Saham

Rapor Semester I-2026 Emiten Bakrie Terbelah: BUMI Meledak 188%, UNSP Berbalik Rugi Rp264 Miliar

Emiten-emiten Grup Bakrie mencatatkan kinerja yang terbelah sepanjang semester I/2026, dengan BUMI melonjakkan laba bersih 188,4% dan ENRG serta DEWA turut tumbuh, sementara BRMS, VKTR, UNSP, dan ELTY tertekan bahkan berbalik rugi. Analis menilai grup ini mulai bertransformasi dari commodity play ke portofolio energi, infrastruktur, hingga kendaraan listrik, dengan ENRG-BUMI sebagai tulang punggung dan VKTR sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi kinerja terbelah emiten Grup Bakrie pada semester I-2026 dengan BUMI melonjak dan sejumlah emiten lain berbalik rugi

Ilustrasi kinerja terbelah emiten Grup Bakrie pada semester I-2026 dengan BUMI melonjak dan sejumlah emiten lain berbalik rugi (Foto:DEWA)

Emitenhub.com - Satu catatan angka sebelum lanjut. Di paragraf ketiga tertulis laba bersih BUMI "melonjak 188,4% dari US$20,41 juta". Padahal artikelmu yang sudah tayang sebelumnya (soal royalti batu bara) menyebut laba bersih entitas induk BUMI semester I/2026 sebesar US$58,9 juta dibandingkan pembanding yang berbeda. Angka pembanding US$20,41 juta di sini juga berbeda dari yang sempat muncul di artikel lain. Aku tampilkan persis seperti input di bawah, tapi sebaiknya kamu pastikan angka pembanding dan persentasenya konsisten dengan laporan keuangan aslinya.

Tujuh paragraf.

Sejumlah perusahaan di bawah sayap bisnis Grup Bakrie memperlihatkan kinerja yang beragam sepanjang semester I/2026. Sebagian emiten mencetak kenaikan pendapatan dan laba bersih, tetapi sebagian lain masih tertinggal pada paruh pertama tahun ini.

Sebut saja emiten batu bara kongsi Grup Bakrie dan Grup Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang menjadi salah satu penopang utama kinerja grup dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih signifikan. Berdasarkan laporan keuangan semester I/2026, pendapatan BUMI mencapai US$866,75 juta, naik 27,85% dibandingkan US$677,93 juta pada periode sama tahun lalu.

Pertumbuhan pendapatan itu turut mendorong laba bersih BUMI hingga US$58,85 juta. Capaian tersebut melonjak 188,4% dari US$20,41 juta pada semester I/2025.

Selain BUMI, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga membukukan pertumbuhan kinerja. Pendapatan ENRG naik 18,51% menjadi US$283,37 juta dari US$239,11 juta, sementara laba bersihnya tumbuh 26,62% menjadi US$45,23 juta dari US$35,73 juta.

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mencatatkan pertumbuhan laba yang jauh melampaui pertumbuhan pendapatannya. Pendapatan DEWA naik 3,13% menjadi Rp3,21 triliun, sedangkan laba bersih melonjak 89,01% menjadi Rp354,28 miliar dari Rp187,44 miliar.

Di sisi lain, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) justru menghadapi tekanan pada semester I/2026. Pendapatan BRMS turun 20,73% menjadi US$95,79 juta dari US$120,85 juta. Penurunan itu diikuti merosotnya laba bersih sebesar 43,74% menjadi US$12,92 juta dari US$22,97 juta.

Tekanan juga membayangi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR). Kendati pendapatannya tumbuh 56,18% menjadi Rp646,62 miliar dari Rp414,04 miliar, laba bersih perseroan justru merosot 76,23% menjadi hanya Rp1,13 miliar dari Rp4,73 miliar.

