namun kami melihat adanya potensi kenaikan lebih lanjut," kata Gower.
Pada Mei, Morgan Stanley memproyeksikan satu kali penurunan suku bunga pada Januari 2027, disusul satu kali penurunan lagi pada Maret 2027. "Hal ini seharusnya menguntungkan emas, mengingat keputusan pembelian ETF sangat sensitif terhadap sinyal kebijakan dan harga emas kini kembali bergerak selaras dengan suku bunga riil," ujarnya.
Gower menambahkan semakin lama konflik Iran berlangsung, kian besar pula risiko yang membayangi emas. "Harga emas bisa tertekan jika pasar mulai mengantisipasi kebijakan suku bunga yang dipertahankan tinggi dalam waktu lama atau bahkan kenaikan suku bunga," Gower memperingatkan.
Di sisi lain, potensi kenaikan harga dalam skenario penyelesaian konflik mungkin justru terbatas, sebab harga yang sudah tinggi dapat membatasi permintaan dari ETF, bank sentral, dan konsumen.
Artikel Terkait

Pidato Prabowo Buka Katalis Saham, Tapi Analis Ingatkan Jangan Terjebak Euforia RAPBN 2027

Laba Ternormalisasi XLSmart (EXCL) Meroket 4 Kali Lipat, Jaringan 5G Terbesar Bikin Analis Kepincut
