Pasar

Molinas Bikin Nikel RI Naik Kelas, Tapi Analis Bongkar Fakta: Cuma Serap 1% Produksi Nasional

Program motor listrik nasional (Molinas) dinilai berpotensi mendorong hilirisasi nikel Indonesia dari sekadar bahan baku menuju produk akhir seperti baterai dan kendaraan listrik, dengan potensi pasar yang ditaksir mencapai US$170 miliar. Namun, sejumlah analis mengingatkan Molinas belum cukup menjadi penggerak tunggal, karena konsumsi kendaraan listrik domestik diperkirakan hanya menyerap sekitar 0,5% hingga 1% dari total produksi nikel nasional.

7 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi program Molinas yang mendorong hilirisasi nikel ke produk baterai dan kendaraan listrik meski penyerapannya terhadap produksi nasional masih kecil

Ilustrasi program Molinas yang mendorong hilirisasi nikel ke produk baterai dan kendaraan listrik meski penyerapannya terhadap produksi nasional masih kecil

Emitenhub.com - Program motor listrik nasional (Molinas) berpotensi mengubah arah hilirisasi nikel Indonesia, dari sekadar pengolahan bahan baku menuju penciptaan produk akhir di dalam negeri. Pengembangan baterai dan kendaraan listrik, termasuk Molinas, membuka ruang bagi industri nasional untuk menangkap nilai tambah yang lebih besar dari sumber daya nikel.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menyebut pengembangan Molinas sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian industri Indonesia. Program ini digarap lewat kolaborasi antara pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), dan perusahaan nasional.

Menurutnya, Indonesia memiliki beragam bahan baku dan kemampuan teknologi yang dibutuhkan untuk membangun ekosistem motor listrik nasional. Salah satu komponen utama yang bakal didorong bersumber dari baterai berbasis nikel.

Rosan menyebut sekitar 46% cadangan nikel dunia berada di Indonesia. Potensi itu, kata dia, bisa dimanfaatkan lewat hilirisasi dari nikel menjadi sel baterai hingga battery pack, yang kemudian dipakai dalam produksi Molinas.

"Kita mempunyai teknologi, kita mempunyai kemampuan sehingga karya anak bangsa ini bisa berkembang, Molinas ini bisa terjangkau, berkualitas," ujarnya dalam agenda peluncuran Motor Listrik Nasional beserta ekosistem pendukungnya di Cikarang, Bekasi, belum lama ini.

Rosan juga memandang pasar kendaraan roda dua listrik di Indonesia menyimpan potensi pertumbuhan yang sangat besar. Saat ini terdapat sekitar 140 juta sepeda motor yang beroperasi di Indonesia, dengan penjualan baru mencapai sekitar 6-7 juta unit per tahun.

Namun, penjualan motor listrik masih berkisar 60.000-70.000 unit per tahun, atau sekitar 1% dari total pembelian sepeda motor. Kondisi ini dinilai memperlihatkan ruang pertumbuhan yang masih sangat lebar. Rosan bahkan memperkirakan ukuran pasar motor listrik bisa menyentuh sekitar US$170 miliar.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bhaktiar menyampaikan pengembangan Molinas berpotensi mengerek permintaan produk hilir berbasis nikel.

"Pengaruhnya bakal bagus, dengan program Molinas ini bisa mendorong peluang pasar domestik baru bagi baterai berbasis nikel. Apalagi jika volumenya besar akan lebih bagus karena bisa meningkatkan permintaan produk hilir berbasis nikel," kata Bisman kepada Bisnis, dikutip Selasa (18/8/2026). Menurutnya, kehadiran pasar domestik untuk kendaraan listrik bisa membawa pemanfaatan nikel di dalam negeri bergerak lebih jauh dari sekadar bahan baku dan produk antara. Nikel dapat diserap untuk produksi baterai hingga kendaraan yang dirakit di dalam negeri.

Bisman menilai kondisi tersebut akan melahirkan nilai tambah ekonomi yang jauh lebih besar ketimbang pengolahan nikel yang berhenti pada produk seperti nickel pig iron (NPI), feronikel, atau produk nikel antara lainnya.

"Ini sangat strategis karena menjadikan nikel nggak berhenti sebagai bahan baku atau produk antara, tetapi bisa masuk ke baterai dan kendaraan yang diproduksi di dalam negeri. Ini akan meningkatkan nilai tambah sangat besar," ujarnya.