Saham

Pendapatan 1H 2026

Pendapatan 1H 2025

Perubahan

Laba Bersih 1H 2026

Laba Bersih 1H 2025

Perubahan

BRMS*

95.792.179

120.848.040

-20,73%

12.922.584

22.970.765

-43,74%

BUMI*

866.750.007

677.932.177

27,85%

58.850.797

20.406.300

188,40%

DEWA

3.206.116

3.108.825

3,13%

354.283

187.444

89,01%

ELTY

731.074

702.346

4,09%

-18.053

-7.883

-129,01%

ENRG*

283.374.006

239.110.202

18,51%

45.234.133

35.725.157

26,62%

UNSP

1.279.811

1.141.389

12,13%

-264.774

16.180

-1.736,43%

VKTR

646.623

414.036

56,18%

1.125

4.732

-76,23%

Sementara itu, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membukukan perbaikan pendapatan 12,13% menjadi Rp1,28 triliun. Namun, kenaikan itu belum mampu menopang profitabilitasnya. UNSP justru berbalik merugi Rp264,77 miliar pada semester I/2026, berkebalikan dengan laba Rp16,18 miliar pada semester I/2025.

Adapun PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) masih terperangkap di zona merah. Pendapatan perseroan naik 4,09% menjadi Rp731,07 miliar, tetapi rugi bersihnya justru membengkak menjadi Rp18,05 miliar dari Rp7,88 miliar pada semester I/2025.

Tulang Punggung dan Mesin Pertumbuhan Baru Grup Bakrie

Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menilai dari jajaran emiten Grup Bakrie, ENRG dan BUMI masih menjadi tulang punggung fundamental. DEWA berperan sebagai beneficiary dari aktivitas pertambangan, sementara VKTR menjadi kandidat mesin pertumbuhan baru yang paling menarik untuk jangka menengah. "BRMS memiliki potensi upside terbesar apabila pemulihan produksinya berjalan sesuai target," kata Edwin, Selasa (18/8/2026).

Ia melanjutkan Grup Bakrie kini tak lagi bisa dipandang semata sebagai commodity play. Portofolionya mulai bergerak ke kombinasi mining, oil & gas, infrastructure, EV, dan industrial technology.

Kendati begitu, pasar tetap perlu mencermati konsistensi eksekusi beberapa kuartal ke depan sebelum transformasi tersebut bisa disebut benar-benar berhasil.

Edwin menuturkan fundamental masing-masing emiten Grup Bakrie kini kian berbeda. Karena itu, investor sebaiknya menilai berdasarkan cash flow, volume produksi, margin, leverage, dan katalis operasional tiap perusahaan, bukan sekadar sentimen Grup Bakrie secara keseluruhan.

"Untuk saya pribadi, ENRG-BUMI merupakan kombinasi paling kuat untuk fundamental saat ini, sedangkan VKTR merupakan cerita pertumbuhan yang paling menarik untuk horizon lebih panjang," ucapnya. Adapun untuk BRMS, Edwin melihat jika produksi pulih cepat, kontribusinya terhadap pertumbuhan grup bisa jauh lebih besar daripada yang tercermin pada semester I/2026.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menjelaskan sepanjang semester I/2026 kinerja emiten Grup Bakrie cukup beragam, sehingga paruh kedua akan sangat bergantung pada perkembangan masing-masing sektor.

"Saya melihat bisnis energi dan sumber daya alam masih berpotensi menjadi salah satu growth engine, terutama jika harga komoditas dan permintaan tetap mendukung," tutur Elandry, Selasa (18/8/2026).

Ia menuturkan untuk semester II/2026, emiten seperti BUMI dan BRMS menarik dicermati dari sisi eksposur komoditas. Sementara itu, sektor infrastruktur dan properti berpeluang mendapat katalis dari belanja pemerintah dan perbaikan aktivitas ekonomi. Meski begitu, kinerjanya tetap akan sangat dipengaruhi harga komoditas, capital flow, serta kondisi likuiditas pasar.

Iklan