Ia menjelaskan semakin dekat produk nikel dengan produk akhir, kian besar pula nilai ekonomi yang tercipta. Karena itu, Molinas berpotensi menjadi salah satu penggerak permintaan bagi produk hilir nikel di pasar domestik.

Di sisi lain, Managing Director Energy Shift Indonesia Putra Adhiguna menilai Molinas belum cukup menjadi satu-satunya penggerak hilirisasi, sebab dibutuhkan skala permintaan yang lebih besar. Putra menjelaskan dorongan pendalaman industri perlu datang dari sejumlah sektor lain, termasuk pemanfaatan baterai berbasis nikel untuk program PLTS 100 gigawatt yang dicanangkan pemerintah. Selain kendaraan listrik, pengembangan battery energy storage (BESS) juga dinilai mampu memperluas penyerapan produk turunan nikel.

Putra menilai kian dalam proses hilirisasi, kian besar pula nilai tambah yang dapat diraup Indonesia. Saat ini, rantai industri nikel nasional masih didominasi produk seperti nickel pig iron (NPI), feronikel, high pressure acid leach (HPAL), serta produk intermediate dasar lainnya.

"Kalau kita sebut saja skala 0 sampai 100 di dalam kedalaman hilirisasi, kita mungkin baru sampai level 20," ujarnya.

Meski begitu, Putra menyelipkan catatan atas besarnya kapasitas produksi nikel nasional. Menurut estimasi Energy Shift Indonesia, konsumsi nikel untuk kendaraan listrik domestik dalam 10 tahun ke depan tetap hanya menyerap sebagian kecil dari produksi nikel Indonesia.

Ia memperkirakan bila 100% mobil di Indonesia beralih ke mobil listrik dan sekitar separuhnya memakai baterai berbasis nikel, konsumsinya hanya setara sekitar 0,5% hingga 1% dari produksi nikel Indonesia. Estimasi itu memakai asumsi penjualan 500.000 mobil listrik per tahun, angka yang dinilai Putra sudah sangat agresif.

"Jadi poinnya adalah pendalaman industri penting, tetapi tidak menjadi pembenaran untuk ekspansi produksi nikel di hulu dan di dalam produksi hilirisasi dangkal," katanya.

Putra menilai pembahasan soal hilirisasi nikel perlu memisahkan upaya memperdalam industri dari ekspansi produksi. Pendalaman rantai industri tetap menjadi tujuan strategis, sedangkan peningkatan produksi nikel secara terus-menerus dinilai tak lagi berpijak pada penyerapan domestik.

Ia menambahkan kapasitas produksi dan smelter nikel Indonesia saat ini sudah jauh melampaui kemampuan industri domestik menyerap produknya. Kondisi ini membuat penambahan kapasitas produksi dasar berisiko kian melebarkan jurang antara pasokan dan permintaan.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Erwin Aksa menilai Molinas perlu diarahkan menjadi salah satu pasar bagi produk hasil hilirisasi nasional. "Dengan begitu, ukuran keberhasilan hilirisasi bukan lagi berapa banyak bijih nikel yang ditambang atau berapa banyak smelter yang dibangun, tetapi berapa besar nilai tambah sampai produk akhirnya yang bisa kita produksi sendiri," ujarnya.

Erwin memandang peluang perusahaan nasional untuk masuk ke rantai pasok Molinas sangat besar. Menurutnya, keterlibatan industri dalam negeri justru perlu menjadi salah satu tujuan utama program tersebut.

Pelaku usaha nasional, lanjutnya, bisa masuk ke beragam mata rantai, mulai dari pertambangan dan pengolahan nikel, nickel sulfate, precursor dan material katoda, hingga cell serta battery pack.

Ruang itu juga mencakup battery management system (BMS) dan berbagai komponen kendaraan seperti bodi, chassis, ban, kabel, kaca, interior, elektronik, hingga infrastruktur pengisian daya.

Kadin berpandangan pemerintah bersama produsen Molinas perlu menyusun peta jalan rantai pasok lokal. Pemetaan ini diperlukan untuk memilah komponen yang sudah mampu diproduksi industri nasional, yang masih butuh peningkatan kualitas, serta bagian yang memerlukan investasi dan transfer teknologi.

Menurut Erwin, kepastian volume pembelian atau offtake menjadi faktor kunci untuk memacu investasi industri nasional. Kepastian tersebut akan membuat perusahaan lebih berani membangun kapasitas produksi.

Tantangan Teknologi & Investasi Meski peluangnya besar, Erwin menilai perusahaan nasional masih menghadapi sejumlah kendala untuk masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik. Tantangan utamanya mencakup penguasaan teknologi, skala ekonomi, pembiayaan dan kepastian pasar. Indonesia saat ini memiliki keunggulan di sektor hulu karena sumber daya nikel yang besar. Namun, kebutuhan teknologi, intellectual property, kualitas produksi dan investasi meningkat seiring dengan pergerakan industri menuju precursor, cathode material, battery cell hingga BMS. Karena itu, sebagian teknologi kunci masih perlu diperoleh melalui kerja sama dengan pemain global. Di sisi lain, industri baterai membutuhkan investasi besar ketika pasar kendaraan listrik domestik masih berkembang. Tanpa kepastian offtaker, perusahaan nasional dinilai akan kesulitan mengambil keputusan investasi dalam skala besar. Persaingan teknologi baterai yang berkembang cepat juga menjadi tantangan tersendiri. Erwin menilai Indonesia tidak boleh berasumsi bahwa seluruh kendaraan listrik pada masa depan akan menggunakan baterai berbasis nikel. “Karena itu strategi Indonesia harus sekaligus membangun keunggulan biaya, teknologi, sustainability dan akses pasar,” ujarnya. Persoalan pembiayaan dan pengembangan pemasok lokal juga perlu mendapat perhatian. Perusahaan nasional, khususnya perusahaan menengah, membutuhkan akses pembiayaan investasi, insentif riset dan pengembangan, fasilitas pengujian dan sertifikasi, serta kemitraan dengan produsen besar. Erwin menegaskan Molinas perlu dimanfaatkan lebih jauh sebagai instrumen industrialisasi nasional. Program tersebut dinilai dapat menciptakan keterhubungan dari pengolahan nikel hingga produksi kendaraan dan komponennya di dalam negeri.

Ganjalan Teknologi dan Investasi di Balik Ambisi Molinas

Kendati peluangnya besar, Erwin menilai perusahaan nasional masih menghadapi sejumlah ganjalan untuk masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik. Tantangan utamanya mencakup penguasaan teknologi, skala ekonomi, pembiayaan, dan kepastian pasar.

Indonesia saat ini unggul di sektor hulu berkat sumber daya nikel yang melimpah. Namun, kebutuhan teknologi, intellectual property, kualitas produksi, dan investasi meningkat seiring pergerakan industri menuju precursor, cathode material, battery cell, hingga BMS. Karena itu, sebagian teknologi kunci masih perlu diperoleh lewat kerja sama dengan pemain global.

Di sisi lain, industri baterai menuntut investasi besar ketika pasar kendaraan listrik domestik masih dalam tahap berkembang. Tanpa kepastian offtaker, perusahaan nasional dinilai bakal kesulitan mengambil keputusan investasi berskala besar.

Persaingan teknologi baterai yang bergerak cepat juga menjadi tantangan tersendiri. Erwin mengingatkan Indonesia tak boleh berasumsi seluruh kendaraan listrik pada masa depan akan memakai baterai berbasis nikel. "Karena itu strategi Indonesia harus sekaligus membangun keunggulan biaya, teknologi, sustainability dan akses pasar," ujarnya.

Persoalan pembiayaan dan pengembangan pemasok lokal turut perlu perhatian. Perusahaan nasional, khususnya kelas menengah, membutuhkan akses pembiayaan investasi, insentif riset dan pengembangan, fasilitas pengujian dan sertifikasi, serta kemitraan dengan produsen besar.

Erwin menegaskan Molinas perlu dimanfaatkan lebih jauh sebagai instrumen industrialisasi nasional. Program tersebut dinilai mampu menautkan mata rantai dari pengolahan nikel hingga produksi kendaraan dan komponennya di dalam negeri.

Produksi Nikel Indonesia 2016-2025

Tahun

Produksi Nikel (Ton)

Pertumbuhan YoY

2016

199.000

-

2017

345.000

73,37%

2018

606.000

75,65%

2019

853.000

40,76%

2020

771.000

-9,61%

2021

1.040.000

34,89%

2022

1.580.000

51,92%

2023

2.030.000

28,48%

2024

2.310.000

13,79%

2025*

2.600.000

12,55%

Iklan